10 Kiat Menghindari Jebakan Predator Cinta ala “The Tinder Swindler”

tinder swindler

Seperti apa kekasih terburuk Anda? Pernahkah Anda seperti Cecilie atau Ayleen yang memacari seseorang seperti Simon Leviev dalam film dokumenter kisah nyata “Tinder Swindler”? Diceritakan dalam film tersebut, para wanita yang menjadi korban pertama kali berkenalan dengan Simon melalui aplikasi dating online Tinder. Profil dan gaya hidup Simon terlihat seperti Crazy Rich dan mengaku sebagai anak pengusaha berlian, keluarga Leviev.

Setelah kencan pertama bagi Cecile begitu memukau, Simon mengajaknya naik jet pribadinya yang mana mempergunakan mantan istri dan anaknya (tidak tahu apakah ini benar demikian) untuk mendapatkan kepercayaan dan simpati dari Cecilie. Cecilie pun jatuh dalam jebakan Betmen yang dibuat Simon, dan mereka tidur bersama hari itu.

Baca juga: Hal Apa yang Tidak Boleh Dikatakan kepada Pacar?

Singkat cerita, ternyata nama Simon Leviev yang sebenarnya adalah Shimon Yehuda Hayut, seorang kriminal berwarga negara Israel, yang telah berulang kali melakukan penipuan (baik berkedok cinta, persahabatan maupun relasi lainnya) di seluruh dunia. Total uang yang telah diraupnya diperkirakan tidak kurang dari 10 juta Dollar US atau sekitar 143 M Rupiah!! Dari Cecilie (asal Norwegia) ia mendapatkan 250.000 USD, dari Pernilla (asal Swedia) 45.000 USD dan dari Ayleen (asal Belanda), pacar jangka panjangnya, Simon meraup 140.000 USD. Cecilie dan Ayleen harus berhutang begitu banyak uang untuk mendapatkan uang sebanyak itu untuk Shimon, dan sedihnya, mereka hingga kini masih harus berjuang untuk melunasi hutang-hutang mereka.

Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Mengapa para wanita ini bisa terpedaya oleh predator cinta, penjahat seks seperti ini? Mungkin kita menganggap bahwa ini karena mereka mata duitan, atau terlalu bodoh. “Pokoknya kalau ada orang yang baru dikenal mau pinjem uang jangan kasih deh!” itu mungkin yang kita katakan di dalam hati. Tapi kenyataannya, seorang penipu ulung seperti Simon juga tahu akan prinsip ini. Ia tidak bertindak seperti penipu biasa, dan melakukan begitu banyak hal, serta memperhatikan begitu banyak detail sehingga penipuannya sempurna. Namun demikian, beberapa kiat yang dapat membantu Anda untuk mencium dan menghindari aksi-aksi predator cinta semacam ini. Tapi sebelum itu kita kenali dulu jenis-jenis kepribadian yang berbahaya seperti ini.

 

Narsistik dan Psikopat

Dua gangguan kepribadian yang berkaitan dengan orang-orang yang merupakan predator adalah Narsisistik (NPD) dan Psikopat. Keduanya serupa tapi tak sama, dan terkadang kedua gangguan itu muncul dalam seorang individu. Secara sederhana dapat dikatakan Narsistik adalah seseorang yang hanya memiliki sedikit (atau tidak sama sekali) kemampuan untuk berempati pada orang lain. Sedangkan seorang psikopat/sosiopat memiliki “kompas moral” yang rusak sehingga tidak merasa bersalah kalau ia melakukan pelanggaran moral dan hukum.

Walau definisi secara ilmu psikologi berbeda, saya rasa dalam konteks ini kita tidak perlu berupaya untuk membedakannya apakah seseorang itu narsistik ataukah dia psikopat, atau bahkan keduanya, karena yang penting adalah kita bisa mengidentifikasi bahwa seseorang yang mendekati kita, atau yang kita cintai adalah seseorang yang berbahaya yang bisa menelan kita hidup-hidup atau menghisap seluruh kekayaan kita sampai habis seperti vampir.

