Kelahiran wanita-wanita alpha di era informasi ini adalah suatu keniscayaan. Begitu banyak wanita tangguh yang sangat sukses akhirnya mampu menduduki kursi kepemimpinan di berbagai bidang kehidupan. Hal ini bahkan sudah terlihat sejak anak-anak usia sekolah. Riset dari Missouri University tahun 2000-2010 menunjukkan bahwa anak perempuan mengungguli laki-laki 70% dalam hal membaca, matematika dan sains. Ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju, bahkan negara-negara dengan tingkat kesetaraan gender yang rendah pun mengalami hal yang serupa.
Masalah muncul pada saat mereka mulai berkeluarga. Walaupun sebagai suami-istri mereka sama-sama mulai dari 0, namun tidak jarang para wanita perkasa ini akhirnya mengungguli suaminya dalam hal pendapatan. Suatu hal yang sebenarnya lumrah bahkan sebenarnya dapat dipandang sebagai hal yang baik, namun seringkali justru menjadi pencetus konflik rumah tangga. Tidak jarang pertikaian ini berujung kepada perceraian.
Baca juga: 5 Tips Hidup Damai untuk Alpha Wife dan Suaminya
Artikel ini mencoba membedah problem dengan gaji istri yang lebih besar sehingga kita bisa mencegah konflik-konflik rumah tangga yang tidak seharusnya terjadi dalam rumah tangga tersebut.
Problem dengan Gaji Istri Lebih Tinggi
1. Perebutan kekuasaan dalam keluarga
Problem besar pada saat seorang istri memiliki penghasilan lebih besar daripada suaminya adalah power struggle, atau konflik mengenai kekuasaan dalam keluarga. Dalam sebuah keluarga tradisional, suami-ayah merupakan kepala keluarga. Ini adalah tipikal norma umum yang diterima di Indonesia, dan khususnya dalam agama Kristen maupun Islam. Dan ini biasanya berjalan dengan baik ketika suami menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Tetapi ini menjadi masalah ketika pencari nafkah utama bergeser kepada istri karena penghasilan istri yang lebih besar.
Ada suatu hukum yang tidak tertulis bahwa “siapa yang memiliki uang, dialah yang pegang kendali”. Karena istri lebih punya uang, maka tanpa disadari, kekuasaan istri menjadi lebih besar dan menantang kepemimpinan sang suami. Inilah yang terjadi dalam konflik-konflik power struggle. Misalnya: Istri ingin pulang kampung saat libur Natal. Suami merasa uangnya pas-pasan akan memilih tetap tinggal di rumah. “Kita harus berhemat” kata suami. Tetapi istri bisa mengatakan, “Saya ingin ketemu Mama. Pakai uangku ini kok, bukan uang kamu”, dan karena istri memang punya kemampuan finansial tersebut, ia akhirnya bisa pulang ketemu ibunya dan mengabaikan pendapat suaminya.
Sebenarnya jika kasusnya dibalik, istri yang minta hemat dan suami yang ingin pulang kampung, kejadiannya akan serupa pula bukan? Tetapi karena kepemimpinan pria adalah hal yang secara umum diterima dalam keluarga, sang istri pun relatif lebih menerima daripada jika yang terjadi sebaliknya. Kebanyakan suami sulit menerima apabila otoritasnya ditentang oleh pasangannya yang lebih memiliki kuasa karena punya uang.
Contoh liburan tadi baru merupakan contoh sederhana dengan masalah yang tidak terlalu signifikan. Tetapi hal ini sering terjadi dengan hal-hal yang lebih krusial dan penting. Perbedaan pendapat antara suami dan istri menjadi dimenangkan oleh istri karena ia yang memiliki uang. Bisa karena sang istri yang memveto, namun tidak jarang karena suami yang sudah tahu diri menahan dirinya untuk berdebat.
Tapi konflik-konflik seperti ini tidak terjadi dalam pasangan-pasangan yang saling menghargai pendapat pasangannya. Pasangan-pasangan yang walaupun keluarga yang tradisional, tapi selalu melibatkan pasangannya dalam pengambilan keputusan. Keputusan jadi keputusan bersama, bukan tergantung kepada siapa yang pegang kuasa.
2. Pengurusan Rumah Tangga dan Anak
Sebenarnya konflik pengurusan rumah tangga dan anak tidak harus karena gaji istri lebih tinggi. Begitu istri masuk dunia kerja, tidak jarang rumah jadi tidak terurus. Dan kalau rumah masih efektif menggunakan ART, anak tidak semudah itu diasuh oleh suster/pengasuh anak. Orang tua jaman sekarang menyadari pentingnya kehadiran orang tua dalam diri anak sehingga banyak ibu-ibu yang pulang kantor masih mengurusi ulangan anak-anaknya.
