Selingkuh Menurun dari Orang Tua? Simak Fakta & Penjelasan Psikologisnya

selingkuh menurun dari orang tua?

Banyak orang percaya bahwa selingkuh itu sifat dan itu diturunkan dari orang tua. Namun apakah sains mendukung hal ini?

Faktanya mengatakan bahwa hanya 33% orang yang selingkuh yang orang tuanya juga melakukan perselingkuhan, sebagaimana dikutip dari Psychology Today. Tapi ada penjelasan ilmiah kenapa orang tua yang berselingkuh anaknya bisa punya kecenderungan selingkuh juga.

Baca juga: Katanya Cinta, Kenapa Selingkuh?

Riset Mengenai Perselingkuhan dan Genetika

Ada 2 gen yang dapat menimbulkan kecenderungan untuk berselingkuh. Yaitu gen yang berhubungan dengan hormon dopamin (DRD4) dan vasopresin (AVPR1A).

Gen DRD4 tertentu dapat menimbulkan kecenderungan pada individu untuk mencari sensasi dan pengalaman adrenalin yang lebih tinggi daripada orang lain. Hal ini membuat orang tersebut lebih mudah jatuh dalam kecanduan misalnya alkohol, narkoba, dan seks, termasuk juga perselingkuhan. Jadi tidak ada yang namanya sifat atau trait “tukang selingkuh” itu dalam psikologi, yang ada adalah trait suka dengan sensasi dan adrenalin yang tinggi.

Sebagai catatan, trait yang sama juga terjadi pada orang-orang yang mengalami adiksi sebelum usia 25 tahun. Adiksi dapat berupa narkoba, pornografi, atau bahkan game. Adiksi akan merusak prefrontal cortex otak anak-anak dan remaja yang belum bertumbuh sempurna. Prefrontal cortex itu bertanggung jawab untuk pengendalian impuls dan pengambilan keputusan, termasuk regulasi emosi.

Sedangkan vasopresin banyak berpengaruh pada komitmen monogami yang jangka panjang. Gen AVPR1A tertentu membuat seseorang punya kecenderungan tidak berkomitmen dalam satu hubungan jangka panjang.

Namun semua faktor biologis genetika tersebut tidaklah memastikan seseorang akan berselingkuh atau tidak. Gen-gen tersebut hanya menimbulkan kondisi yang lebih rentan saja. Riset menunjukkan bahwa pengaruh gen terhadap ketidaksetiaan tersebut berkisar antara 40-60%. Artinya masih ada 60-40% yang merupakan faktor lingkungan. Dalam istilah psikologi, yang dimaksud dengan faktor lingkungan bisa dari keluarga, sosial, pengaruh dari bagaimana seseorang bertumbuh dewasa, maupun faktor-faktor yang ada pada saat keputusan perselingkuhan tersebut diambil; misalnya kondisi pernikahan, stres tempat kerja, kondisi mental dan spiritual yang lemah, dll.

Penjelasan Psikologis Hubungan Perselingkuhan Orang Tua dan Anak

Dari studi berjudul “Exploring Intergenerational Patterns of Infidelity” yang dipublikasikan dalam jurnal Personal Relationship tahun 2017, orang tua memang berpengaruh besar dalam perselingkuhan yang dilakukan anak mereka. Dikatakan bahwa orang tua yang berselingkuh meningkatkan resiko anak-anak mereka akan berselingkuh 2,5 kali lipat daripada orang tua yang setia. Selain menurunkan secara genetika, memang ada pengaruh secara psikologis dari orang tua yang berselingkuh kepada anak. Anak-anak dari orang tua yang pernah berselingkuh dapat melihat perselingkuhan sebagai hal yang biasa, atau tidak aneh terjadi. Namun ini tidak harus dari orang tua secara langsung, pengaruh yang sama dapat terjadi dari lingkaran dekat keluarga lainnya, misalnya paman, tante, sepupu, maupun sahabat.

Dalam konseling, saya banyak juga menemukan bahwa anak-anak yang orang tuanya pernah berselingkuh menyimpan luka dan trauma akibat perselingkuhan tersebut. Hal ini terkadang dapat menjadi hal yang positif karena justru membuat barier bagi si anak di masa depannya untuk menjauhi perilaku yang mengarah ke perselingkuhan. Namun mengapa masih banyak di antara mereka yang trauma karena perselingkuhan itu, justru jatuh ke dalam jurang yang sama?

Jawabannya adalah karena luka dan trauma yang terjadi juga menimbulkan kerentanan. Pada saat kondisi tertentu memicu luka di masa lalu, kita berupaya untuk mengatasinya dengan berbagai cara. Di saat rentan itu, jalan pintas dapat menjadi alternatif solusi yang kita pilih. Kita akan lebih mudah jatuh dibandingkan orang lain dalam kondisi  yang sama.

Jalan pintas itu adalah hal apapun yang bisa memberikan kenyamanan di tengah kondisi stres atau kondisi menyakitkan yang sedang dialami. Bisa dikompensasikan ke gila kerja atau gila hobi. Bisa juga berupa alkohol, game, narkoba, atau PSK, pijat ++. Pada saat ada lawan jenis lain yang bisa memenuhi kenyamanan, kita juga lebih mudah jatuh ke dalam perselingkuhan emosi maupun fisik.

Jadi baik secara genetika, maupun secara psikologis, orang tua yang selingkuh hanya mampu memberikan kecenderungan dan kerentanan, tapi tidak bertanggung jawab penuh atas perselingkuhan yang terjadi.

 

 

Para ahli psikologi mengambil kesimpulan bahwa suatu perilaku selalu dipengaruhi 50% genetika dan 50% lingkungan. Tepat sekali kata-kata para ahli tersebut, “Genetics loads the gun, but the environment pulls the trigger.” Genetik itu hanya membawa pelurunya saja, tapi pengaruh lingkungan (dan tentu dirinya sendiri) yang membuat problem itu terjadi.

Bagaimana pendapat Anda?