Joe Navarro, seorang mantan FBI yang berpengalaman selama 25 tahun dalam analisis perilaku kriminal, mengemukakan beberapa ciri perilaku-perilaku berbahaya seorang predator (narsistik atau psikopat) adalah sebagai berikut:

  • Mengharapkan diperlakukan spesial dan diberi prioritas (walaupun mereka tidak sespesial itu)
  • Dalam kata-kata dan tindakan overvalue (menilai diri berlebihan) dan merendahkan orang lain
  • Tidak peduli dengan orang lain kecuali kalau orang lain bisa membantunya
  • Seorang pendengar yang buruk, kecuali kalau ia bisa mendapatkan keuntungan dari hal itu
  • Control freak, seorang yang sangat terobsesi dengan kontrol dan loyalti
  • Jarang meminta maaf dan merasa bersalah
  • Mencari keuntungan daripada keadilan
  • Mengambil keuntungan dari orang lain, misalnya mempergunakan tempat tinggal orang lain, membuat orang lain menyediakan makanan, uang dan seks untuk dirinya.
  • Memiliki sejarah kegagalan membayar hutang
  • Pernah bicara tentang mereka memiliki sisi jahat
  • Menaruh orang lain dalam resiko fisik, finansial atau kriminal tanpa banyak pertimbangan
  • Dingin dan tanpa perasaan, namun sekaligus berkarisma, menawan dan sangat menggoda
  • Kerap kali berbohong untuk mendapatkan yang ia inginkan, ia menikmati berbohong
  • Arogan, kadang berpikir bahwa ia adalah “legenda” dalam pikirannya sendiri
  • Sering melawan hukum walaupun bisa menyakiti orang lain

 

Dikenal Penipu, Ini 6 Potret Simon Leviev 'The Tinder Swindler' dan Kekasih Barunya - Hot Liputan6.com
Simon Leviev alias Shimon Yehuda Hayut

Navarro menegaskan bahwa ciri-ciri tersebut bukan untuk memberi label karena setiap orang yang termasuk kategori berbahaya itu berada dalam spektrum dari yang sangat jahat (serial killer) sampai ke yang tidak terlalu jahat (sekedar arogan dan manipulatif). Namun semakin banyak ciri-ciri yang tertera di atas yang kena bagi orang-orang yang Anda curigai, semakin berbahaya orang itu.

 

Kiat Menghindari Jebakan Predator Cinta

Dan inilah kiat-kiat yang dapat diperhatikan dan dilakukan untuk bisa menghindarkan diri Anda dari masalah-masalah dengan para predator cinta:

 

1. Waspada Perilaku-Perilaku yang “Over”

Misalnya over spending, over value terhadap diri sendiri dan over acting. 

Orang-orang kaya memang bisa menghamburkan banyak uang, tetapi orang kaya yang kekayaannya memang diperoleh dari keringatnya sendiri cenderung tetap menghargai kekayaannya dan tidak suka buang-buang uang berlebihan. Karena itu, perilaku seperti Simon Leviev yang membayarkan teman-temannya (yang tidak tahu mana yang benar-benar teman-temannya) untuk terbang, masuk pub/bar untuk bersenang-senang bersama (bahkan yang baru kenal sekalipun) memang perlu dipertanyakan asal kekayaannya.

Bicara tentang over value, sebenarnya semua orang selalu memandang dirinya lebih baik dari pada sebenarnya, namun bedanya dengan para predator, kita tidak merendahkan orang lain. Tatkala menemukan seseorang yang walaupun memang benar hebat namun ia merendahkan orang lain, ada kemungkinan orang ini narsistik dan bisa berbahaya. Kalaupun tidak berbahaya secara kriminal, ia berbahaya secara mental bagi orang-orang di sekitarnya.

Waktu saya SMA, saya punya seorang teman yang termasuk kategori narsistik (walau ia bukan predator). Teman saya ini merasa diri seorang “utusan” Allah. Ia terus menyombongkan dirinya betapa ia mendapatkan “suara Tuhan” dan menyuruhnya ini dan itu. Namun teman saya ini seorang yang malas belajar, nilai-nilainya jeblok walaupun ia sudah pernah tidak naik kelas. Suatu hari, kami bersama teman-teman segereja berkumpul di rumah teman kami dan akan berdoa bersama. Kondisinya kita semua sedang duduk bersila di lantai. Walau saat itu teman lain yang sedang memimpin doa, teman saya ini tiba-tiba berdiri, menengadah ke atas dan mengucapkan doanya, seakan-akan ia adalah orang yang paling tinggi di antara kami semua. Inilah yang saya sebut dengan over acting.

 

2. Too Good To Be True

“Dia baek banget”, “Romantis tis.. tis..”, “Cool”, “Sempurnalah pokoke”

Hati-hati kalau seakan-akan semua ciri pria yang diharapkan ada dalam diri orang yang baru Anda kenal. Walaupun kita tidak dapat menampik ada orang-orang yang memang baik, romantis, kaya dan cerdas (bahkan religius pula!), namun karakter itu teruji oleh waktu. Waktu yang singkat akan membuat penilaian kita bias oleh ketampanan dan karismanya, dan itu membuat kita merasa dia sebagai orang yang selama ini kita cari-cari. Kita sama sekali tidak mampu mengambil kesimpulan tentang seseorang hanya dalam waktu yang singkat.

