5 Mitos Tentang Pernikahan yang Terbukti Keliru Secara Sains (1)

mitos pernikahan

Setiap kali pasangan datang ke ruang konseling saya, saya menemukan ada beberapa pemikiran yang dimiliki oleh klien saya yang keliru, namun dipegang oleh mereka. Terkadang ada juga keadaan membuat mereka ragu akan apa yang benar dengan pernikahan, malah lebih mengaminkan mitos-mitos yang beredar di lingkungan mereka. Mitos-mitos ini seringkali membuat pasangan-pasangan menempuh jalan yang salah yang justru merugikan pernikahan mereka dan tentunya merugikan diri mereka sendiri. Tentunya ada banyak mitos-mitos seperti ini, namun dalam kesempatan ini saya coba memaparkan 5 di antaranya. Berikut penjabaran 5 mitos pernikahan yang telah terbukti keliru secara sains.

Baca juga: 6 Alasan Tetap Bertahan dalam Pernikahan

 

1. Tinggal bersama sebelum nikah mencegah kita menikahi orang yang salah

Walau budaya kita secara umum masih memegang prinsip kesucian sebelum pernikahan, namun fakta di lapangan mengatakan hal yang berbeda. Tidak diketahui data sebenarnya berapa banyak, namun dewasa ini sudah sangat banyak pasangan yang tinggal bersama sebelum mereka menikah, lepas dari apa pun agama yang dianutnya.

Salah satu pemikiran yang muncul sebagai pembenaran kumpul kebo ini adalah mitos bahwa tinggal bersama pasangan sebelum menikah adalah hal yang baik karena kita bisa mengetahui pasangan kita dulu atau uji coba dulu sebelum benar-benar menikah. Kalau ternyata kurang cocok, kan bisa diputuskan, tidak perlu pusing menghadapi perceraian.

Secara teori seakan-akan logis sekali berpikir demikian (tentunya lepas dari pertimbangan moral yang tidak sepakat dengan kumpul kebo), namun ternyata penelitian tentang komitmen pernikahan menunjukkan hal yang sebaliknya.

Pada tahun 2006 Scott Stanley, seorang psikolog dari US pernah melakukan penelitian yang mengukur tingkat keberhasilan dan kepuasan pernikahan antara orang-orang yang menikah (berkomitmen) dengan orang-orang yang tinggal bersama tanpa menikah. Supaya hasilnya tidak bias (beliau adalah seorang pro pernikahan), beliau bahkan mengundang mahasiswanya untuk mengambil data dan menganalisisnya sendiri. Hasilnya ternyata pasangan yang berkomitmen (yaitu dalam pernikahan):

  • Lebih puas secara hubungan intim
  • Lebih terbuka satu sama lain sehingga bisa lebih intim dan hubungan mereka lebih kuat

 

Riset terbaru dari Rosenfeld & Roesler tahun 2019, seperti dikutip dari Psychology Today juga menunjukkan bahwa cohabitation (kumpul kebo) sebelum menikah berarti memiliki resiko perceraian yang lebih tinggi 31% daripada orang yang tidak tinggal bersama sebelum menikah.

Maka terbukti sudah, bahwa kumpul kebo tidak membawa dampak positif secara jangka panjang terhadap pernikahan.

 

2. Tidak ada yang namanya romantika dalam pernikahan

Seorang klien pria saya mengeluhkan istrinya yang mengharapkan adanya kehangatan dan romance dalam pernikahan mereka. Ia terus mengatakan di depan istrinya bahwa, “Nggak ada yang namanya romance dalam pernikahan itu. Itu sih anak-anak lagi pacaran baru ada. Kalau udah nikah kita realistis aja deh, nggak pernah ada yang kayak begituan! Kamu tuh terlalu banyak nonton Film Korea!”

Sedih sekali mengetahui bahwa tidak hanya dia saja yang berpikir demikian. Banyak pasangan, pria khususnya yang juga memikirkan hal yang sama. Mereka tidak lagi mengejar kasih sayang, mengupayakan pernikahan, dan menerima pernikahan datar, loveless atau bahkan pernikahan yang seperti neraka. Sebagian dari mereka akhirnya tidak tahan dan bercerai.

Dr. John Gottman melakukan riset selama lebih dari 20 tahun menemukan bahwa 67% pasangan memang mengalami penurunan kepuasan pernikahan setelah anak pertama lahir. Sebagian tidak pernah lagi bisa kembali ke masa bahagia berdua mereka. Namun yang menarik adalah masih ada 33% pernikahan yang tidak terpengaruh dengan kelahiran bayi, bahkan 17% di antaranya memiliki pernikahan yang semakin baik setelah kelahiran anak mereka.

Dari riset kecil yang kami lakukan di Indonesia, 65% dari responden juga menunjukkan pernikahan yang buruk. Hanya 35% pasangan yang kami survei yang memiliki kepuasan pernikahan yang sehat. Hal ini sesuai dengan penelitian Gottman tadi. Namun ini juga menunjukkan bahwa masih ada 1/3 pasangan yang memiliki pernikahan yang memuaskan. Dan salah satu ciri pernikahan yang memuaskan adalah masih adanya ekspresi kasih sayang di antara keduanya.

Memang benar bahwa cinta romantis yang dimiliki sejak awal kita jatuh cinta akan berakhir dalam 2-4 tahun hubungan. Dan ini berlaku baik hubungan yang tidak berlanjut, maupun hubungan berlanjut terus hingga pernikahan. Dalam hubungan yang sehat, cinta romantis akan beralih ke cinta realistis yang lebih dewasa dan banyak didorong oleh persahabatan antara keduanya. Namun ini bukan berarti tidak ada gandengan tangan, ciuman atau pernyataan kasih sayang lainnya setelah lama menikah. Romantisme itu hanya berubah dari cinta menggebu-gebu menjadi afeksi yang lebih santai dan realistis, namun lebih intim.

Maka dapat disimpulkan bahwa pemikiran bahwa “romantika itu hanya saat pacaran”, atau “tidak ada yang namanya romantika di dalam pernikahan” ternyata hanyalah mitos. Sepertiga pernikahan masih memilikinya. Yang berbeda hanyalah bentuk romatikanya saja. Dan itu perlu diupayakan, tidak lagi akan berjalan dengan sendirinya.

 

Bersambung ke BAGIAN KEDUA: 5 Mitos Tentang Pernikahan yang Terbukti Keliru Secara Sains

 

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?