Self-Coaching Mengambil Keputusan dalam Dilema Rumah Tangga

Dilema ibu rumah tangga atau wanita karir

Assalamualaikum.

Selamat siang coach, saya adalah ibu dari 2 orang anak, yang satu berusia 3 tahun dan satu lagi baby dalam kandungan 7 bulan.

Mohon pencerahannya di mana gejolak seorang ibu yang anaknya masuk sekolah PAUD dan saya ingin sekali melihat tumbuh kembangnya selama masa sekolah. Saya ingin sekali menjadi full time mommy 24 jam 7 hari dalam seminggu.

Saat ini saya adalah wanita karir, saya memiliki karir yang cukup bagus dan anak saya diasuh oleh kakek-neneknya. Kegalauan ini bertambah ketika saya dinyatakan hamil. Dalam hati saya mengatakan 1 anak saja ibu saya sudah kewalahan mengurusnya (karena saya masih memiliki adik-adik yang masih sekolah) sehingga orang tua saya sering kerepotan.

Terkadang anak saya makan tidak makan. Sedikit makannya, dan kalau dia tidak mau makan ya sudah. Tidur siang?? Jangan diharap 😭 … Saya mengerti bahwa ibu saya mungkin capek dan lelah. Saya tidak punya hak untuk marah. Apalagi kalau anak sedang sakit. Ini dilema terbesar saya. Saya ingin rasanya selalu dekat dengan anak saya, dengan demikian anak saya akan terawat dengan baik.

Saya sudah membicarakan mengenai hal ini dengan suami bahwa saya ingin menjadi IRT demi anak. Suami sebenarnya sudah menyetujuinya. Suami sudah meyakinkan kalau kebutuhan rumah tangga kami insya Allah akan dipenuhi olehnya. Tetapi masalahnya saya adalah anak tertua di keluarga saya dan harus mencukupi kebutuhan orang tua dan adik-adik saya. Orang tua saya sendiri tidak mendukung saya keluar dari pekerjaan saya sekarang.

Apa yang harus saya lakukan coach? Apakah saya mendahului ketetapan Tuhan?

 

Hanum Rangga (bukan nama sesungguhnya)

Baca juga: Haruskah Aku Resign dan Menjadi Ibu Rumah Tangga (Full Time Mom)?

 

JAWAB:

Dear Bu Hanum,

Sungguh beban dan tanggung jawab yang besar, di saat Ibu berjuang untuk mencapai kemapanan dalam keluarga kecil Ibu, Ibu juga harus berjuang untuk menafkahi keluarga asal Ibu, yaitu orang tua dan adik-adik Anda yang masih bersekolah. Apalagi saat ini Bu Hanum sedang mengandung anak ke-2, tentunya hal ini sangat menjadi beban pemikiran Ibu sehari-hari.

Untuk mengambil keputusan dalam kondisi seperti ini, pada prinsipnya ibu perlu melakukan dan menjawab beberapa hal ini (pembaca yang lain dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan powerful di bawah ini untuk self-coaching dalam mencari solusi dalam dilema yang dihadapi):

  1. Dari kacamata ibu, apakah inti permasalahan yang sesungguhnya?
  2. Telaah apa saja keadaan yang berkontribusi dalam inti masalah tersebut. Apakah kondisi orang tua? Kondisi adik-adik? Kondisi pekerjaan ibu? Suami? Atau kondisi lainnya? Secara spesifik kondisi orang tua, adik, suami, rumah seperti apa yang menyebabkan masalah itu?
  3. Berangkat dari penelusuran sumber masalah, daftarkan pilihan-pilihan apa saja yang mungkin menjadi jawaban terhadap permasalahan Ibu?
  4. Dari pilihan-pilihan yang ada, mana yang menjadi prioritas ibu? Apa yang positif dari pilihan itu?
  5. Apa dampak buruk apa yang mungkin terjadi dari pilihan itu? Apakah ibu dan keluarga dapat mengatasi dampak buruk yang mungkin ditimbulkan?

Dalam kondisi dilema seperti ini, mungkin ibu tidak akan bisa mendapatkan semuanya sekaligus. Dan perubahan mungkin harus dilakukan oleh keluarga dekat ibu. Perubahan yang seringkali membawa ketidaknyamanan pada awalnya. Tetapi tetap pilihan harus diambil.

Beberapa hal di bawah mungkin dapat membantu ibu untuk brainstroming pilihan-pilihan yang dapat menjawab masalah ibu:

  1. Bekerja part time
  2. Memulai bisnis di rumah
  3. Mengunakan aset (atau menjual aset) untuk membiayai adik-adik hingga mereka bisa mandiri dan membantu membiayai orang tua
  4. Meminjam ke Bank untuk biaya sekolah adik-adik
  5. Memulai bisnis sederhana di rumah orang tua yang dapat dikerjakan orang tua (sehingga anak dapat diurus sendiri)
  6. Meminta bantuan sanak saudara yang lain
  7. Memperbesar usaha suami atau meningkatkan karir suami sehingga penghasilannya bisa memenuhi kebutuhan keluarga asal ibu
  8. Menyewa suster untuk membantu mengurus anak di rumah orang tua
  9. Meminta adik turut membantu mengurus anak
  10. …. (isi sendiri)
Bagaimana pun ini mungkin saatnya beban ini tidak bisa Anda tanggung seorang diri. Ibu perlu berembuk juga dengan orang tua, adik-adik dan suami ibu untuk dipecahkan bersama sebagai satu keluarga.
Apapun juga yang akhirnya ibu dan keluarga pilih, saya berdoa untuk yang terbaik boleh terjadi untuk ibu, anak-anak dan keluarga ibu (baik keluarga asal maupun keluarga inti ibu saat ini).
Salam Pembelajar!
NB: Pada umumnya Anda bisa menyelesaikan masalah Anda sendiri dengan coaching tools sederhana yang dipaparkan di atas. Namun bilamana Anda membutuhkan bantuan profesional untuk dibantu coaching dalam mengambil keputusan besar yang berdampak panjang dalam hidup Anda, jangan ragu mengontak kami di bawah ini, atau mampir di halaman informasi mengenai life coaching.
The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Founder Pembelajar Hidup, Life Coach - Marriage Coach di Jakarta. Pembicara seminar di berbagai kota di Indonesia, di antaranya menjadi narasumber talkshow di stasiun TV BeritaSatu dan Tabloid Nova.
Bagikan:
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Anda pun dapat bertanya kepada kami seputar masalah cinta/relasi/pasutri dan parenting! Isilah form berikut ini:

  1. Kami tidak akan pernah memberikan data pribadi Anda kepada pihak ketiga lain.
  2. Keputusan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan Anda sepenuhnya berada pada Pembelajar Hidup. Kami mengambil keputusan berdasarkan relevansi, kesesuaian pada misi kami serta pada kompetensi kami.
  3. Mengingat kesibukan kami, kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan Anda dengan segera.

10 checklist persiapan diri untuk menikah

Bagaimana pendapat Anda?