5 Kebutuhan Pokok Emosi Anak yang Harus Dipenuhi Supaya Anak Tangguh

anak tangguh

Mengapa saya suka menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi)? Mengapa hal kecil seperti itu bagi suami saya menjadi masalah besar? Mengapa anak saya dengan mudah kecanduan rokok/narkoba sedangkan teman-temannya tidak? Kita sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar perilaku yang mengganggu dan menyulitkan kita. Sebagian di antaranya perilaku-perilaku yang tidak tangguh yang menghambat kita mencapai sukses. Dan kita takut anak-anak yang kita cintai memiliki karakter yang tidak tangguh. Terutama karena kehidupan semakin hari tidaklah pernah semakin mudah.

Baca juga: 13 Hal yang Tidak Dilakukan oleh Orang-Orang yang Tangguh

Jeffrey Young, ahli psikologi ternama dan pelopor terapi skema, menemukan bahwa kebutuhan-kebutuhan emosi mendasar yang tidak terpenuhi pada masa kecil, adalah penyebab banyaknya pola pikir yang terdistorsi dan rusak setelah mereka dewasa. Dan 5 kebutuhan emosional dasar bagi anak menurutnya adalah:

1. Secure attachment. Adalah kebutuhan untuk merasa aman, stabil, terpelihara dan diterima. Menurut teori kelekatan (attachment), manusia mengembangkan kelekatan yang berbeda-beda berdasarkan hubungannya dengan pengasuh utamanya saat ia masih kecil. Kalau pengasuhnya selalu hadir secara emosi, dapat dipercaya, dan responsif terhadap kebutuhannya, maka anak akan mengembangkan gaya kelekatan yang sehat (secure). Namun saat anak tidak mendapatkan ekspresi kasih sayang yang cukup, sering tidak hadir secara emosi dan diabaikan kebutuhan-kebutuhannya, ia akan belajar bahwa ia tidak layak untuk dikasihi, atau sebaliknya, orang lain tidak dapat dipercaya untuk memberikan kasih sayang yang ia butuhkan.

Kalau sang anak berpikir bahwa ia tidak layak untuk dikasihi, ia akan mengembangkan kelekatan yang cemas (anxious attachment) di mana ia akan menjadi clingy dan terus menempel pada orang yang dikasihinya, bahkan hingga mengganggu mereka.

2. Otonomi, merasa kompeten dan merasa memiliki identitas diri. Seorang anak perlu merasa mampu untuk melakukan hal-hal yang ia butuhkan sehari-hari, termasuk menyangkut edukasinya serta aktualisasi dirinya.  Ia perlu merasa mampu untuk memecahkan masalah. Untuk ini, seorang anak membutuhkan otonomi dan kesempatan untuk memilih dan memutuskan.

Kebutuhan ini tidak akan terpenuhi jikalau orang tua terlalu melindungi anaknya. Misalnya jika ia sering membantu mengerjakan tugas-tugas sekolah yang seharusnya dikerjakan secara mandiri oleh anak. Atau jika orang tua selalu menyelesaikan semua hal yang dibutuhkan dan masalah-masalah anak. Itulah sebabnya anak-anak yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga cenderung lebih tangguh daripada anak-anak lainnya.

Kebutuhan ini juga membutuhkan orang tua mengijinkan mereka gagal. Hal ini membutuhkan orang tua yang berani melihat anak mereka kesulitan (dalam taraf wajar tentunya) namun tetap mengasihi mereka.

Otonomi dan merasa memiliki kemampuan, beriringan dengan anak bisa merasakan dan menerima keunikan dirinya. Termasuk kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Ia merasakan memiliki identitas diri yang membedakannya dengan orang lain.