Sama-sama bekerja, tapi kalau si ayah emoh ngurusin anak, seorang istri jadi punya double job. Bekerja untuk nafkah keluarga, dan juga mengurus rumah dan anak-anak. Tidak heran banyak istri kelelahan. Istri-istri yang punya penghasilan lebih tinggi akan lebih mudah merasa tidak adil dan menuntut pasangannya mengerjakan tugas rumah tangga yang setara dengannya. Kalau suami menganut paham egalitarian (kesetaraan), hal ini tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi dalam rumah tangga tradisional yang cenderung patriaki, ini bisa menjadi masalah besar.
3. Siklus Overperformer vs Underperformer
Dalam psikologi keluarga, dikenal istilah overperformer vs underperformer. Yaitu kondisi di mana seseorang merasa dirinya melakukan yang lebih banyak (overperformer) , tetapi pasangannya justru melakukan di bawah standar (underperformer). Istri yang unggul merasa dirinya bekerja lebih banyak dan lebih keras, ditambah lagi dengan harus mengurus rumah dan anak, tetapi suaminya santai dan kurang berjuang untuk menafkahi keluarga.
Yang menjadi masalah di sini ada 2: (1) Cara istri komplain kepada suaminya dan (2) Istri tidak terima dengan suami yang tidak setekun dirinya.
Pertama, boleh-boleh saja kita ingin komplain dengan sikap santai suami, tetapi tidak bisa dengan cara yang menyakiti hati suami. Bukankah kita kepada orang lain kita tidak mengkritik dengan merendahkan dirinya? Bahkan kepada anak-anak kita pun kita menyadari bahwa amarah dan penghinaan kepada anak justru akan membuat anak menjadi terpuruk dan kinerjanya juga akan semakin buruk. Itulah juga yang akan terjadi kepada suami jika kita mengkritiknya dengan cara yang buruk.
“Kamu sih pemalas!”
“Pikir dong gimana caranya maju!”
“Main game aja terus! Bagus yah!”
Ini adalah cara-cara agresif yang justru membuat suami semakin underperformed. Karena suami semakin underperformed, istri akan merasa semakin lebih tinggi daripada suami (overperformed) dan siklusnya akan semakin memburuk.
Kedua, standar suami dan standar istri tentu tidaklah selalu sama. Seseorang yang terbiasa makan steak atau sushi tentu memiliki standar makanan yang berbeda dengan seseorang yang makanan sehari-harinya adalah nasi dan telor ceplok. Seseorang yang memiliki orang tua yang berkecukupan dan selalu suportif bisa memiliki standar keberhasilan yang berbeda dengan pasangannya yang orang tuanya terbiasa menerima bantuan dari saudaranya yang lain. Bagi yang kedua mungkin bisa mempertahankan pekerjaan saja sudah bagus, sedangkan bagi yang pertama standarnya adalah bisa mencapai kursi Direktur. Mereka bisa setuju untuk meningkatkan ambisi dan target, tapi kemungkinan tetap tidaklah pernah bisa memuaskan yang terbiasa memiliki target yang tinggi.
Seseorang bisa terbiasa bekerja dengan sistematis dan terstruktur sedangkan pasangannya mungkin terbiasa impulsif dan mengerjakan hal apa yang ada di depan matanya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri dan tidak selalu berarti yang kedua itu malas. Mereka mengembangkan keahlian yang sesuai dengan karakter dan kondisi kehidupan mereka dari lahir hingga dewasa. Kecuali jika sang suami memang tidak mau bekerja, tidak mengerjakan hal-hal yang mendasar yang memang sudah sepantasnya dilakukan oleh seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab, atau anti-perencanaan, ini baru merupakan masalah.
Jadi coba cek kembali apakah suami benar-benar tidak mengerjakan tugas-tugasnya, ataukah hanya cara mengerjakan yang berbeda? Apakah tidak punya motivasi, ataukah hanya sekedar punya standar yang berbeda? Dalam hal ini percakapan mendalam seputar prinsip hidup, masa kecil dan mimpi-mimpi perlu dilakukan.
Mencegah dan Mengatasi Konflik Rumah Tangga Akibat Gaji Istri Lebih Tinggi
Maka 5 hal ini bisa membantu mengatasi ketiga problem dengan gaji istri lebih tinggi di atas:
1. Suami perlu belajar untuk menunjukkan kasih sayang kepada istrinya
Sumber masalah dari ketidakpuasan istri yang memiliki gaji lebih tinggi seringkali bukanlah suami yang malas atau inkompeten, tapi biasanya bermula dari perasaan hampa karena istri merasa tidak dikasihi suami.