Waspadalah dengan ketidakkonsistenan dalam perilakunya. Misalnya orang yang sangat religius tapi ternyata dia mengkonsumsi pornografi tanpa merasa bersalah. Orang yang sangat murah hati, tapi ternyata suka perhitungan dalam hal uang kecil, atau selalu mengelak kalau diminta menunjukkan bukti akuntabilitasnya (seperti bon pembelian, daftar penerimaan dana, dll).

Jangan pernah abaikan ketidakkonsistenan fakta dan data. Para predator adalah orang yang suka sekali berbohong. Biasanya ada saja kebohongan yang terungkap, tetapi karena “cinta” kita cenderung mengabaikan hal-hal itu.

 

3. Pemeriksaan latar belakang itu penting

Siapa dia sebenarnya? Apakah benar seperti yang diceritakannya? Jangan hanya percaya dengan apa yang dikatakannya, tetapi temuilah orang tuanya, kakaknya, adiknya, teman-temannya. Pepatah Jepang mengatakan:

“Ketika kita ragu akan karakter seseorang, lihatlah teman-temannya”.

Dalam film The Tinder Swindler diceritakan bahwa Cecilie maupun Pernilla sudah mencek terlebih dulu siapa dia melalui internet. Namun ternyata foto profil itu bisa dibohongi, foto-foto dengan keluarga pun bisa ditempel menggunakan Photoshop. Sekali lagi, waspada dengan ketidakkonsistenan data. Namun apabila orang yang Anda curigai ini begitu penting bagi Anda, dan jika ada resiko keuangan yang besar, terutama jika Anda adalah seorang Crazy Rich, Anda mungkin perlu jasa seorang detektif swasta yang bisa menolong Anda memeriksa latar belakang seseorang (DM kami jika Anda membutuhkan kontak detektif swasta rekomendasi kami).

 

4. Jangan abaikan masa lalunya

Banyak orang yang lagi dimabuk asmara mengatakan, “tidak peduli apa masa lalu kamu, yang penting siapa kamu sekarang.” Dalam banyak hal memang ini benar, karena semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan terkadang masa lalu kita termasuk kesalahan-kesalahan fatal. Beberapa orang pernah hamil di luar nikah, ada yang pernah menusuk temannya, atau pernah menjadi kriminal. Kalau Tuhan saja mengampuninya, bagaimana mungkin kita tidak?

Namun untuk urusan mencari pasangan, tidak sesederhana itu. Terkadang ada masa lalu yang masih berdampak hingga saat ini. Seperti teman saya yang tanpa sengaja menghamili pacarnya waktu SMA dulu sehingga sampai sekarang masih harus membiayai hidup anak tersebut. Nah khusus untuk predator, masa lalunya berisi sederetan problem sejenis. Serial killer, serial cheater, atau serial-serial lainnya. Perhatikan terutama pelanggaran-pelanggaran kriminal yang pernah dilakukannya di masa lalu. Biasanya orang yang terjatuh dalam kasus kriminal tidak akan jatuh dua kali kalau ia sungguh-sungguh bertobat.

Pernikahan yang sehat selalu merupakan pernikahan yang transparan, bukan hanya transparan tentang masa kini dan rencana di masa mendatang, tetapi juga transparan tentang masa lalu.

Long distance relationship concept illustration Free Vector5. Problem dengan LDR

Era globalisasi masa kini memang membuat banyak pasangan yang melakukan pacaran jarak jauh. Hal ini seringkali tidak bisa dihindarkan. Sekarang kita punya handphone, zoom, Whatsapp dan sosmed untuk bisa saling bertukar kabar dan berkomunikasi secara langsung. Kekasih yang jauh menjadi seakan-akan dekat. Seakan-akan, tetapi tidak benar-benar dekat. Karena sebaik apa pun teknologi masa kini, pacaran jarak jauh tetap saja jarak jauh. Teknologi tetap punya limitasi.

LDR berarti kesempatan untuk dibohongi menjadi lebih besar. Ingatlah bahwa pasangan itu seseorang yang akan menemani kita sampai tua. Jadi tidak cukup seperti membeli kucing dalam karung, bahkan melihat kucing di etalase pet shop saja masih belum cukup untuk tahu apakah kucing itu punya penyakit atau tidak. Banyak orang LDR yang tidak tahu bahwa pasangannya punya pacar lain, entah di kota yang sama ataupun di kota yang berbeda.

