Banyak orang bertanya-tanya sejauh apa batasan yang sehat untuk hubungan dengan lawan jenis. Karena jelas, begitu banyak hubungan yang kandas akibat perselingkuhan, dan perselingkuhan memang banyak terjadi karena tidak menjaga batasan-batasan dengan lawan jenis. Kalau batasannya terlalu rendah, ternyata banyak orang tetap terjatuh dalam perselingkuhan, tetapi kalau terlalu tinggi, sebagian merasa terlalu dikekang dan tidak punya kehidupan pribadi.
Berbekal pengalaman mengkonseling lebih dari 2.000 pasangan, saya menemukan pola bahwa perselingkuhan kerap berawal dari pelanggaran terhadap batasan-batasan sederhana. Dalam artikel ini, kita akan membahas batasan tersebut ke dalam dua kategori utama: batasan dalam komunikasi (bercakap-cakap) dan batasan dalam interaksi fisik. Selain itu, kita juga akan meninjau batasan tersebut berdasarkan dengan siapa interaksi itu dilakukan.”
Baca juga: Hati-hati! Bosan dengan Aktivitas Sehari-hari, Bisa Berakhir dengan Perceraian
Batasan dalam Komunikasi
Di era globalisasi di mana pria dan wanita adalah sejajar, tidaklah terelakkan untuk bertemu dan berkomunikasi dengan lawan jenis. Namun bagi orang yang sudah punya pasangan, tentu harus ada batasannya. Beberapa perilaku yang bisa mengarah kepada perselingkuhan dalam komunikasi adalah:
- Flirting: menggombal, merayu lawan jenis. Pujian-pujian yang sifatnya fisik seperti “Orang yang cantik kaya kamu, …”
- Menggunakan istilah-istilah intim seperti: sayang, honey, beb, atau “B”.
- Percakapan-percakapan intens. Khususnya dalam chatting, pagi – siang – malam terus chattingan. Walaupun konteksnya pekerjaan, tetapi kalau percakapannya begitu intens, rasa dekat dan nyaman bisa timbul, lama-lama jadi suka dan kalau berbalas, terjadilah hal yang tidak diinginkan.
- Membicarakan hal-hal pribadi, seperti: mengungkapkan perasaan terdalam (curhat), cerita mengenai suami/istri, atau membanding-bandingkan pasangan satu sama lain. “Istrimu gitu, kalau aku gini”, lalu dibalas “suamimu gitu ya, kalau aku gini”. Menceritakan hal-hal mengenai keluarga yang tidak banyak orang tahu. Lama-lama menjadi inside jokes atau informasi yang hanya “kita berdua” yang tahu. Perasaan spesial menjadi muncul.
- Memberikan perhatian lewat kata-kata. Misalnya dalam mengirim pesan: “Sudah makan belum?”, “Selamat pagi ganteng”. Termasuk juga DM atau memberikan komentar-komentar di sosial media.
- Telepon berjam-jam membicarakan bukan hanya kerjaan, tapi juga berbagai hal lain di luar kerjaan. apalagi kalau berteleponnya dilakukan malam hari di atas jam istirahat.
- Video Call. Di era komunikasi digital saat ini, orang umumnya enggan melakukan video call kecuali untuk hal yang sangat penting atau jika sudah memiliki kedekatan emosional. Bahkan dalam Zoom meeting profesional sekalipun, banyak orang memilih mematikan kamera jika pembahasan cukup dilakukan melalui suara. Oleh karena itu, melakukan video call secara personal dengan lawan jenis di luar kebutuhan mendesak dapat menciptakan suasana intim yang melampaui batasan wajar.
- Bercanda jorok. Niatnya bercanda tapi candaannya adalah candaan yang jorok, melibatkan alat kelamin atau perilaku seksual. Hal ini bisa diartikan bahwa yang bersangkutan bisa diajak melakukan tindakan asusila. Dan kalau yang mendengarnya punya sifat player dalam dirinya, perselingkuhan bisa terjadi.
Oleh karena itu, hindarilah hal-hal tersebut. Jika memang situasi mendesak mengharuskan Anda untuk chatting secara intens atau bertelepon di atas jam 10 malam, sampaikanlah kepada pasangan secara transparan mengenai alasan dan tujuannya.
Pembicaraan di luar urusan pekerjaan dengan rekan kerja memang kadang tidak terelakkan dalam kehidupan sosial. Tentu tidak mungkin membatasinya secara kaku, karena sebagai makhluk sosial, basa-basi dan perhatian kecil adalah hal yang wajar. Namun, pastikan perhatian tersebut tetap secukupnya, tidak berlebihan, dan tidak berkembang menjadi persahabatan lintas gender yang terlalu dekat.
