6 Alasan Tetap Bertahan dalam Pernikahan

bercerai

Pernikahan itu tidak mudah. Perlu perjuangan dan usaha yang ekstra keras untuk mempertahankannya. Saat pernikahan kita terasa begitu sulit, hal-hal apa saja yang biasanya menjadi alasan seseorang untuk tetap bertahan?

Baca juga: Couples 30 Days Challenge; Tantangan bagi Anda yang Hendak Bercerai

Berikut ini 6 alasannya:

  1. Tekanan sosial: keluarga, teman maupun komunitas agama yang tidak menyetujui pasutri untuk bercerai dapat membuatnya berpikir ratusan kali sebelum bercerai. Biasanya mereka mengatakan, “Kami dipandang sebagai pasangan yang akur, kalau bercerai rasanya gimana gitu”.
  2. Tekanan moralitas: khususnya jika ia percaya bahwa perceraian itu melanggar perintah agama. Sebagian orang percaya bahwa bercerai itu dosa, sehingga ia akan mengupayakan sebaik mungkin agar pernikahan dapat terus bertahan.
  3. Kebahagiaan anak yang terancam. Mereka memikirkan bagaimana nasib anak mereka apabila bercerai. Apakah mereka akan mengalami masalah hubungan saat bertumbuh menjadi dewasa, atau apakah mungkin mendapatkan problem kesehatan mental sebagai akibatnya?
  4. Keterbatasan dan kehilangan finansial yang akan dialami sebagai akibat kehilangan pencari nafkah atau pembagian harga gono-gini. Bagi wanita yang ibu rumah tangga pergumulan ini begitu nyata karena mereka menggantungkan hidup mereka kepada suaminya. Mereka juga takut tidak mampu membesarkan anak dengan baik akibat masalah finansial ini yang mana akibatnya mereka mungkin dapat kehilangan anak mereka. Sebaliknya untuk pria pembagian harta juga bisa membuatnya berpikir walau biasanya tidak terlalu dipusingkan olehnya.
  5. Proses perceraian yang sulit, sangat menguras waktu, tenaga, uang dan mental. Ini berlaku juga untuk PNS yang harus mendapatkan persetujuan dari atasan mereka. Jika proses perceraian dibuat sangat mudah, akan terjadi lonjakan perceraian di Indonesia.
  6. Kualitas hidup yang berubah, jika kehilangan orang yang selama ini memberikan berbagai kebutuhan fisik dan emosional. Resiko kehilangan finansial membuat kualitas hidup kita akan menurun atau bahkan terjatuh. Tetapi bukan semata-mata masalah uang saja, kehilangan dukungan pasangan khususnya saat menghadapi masalah-masalah di masa mendatang juga akan dirasakan menyulitkan untuk bercerai. Tentunya hal ini tidak menjadi pemikiran bagi mereka yang sudah mengalami keterpisahan emosi.

 

Saat pernikahan terasa sulit dan berat, bukankah ini saatnya Anda mencari bantuan profesional? Walau tidak mudah dan tidak murah, bukankah manfaatnya sepadan?

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.

Bagaimana pendapat Anda?