Katanya Cinta, Kenapa Selingkuh?

kenapa selingkuh

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan saat menemukan bahwa pasangan kita selingkuh adalah “KENAPA?”

Bagi saya sebagai konselor pernikahan, pertanyaan ini sangat problematik. Untuk memudahkan penyebutan, anggap saja dalam kasus yang dibahas di artikel ini, yang selingkuh adalah sang suami. Nah, seringkali ketika seorang istri yang diselingkuhi bertanya kenapa kepada suaminya, apa pun jawabannya pasti salah. Misalnya:

  1. “Aku tidak tahu kenapa”
  2. “Habis kamu tidak ada di rumah” atau “Aku tidak tahan kamu marah-marah terus”
  3. “Ada yang mau mendengarkanku, rasanya nyaman ngobrol sama dia”
  4. …. (suami diam saja)

 

Baca juga: “Proper Ending” bagi yang Selingkuh

Jawaban-Jawaban yang Salah

Jawaban No. 1 akan sangat tidak memuaskan bagi istrinya. “Harusnya kamu cari tahu kenapa! Kalau kamu tidak tahu bagaimana aku tahu ini tidak akan terulang?”

Jawaban No. 2 paling parah, istrinya yang terluka akan merasa disalahkan. “Aku yang menderita, aku ini korban! Kenapa kamu menyalahkan aku?”

Jawaban No. 3 juga problem, istrinya akan berkata, “Jadi kamu ngerasa nyaman sama dia ya! Ya udah, kawinin aja dia, ceraikan aku!” Salah lagi jawabannya.

Bingung dengan harus menjawab apa, suami jadi terdiam (jawaban no. 4), tapi ini akan menambah emosi sang istri. “JAWAB!!!” kata sang istri. Istrinya akan terus mengejar jawaban dari suami. Tapi apa pun jawabannya tetap akan salah.

Sebenarnya, logikanya memang tidak ada hal apa pun yang bisa membenarkan seseorang untuk selingkuh bukan? Jadi jawaban apa pun memang pasti akan salah. Bukan jawabannya yang salah, tapi pelaku memang bersalah.

 

Tetapi bahkan kalaupun saya sebagai konselor yang menjelaskan alasan selingkuhnya, atau kalaupun kami melakukan penelitian khusus yang objektif mengenai faktor-faktor yang menyebabkan pasangannya selingkuh, bahkan kalau pun terbukti secara ilmiah, tetap saja si korban tidak akan puas dengan jawabannya. Seperti yang pernah dikatakan oleh klien saya, “Bener Coach Deny, saya sudah tanya chatGPT berulang-ulang, tetap saja saya tidak bisa puas dengan jawaban-jawabannya!”

 

Mengapa Semua Jawaban Salah?

Masalah utamanya adalah sang istri yang menjadi korban sangat terluka. Untuk sesaat saya meminta Sobat Pembelajar mengingat rasa sakit (fisik) yang paling sakit yang pernah dialami. Coba bayangkan 5-10 detik saja.

 

Sudah?

Nah, bayangkan bahwa rasa sakit akibat perselingkuhan itu lebih sakit daripada itu, tapi di hati, bukan di fisik. Dan bayangkan kalau rasa sakit itu terus-menerus dirasakan. 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Setiap kali teringat, korban akan menangis, hatinya berteriak menjerit. Jantungnya berdetak kencang dan seringkali napas jadi tersengal-sengal. Terus begitu setiap hari. Kadang bisa beberapa hari, tapi tidak jarang yang merasakannya berbulan-bulan bahkan 1 tahun, 5 tahun, 8 tahun, atau 20 tahun. Sobat Pembelajar, memang seperti itu rasa sakit dan derita akibat perselingkuhan. Rasa sakit inilah yang sebenarnya menuntut korban, terus-menerus untuk bertanya “kenapa”.

 

Katanya Cinta, Kok Selingkuh?

Riset menunjukkan bahwa perselingkuhan biasanya bukanlah masalahnya, karena masalah utamanya adalah adanya kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam pernikahan, atau karena hubungan yang semakin menjauh dan menjadi diskoneksi antara suami dan istri (penjelasan lebih lanjut ada di artikel berikut: Mitos Pernikahan: Affair adalah penyebab perceraian).

Tetapi itu psikologi itu selalu bukanlah suatu kepastian. Tidak ada angka 100% dalam psikologi. Tetap saja ada sebagian kasus perselingkuhan yang terjadi dalam pasutri yang memiliki hubungan yang sehat. Sang suami memang benar-benar masih cinta sama istrinya. Hal ini terlihat yaitu pada waktu perselingkuhannya ketahuan, ia sangat menyesalinya, langsung meninggalkan perselingkuhannya. Tanpa ragu ia memilih istrinya.