LDR berarti Anda minim kesempatan untuk melihatnya dalam berbagai aktivitas. Dan yang Anda lihat seringkali artifisial, bukan sebenarnya. Itulah sebabnya saya menyarankan pasangan-pasangan yang LDR ketika berencana menikah, setidaknya perlu meluangkan waktu minimal setahun untuk berada dalam kota yang sama (bukan menyarankan tinggal bersama ya, tetapi di kota yang sama). Dengan demikian Anda memiliki lebih banyak informasi untuk menilai pribadi pasangan Anda, dan mungkin ini bisa menghindarkan Anda dari menikahi seorang predator.

 

6. Berhati-hati dengan uang

Ini yang terjadi dalam kisah Tinder Swindler. Alih-alih mendapatkan pasangan yang benar-benar tajir melintir, malah diminta pinjam uang sebesar 4 M ke bank dengan alasan ia dikejar musuh-musuhnya dan kartu kreditnya kena blok. Dan zonk benar-benar habislah Cecilie karena uang pinjamannya tidak pernah dikembalikan oleh Leviev.

Aturan dasar memang perlu selalu diingat: “Pokoknya kalau ada orang yang baru dikenal mau pinjem uang jangan kasih deh!” Setidaknya jangan berikan pinjaman lebih dari apa yang Anda mampu pinjamkan kepada orang lain sebelum Anda berdua benar-benar menikah.

Dalam urusan cinta, terlebih kalau kekasih Anda bukanlah orang yang sudah lama Anda kenal (bukan berasal dari pertemanan Anda), ia memang harus diperlakukan seperti teman. Kepada teman biasa, Anda tidak meminjamkan uang banyak. Kepada sahabat Anda mungkin Anda pinjamkan banyak, tetapi Anda sudah mengenal sahabat Anda bertahun-tahun lamanya sebelum ia menjadi sahabat Anda barulah Anda berani meminjamkan uang.

Ingatlah bahwa tingkat keintiman harus berjalan sesuai dengan tingkat komitmen Anda berdua, demikian juga uang.

Tingkat keintiman yang dimaksud adalah, kalau baru teman kita tidak pelukan. Kalau sudah jadi pacar kita boleh pegangan tangan, tapi belum boleh berhubungan intim dan kalau sudah menikah barulah kita boleh berikan tubuh kita. Demikian juga uang. Hindari meminjamkan, menginvestasikan uang, atau membuka bisnis bareng sebelum menikah. Kalau pun mau demikian, buatlah aturan main dan kontrak kerjasama resmi yang jelas, sama seperti Anda berbisnis dengan teman atau orang lain.

Perlu diingat bahwa predator cinta tidak akan menjalankan aksinya sekaligus besar. Kalau ia pinjam uang, atau minta Anda berinvestasi kepadanya, selalu ia mulai dengan angka yang kecil, dan kemudian setelah Anda pikir aman, di mana dia berhasil melipatgandakan uang Anda, ia akan meminta jauh lebih banyak. Saat itulah ia menjalankan rencana jahatnya dan uang Anda tidak akan pernah kembali.

Kalau sang predator meminjam uang, ia selalu akan menggunakan alasan-alasan kritis yang membuat Anda tidak mampu berpikir jernih, dan tidak diberi kesempatan untuk mengidentifikasi apakah Anda akan ditipu atau tidak. Tetapi secara logika, kalau seseorang benar-benar membutuhkan uang dalam jumlah besar dan kebutuhan itu adalah kebutuhan yang kritis, ia pasti akan minta kepada keluarganya, dan tidak akan minta kepada pasangannya, apalagi belum ada komitmen pernikahan.

 

7. Kata-kata manipulatif

Seorang pacar yang baik bukanlah yang menuntut pasangannya berkorban untuk kepentingannya. Ia adalah seorang yang mau mengerti kesulitan-kesulitan yang dialami pasangannya untuk membantunya. Ia tidak akan marah dan mengatakan “Kamu tidak percaya sama saya?” kalau Anda tidak bisa memberikan uang kepadanya. Karena kata-kata yang menyalahkan dan menyudutkan selalu merupakan kata-kata manipulasi andalan dari seorang predator.

Predator cinta akan selalu menyalahkan Anda bahwa sesuatu yang buruk terjadi itu karena Anda tidak mengikuti perintahnya. Ia akan berusaha membuat Anda merasa menyesal sehingga akhirnya Anda mengikuti kemauannya. Ia juga akan berusaha membuat Anda menyerah dengan serangan-serangannya yang membuat Anda merasa lelah.