3. Bebas mengungkapkan kebutuhan dan emosi yang valid. Seorang anak membutuhkan untuk bisa mengungkapkan kebutuhan-kebutuhannya dan emosi-emosinya. Katakanlah emosi sedih (menangis) dan marah. Seringkali anak lelaki dikatakan, “anak lelaki tidak boleh menangis”, atau kita memarahi anak-anak kita karena mereka marah. Ini sebenarnya tidak membantu perkembangan mereka. Anak butuh bisa menyalurkan emosi mereka dengan sehat, tentu bukan berarti ia boleh memukul anak lain atau berteriak-teriak. Ia hanya perlu melabeli emosinya dan mengungkapkannya tanpa melukai orang lain.

Emosi anak bisa saja kita larang dan ia menurutinya (misalnya tidak menangis saat sedih, dan tidak marah saat diperlakukan tidak adil), namun sebenarnya emosi itu tetap ada, hanya saja ditekan dan akibatnya sang anak jadi seperti tidak berperasaan. Entah ia jadi sulit merasakan emosi, atau ia menjadi seseorang yang minim empati. Padahal kemampuan untuk meregulasi emosi adalah salah satu dari 4 skill tangguh. Kehilangan emosi berarti ia akan kesulitan untuk memiliki relasi yang sehat dengan orang lain.

4. Spontan dan bermain. Bertindak spontan seperti tertawa, dan bermain merupakan kebutuhan penting bagi anak. Salah seorang klien saya mengatakan bahwa orang tuanya pernah menamparnya hanya karena ia tertawa bersama-sama dengan teman-temannya. Peristiwa tersebut sangat menyakitkan dan menimbulkan luka baginya. Ia merasa tidak diterima apa adanya, dan karenanya di masa dewasa ia memiliki banyak masalah emosi, dan juga masalah relasi.

Demikian juga banyak orang tua yang merasa bermain adalah hal yang buang-buang waktu saja, sehingga mereka melarang atau terlalu membatasi anak-anak mereka untuk bermain. Padahal bermain adalah cara anak belajar, cara mereka menguasai kompetensi tertentu, dan cara mereka mengekspresikan diri mereka. Kemampuan untuk belajar secara menyenangkan dan bermain juga adalah salah satu dari 4 skill tangguh.

 

5. Batasan-batasan dan pengendalian diri yang realistis. Adalah tidak bertanggung jawab jika orang tua membebaskan anaknya untuk melakukan apa yang mereka inginkan tanpa batasan. Anak-anak ini justru berkembang tidak dengan sehat. Banyak dari mereka menjadi prokrastinator-prokrastinator yang tidak perform dalam pekerjaan mereka. Sebagian dari mereka menjadi narsistik yang tidak mampu menerima ketidaknyamanan walau hanya sedikit.

Sebuah Taman Kanak-Kanak dengan pekarangan yang tidak terlalu besar merasa tempat mereka terlalu sempit. Kepala sekolah memutuskan untuk membongkar pagar pekarangan agar anak-anak tidak merasa kesempitan dan bisa bermain dengan lebih bebas. Namun yang terjadi malah sebaliknya, anak-anak malah tidak berani lagi main di pekarangan dan memilih bermain di kelas. Pagar pekarangan itu ternyata menjadi batasan yang memberikan rasa aman bagi anak-anak (dan tentunya orang tua mereka), bukan batasan yang mengekang mereka. Demikian anak-anak kita membutuhkan batasan-batasan yang sehat dari kita supaya melindungi mereka, dan membuat mereka merasa aman untuk mengekspresikan diri mereka, bukan mengekang mereka.

Anak-anak butuh batasan termasuk dalam bentuk disiplin khususnya dalam hal moralitas dan etika, serta batasan waktu bersenang-senang dan mengatur waktu. Mereka juga butuh petunjuk dan pimpinan dalam berteman dan memperlakukan orang lain.

 

Upayakanlah kelima hal tersebut demi anak-anak kita. Kuatkanlah diri Anda sebagai orang tua, karena parenting bukanlah untuk Anda yang lemah hati. Salam pembelajar!

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?