Maka tunjukkanlah kasih sayang sesuai bahasa kasih sang istri (Anda dapat membaca artikel berikut ini: Mengapa Penting Untuk Mengetahui Bahasa Kasih Pasangan Anda?). Jangan secara robotik asal memberi, tapi sungguh-sungguh memperhatikan dan menunjukkan bahwa Anda peduli dengan apa yang terjadi dengan istri Anda. Juga bahwa Anda selalu memikirkan yang terbaik untuk istri Anda. Perlakukanlah dia seperti seorang princess.
Mungkin suami akan berkata “saya sibuk!”, “saya juga kerja!”. Akan tetapi dalam keluarga-keluarga di mana istri menjadi primary breadwinner, alias penghasilan istri lebih tinggi, hal ini tidak bisa ditawar-tawar sama sekali. Suami harus meluangkan waktu dan sungguh-sungguh memperhatikan dan mengasihi istrinya. Karena jika istri tidak butuh uang dari suami, dan suami tidak bisa memberikan dukungan emosional, apa lagi gunanya seorang suami?
2. Mendengar dan menerima pendapat pasangan
Konsep berbagi kekuasaan dalam manajemen keluarga sebenarnya sederhana: mendengar pendapat dan mendiskusikan setiap keputusan besar bersama pasangan. Bahwa setiap keputusan yang diambil merupakan hasil diskusi dan kesepakatan bersama, bukan salah seorang saja, baik suami maupun istri. Ini bukan berarti suami turun tahta sebagai kepala keluarga, bukan juga harus berarti suami-istri sepakat menjadi keluarga dengan paham egaliter (setara). Ini hanyalah berarti bahwa suami telah menjadi seorang suami yang bijaksana, seorang pemimpin yang baik.
3. Saling menghargai dan memuji pasangan
Istri yang sudah berjerih lelah untuk mencari nafkah dan juga harus turut membantu mengurus pekerjaan rumah tangga harus diacungi jempol dan diberi penghargaan yang layak. Tapi demikian juga suami. Fokus pada apa yang dilakukan pasangan, bukan apa yang tidak dilakukan pasangan. Menghargai hal-hal kecil yang dilakukan pasangan akan mematahkan siklus overperformer vs underperformer.
Pasangan mungkin memang tidak melakukan seperti standar kita, tetapi hargailah apa yang dilakukannya dengan baik. Alihkan diri kita dari upaya terus mengkritik dan menyampaikan kesalahan, dengan menyebutkan dengan detail hal-hal apa yang menjadi kekuatan pasangan kita. Bukan “Kenapa sih kamu nonton TV terus?”, tetapi “Kamu tuh hebat loh, gak suka ngomel kalau bos kamu suruh kamu lembur”. Carilah kualitas lain yang suami miliki alih-alih hanya menyebutkan kelemahannya dalam mencari nafkah.
4. Manajemen keuangan keluarga bersama
Problem istri yang memiliki gaji yang lebih besar seringkali muncul karena manajemen keuangan yang terpisah antara suami dan istri. Uang suami adalah uang suami, uang istri adalah uang istri. Karena masing-masing mengendalikan keuangan masing-masing, keduanya seringkali jadi tidak transparan dengan penghasilan dan jumlah simpanan mereka masing-masing. Di sinilah uang jadi punya kuasa yang besar untuk memutuskan sesuatu.
Berbeda jika manajemen keuangan keluarga bersama. Penghasilan dari sumber mana pun akan diakui sebagai penghasilan bersama dan dialokasikan berdasarkan keputusan bersama. Tidak ada uangku atau uangmu, ini adalah uang keluarga kita bersama. Tidak ada yang memutuskan sesuatu hanya karena ia mampu membayarnya, tetapi semua diputuskan berdasarkan kebutuhan dan keinginan bersama.
Untuk bisa mewujudkan hal ini, dibutuhkan transparansi dan integritas dari kedua pihak, serta keyakinan bahwa pasangan kita akan selalu memikirkan hal yang terbaik untuk kita bersama, bukan hanya untuk dirinya sendiri.
5. Suami: berjuanglah untuk istri Anda!
Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarga. Maka jika istri berjuang 100%, suami harus berjuang 110%. Itulah makna seorang pemimpin. Bukan karena ego, apalagi karena dimarahi istri, tetapi karena kita mencintai istri kita. Maka hargailah upaya dan kerja kerasnya dengan turut berjuang keras untuk istri tercinta. Karena tidak selalu hasilnya yang penting, tapi usahanya.
Akhir kata, jadikanlah penghasilan istri yang lebih menjadi berkat bagi keluarga, bukan menjadi kutuk.
Marriage counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