Sebaliknya, Anda harus menyadari bahwa dalam suatu hubungan Anda juga sama penting seperti pasangan Anda.  Jadi sekalipun Anda sangat mencintainya, tetap saja ada batasan-batasan yang harus dijaga pada waktu pacaran. Hindari menyerahkan keperawanan Anda, menyerahkan kekayaan Anda, atau melakukan tindakan kriminal walaupun ia mengemis-ngemis, menghina atau mengancam Anda.

Dalam manipulasi masalah uang, setiap upaya seseorang untuk menguasai kekayaan pasangannya, atau mengeksploitasi sumber daya yang dimiliki oleh pasangannya untuk kepentingannya sendiri adalah finansial abuse (penindasan keuangan). (Penjelasan lengkap mengenai 5 jenis penindasan dalam rumah tangga dapat di baca di: Kenali 5 Jenis Kekerasan dalam Rumah Tangga)

 

8. Jangan terlalu cepat memberikan komitmen

Dalam berhadapan dengan seorang predator, waktu menjadi sahabat kita. Ingat poin 2 di atas, bahwa waktu membantu kita untuk menyingkapkan “belang” seseorang, memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat ketidakkonsistenan dalam perilakunya. Ingat juga poin 6 bahwa uang seharusnya diberikan sesuai dengan komitmen. Maka jangan buru-buru memberikan komitmen Anda kepada seseorang, sebaik dan setampan atau secantik apa pun orang itu. Jangan buru-buru memutuskan untuk tunangan, untuk tinggal bersamanya, atau menikahinya.

Cinta sejati pasti butuh waktu, dan seorang kekasih yang baik akan memberikan waktu kepada pasangannya untuk berpikir dan memutuskan. Tapi justru waktulah yang tidak dimiliki oleh para predator. Mereka butuh cepat, instan, karena mereka tidak butuh perasaan. Semakin cepat mereka mendesak Anda untuk memberikan suatu komitmen (baik dalam bentuk seks, uang maupun pernikahan), semakin Anda harus mencurigainya bahwa ada udang di balik batu.

 

9. Hindari isolasi

Predator selalu berupaya agar mangsanya tidak lepas dari jeratannya. Salah satu upayanya adalah memutuskan hubungan Anda dengan dunia di luar Anda dan dirinya. Ini dicapai dengan:

  • Berupaya agar Anda tidak menghubungi teman/keluarganya yang tahu rahasia-rahasia hidupnya
  • Berbohong tentang teman-teman dan kerabat Anda, atau mendiskreditkan mereka. Sampai-sampai Anda tidak percaya lagi dengan teman-teman Anda
  • Pemaksaan secara langsung (dipaksa tidak pergi ke luar rumah, dikunci di kamar, dll)

 

Karena itu upayakan untuk tetap mengembangkan persahabatan yang sehat dengan teman-teman lain sekalipun kita sudah pacaran. Hindari pacaran terlalu intens dan ekslusif sehingga tidak ada waktu dan tempat untuk hubungan-hubungan yang penting lainnya.

 

10. Kesepian adalah mangsa yang paling empuk

Seorang klien saya, istri seorang pengusaha, sebut saja namanya Sri. Sri harus menghadapi amukan suaminya karena ketahuan selingkuh. Walaupun perselingkuhan itu tidak melibatkan hubungan badan, namun masalahnya ternyata ia telah menghilangkan uang milyaran Rupiah yang dipakai selingkuhannya dengan alasan “investasi”.

Sri bukanlah seorang wanita genit yang suka menggoda orang lain. Ia wanita baik-baik yang akhirnya menggunakan Tinder karena ia kesepian. Ia berharap menemukan seseorang untuk bisa mencurahkan isi hatinya, namun ternyata lawan bicaranya memanfaatkan kesepian hatinya untuk mendapatkan harta kekayaannya.

Istri yang kesepian, pejuang cinta dan wanita yang sendirian yang kaya selalu merupakan makanan empuk bagi para predator. Mereka mudah menerima orang yang bisa memberikan kebutuhan emosi mereka.

Karena itu selalu upayakan untuk memperhatikan pasangan Anda. Jangan biarkan istri/suami Anda merasa kesepian. Bagi yang jomblo, upayakan untuk tetap memiliki sahabat-sahabat dan kegiatan yang bermakna, sehingga kesepian itu tidak terlalu terasa.

 

Demikianlah 10 tips yang dapat Anda gunakan untuk menghindari jebakan betmen predator cinta. Berpacaranlah yang sehat, waspadalah dan tetap melihat. Saya mendoakan Anda selalu dilindungi dan dijagai Tuhan Yang Maha Kuasa dari cengkraman para penjahat cinta. Salam Pembelajar!

 

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?