Jadi kenapa kalau benar-benar cinta kok berselingkuh?

Pertama, kenyataannya memang semua manusia punya kapasitas untuk mencintai lebih dari satu orang dalam saat yang bersamaan. Dan ini bukan hanya pria. Wanita juga sama. Hal ini merupakan hasil riset ilmiah (penjelasan lanjutan dapat dibaca di: Mitos Pernikahan: Pria tidak diciptakan monogami). Ini berarti semua orang punya kemungkinan tertarik dan jatuh cinta pada lawan jenis lain selain pasangannya. Hanya komitmen kepada janji pernikahanlah yang mencegah seseorang tidak berselingkuh, bukanlah karena perasaannya. 

 

Kedua, saya ingin menjelaskannya melalui eksperimen Olds dan Milner pada tahun 1954. Mereka memasangkan elektroda di otak tikus percobaan yang akan merangsang produksi dopamin di otak mereka saat tikus tersebut menekan tuas. Dopamin adalah hormon dalam tubuh yang memberikan rasa senang dan puas. Hormon ini terdapat juga pada manusia, dan mengalir di otak kita ketika kita makan atau melakukan hubungan seks.

Dalam percobaan itu, tikus-tikus akan terus menekan tuas yang akan memberikan “reward” dalam bentuk dopamin di dalam otak mereka. Mereka bisa menekannya ratusan kali dalam sejam, dan mereka mengabaikan makan, minum bahkan mengabaikan bersetubuh dengan tikus lain untuk terus menekan tuas “kepuasan”. Pada waktu tikus-tikus itu harus melewati kawat beraliran listrik untuk bisa menekan tuas, mereka mengabaikan rasa sakit dan terus menekan tuas “kepuasan” sekalipun mereka merasakan sakit disengat listrik. Percobaan ini dihentikan karena jika dilanjutkan akan membuat tikus-tikus tersebut mati kelaparan.

Percobaan ini juga diuji kepada subjek manusia pada tahun 1960-1970-an. Dan hasilnya sama. Manusia bisa menekan tombol hingga 1500 kali dalam 3 jam percobaan. Kemungkinan fatal yang sama dapat terjadi pada manusia.

Dalam kasus perselingkuhan, kadang kegirangan dan keinginan untuk kesenangan sesaat itu begitu kuat sehingga mengalahkan pikiran sehat para pelakunya. Dopamin dan adrenalin yang dirasakan membuat  mereka mengabaikan pasangan mereka, anak-anak mereka, bahkan ketakutan mereka sendiri (takut ketahuan) dan melanjutkan perselingkuhan yang ngeri-ngeri sedap itu. Inilah kenyataanya.

 

Jawaban yang Menolong

Pertanyaan kenapa itu memang problematik, tapi sebenarnya itu merupakan wujud ungkapan rasa sakit yang diderita korban perselingkuhan. Jawaban apa pun pasti salah, karena yang dibutuhkan oleh korban adalah pelaku yang menyesali sungguh-sungguh akan perbuatannya dan menebus kesalahannya.

Jadi mengakui, menyesali dan minta maaf berulang-ulang sebanyak yang dibutuhkan korban merupakan salep pereda rasa sakit yang dibutuhkan. Bukan kata-kata maaf-nya saja yang dibutuhkan, tapi ketulusan dan penyesalan sungguh-sungguh, lewat bahasa tubuh, dan perbuatan yang akhirnya bisa membantu korban melewati penderitaan tersebut.

 

Dalam banyak sekali kasus, pelaku lumpuh dengan serangan-serangan dari korban yang meledak dan terus mencecar pelaku. Korban kesulitan untuk berhenti bertanya, menyudutkan, menginterogasi karena trauma sudah terjadi. Interaksi di antara keduanya menjadi terus membuat frustasi. Dalam kasus seperti ini, Anda membutuhkan konseling pernikahan dengan konselor yang terlatih dalam perselingkuhan. Anda membutuhkan penengah yang membantu percakapan berat seperti itu tetap kondusif dan produktif.

Hubungi kami dan datanglah dengan pasangan untuk menolong Anda mengarungi badai dashyat dalam pernikahan Anda tersebut. Kami sangat rindu menolong Anda berdua.

 

 

 

 

 

Bagaimana pendapat Anda?