Tim peneliti dari Universitas Wisconsin-Eau Claire melakukan penelitian yg dipublikasikan pada tahun 2012 terhadap 88 pasang sahabat yang merupakan sahabat berbeda gender dan hasilnya mengejutkan. Ternyata walau banyak orang berpikir bahwa pria dan wanita bisa bersahabat tanpa terlibat cinta, kenyataan berkata lain. Persahabatan, hubungan yang akrab dan dekat ternyata akan membawa setidaknya satu dari kedua individu tersebut jatuh cinta.
Batasan Interaksi Fisik
Interaksi fisik dengan lawan jenis juga perlu dibatasi. Pada dasarnya, sentuhan fisik sebaiknya dihindari, terutama kontak langsung kulit ke kulit (di luar bentuk kesopanan umum seperti bersalaman). Dalam konsep 5 Bahasa Cinta, sentuhan fisik merupakan salah satu bentuk utama dalam mengekspresikan kasih sayang dan perhatian. Oleh karena itu, ketika sentuhan fisik terjadi, ikatan emosional dan rasa dekat secara alami akan cenderung terbangun.
Jika kita ingin menunjukkan dukungan kepada rekan atau kerabat yang berduka, kita dapat menunjukkannya dengan sekedar tepukan di pundak atau di lengan.
Yang sering terjadi adalah sentuhan fisik yang terjadi secara tidak sengaja karena kondisi situasi, seperti saat berolahraga atau acara team building. EO atau perusahaan yang peka terhadap etika ini biasanya akan membatasi jenis permainan dan interaksi lintas gender, sehingga kontak fisik yang terjadi tetap minimal dan berada dalam koridor profesional.
Di samping membatasi kontak fisik, menjaga jarak ruang fisik (personal space) dalam berkomunikasi dengan lawan jenis juga merupakan hal yang esensial. Secara alamiah, interaksi dengan orang luar dilakukan di luar radius panjang rentangan lengan kita. Oleh karena itu, bersama lawan jenis, mempertahankan jarak di luar radius lengan adalah batas ideal yang perlu dijaga.
Kecuali terdapat keperluan khusus (seperti menyampaikan pesan secara berbisik) atau terkendala area yang terbatas, interaksi dalam jarak yang terlalu dekat hendaknya diminimalkan. Selama kondisi masih dapat dikendalikan, usahakan untuk tidak membiarkan interaksi jarak dekat berlangsung terlalu lama.
Bagaimana dengan naik mobil berdua? Carpooling, bepergian bersama karena satu tujuan memang lumrah dilakukan. Terutama dalam kaitan dengan pekerjaan. Informasi secara transparan ke mana, kapan dengan siapa ke pasangan menjadi penting. Isi percakapan di sepanjang perjalanan juga perlu dibatasi di permukaan saja, tidak perlu terlalu dalam.
Ramah itu baik, tapi ramah ke lawan jenis dengan menawarkan tumpangan, bisa malah menjadi awal bencana besar dalam rumah tangga.
Interaksi dengan Siapa?
Perselingkuhan seringkali tidak pandang bulu, bisa kena ke siapa saja dan selingkuhnya bisa siapa saja. Seringkali kita bisa menjaga batasan fisik dan komunikasi dengan orang-orang lain, tapi kita jadi lengah dengan komunitas aman kita.
Kalau teman kerja, partner bisnis, ART, sekretaris, karyawan, biasanya sudah jelas perlu menerapkan batasan-batasan tadi. Tetapi yang sering luput adalah ipar, keluarga besar pasangan, seperti adik/kakak, sepupu, sahabat pasangan dan juga teman sepelayanan (gereja/vihara/sosial keagamaan lainnya) dan rohaniawan.
Kita semua rentan tanpa kecuali, pendeta pun sama. Sehingga menjaga batasan itu tetap penting walaupun masuk ke kategori “orang aman” kita.
Akhirnya, yang terpenting adalah pola perilakunya. Kalau kita lakukan sesekali, terutama jika batasan-batasan tersebut dilanggar karena memang diperlukan dalam situasi dan kondisi khusus, biasanya tidak akan menjadi masalah. Tapi kalau itu menjadi pola yang terus dilakukan, hati-hati ini menjadi cikal bakal perselingkuhan.
Satu hal lagi yang paling penting, tidaklah ada pernikahan yang bisa sukses tanpa keterbukaan dan kejujuran. Definisi psikologi untuk perselingkuhan adalah hubungan dekat dengan lawan jenis lain yang disembunyikan. Maka membuka diri untuk transparan bukanlah melanggar privasi pribadi, tetapi menunjukkan integritas pribadi yang membuat kita layak untuk dipercaya. Transparansi adalah suatu sistem yang menolong kita menjaga batas-batas hubungan dengan lawan jenis yang sehat.
Marriage counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.

