Apa Bedanya Cemburu yang Wajar dan Tidak Wajar?

cemburu

Othello Syndrome: adalah gangguan kejiwaan yang mana seseorang berdelusi bahwa pasangannya sedang berselingkuh dengan orang lain tanpa adanya bukti yang nyata, sehingga menyebabkan kecemburuan yang berlebihan, dan terus-menerus menuduh pasangannya berselingkuh. Othello syndrome sering muncul dalam bentuk terus-menerus menuduh pasangannya selingkuh, pencarian bukti-bukti perselingkuhan, interogasi yang berulang-ulang, menguji kesetiaan pasangan dan stalking (melacak dan menguntit pasangan) maupun cyberstalking. Dan ini semua dilakukan secara obsesif.

Othello syndrome disebut juga cemburu patologis, atau cemburu delusional. Dan ini termasuk dalam kategori gangguan jiwa delusional di mana susunan kimiawi otak penderita berbeda dengan orang normal sehingga membutuhkan pengobatan dari psikiater. Namun apakah semua orang yang cemburu buta dapat dikategorikan sebagai Othello Syndrome? Bagaimana kita membedakan cemburu yang wajar dan tidak wajar itu?

Baca juga: Harus Sejujur Apa Kepada Pasangan?

Cemburu itu Wajar

Cemburu sebenarnya merupakan emosi yang wajar tatkala seseorang merasa hubungan eksklusifnya dengan orang yang dicintainya terancam. Secara alami kita merasakan cemburu saat pasangan kita:

  • Memberi perhatian khusus kepada lawan jenis lain
  • Memuji lawan jenis
  • Melakukan kegiatan eksklusif bersama lawan jenis

Tetapi kita hanya akan merasa cemburu jikalau lawan jenis tersebut berpotensi menjadi saingan kita. Misalnya kalau lawan jenis tersebut lebih ganteng, lebih cantik, lebih muda (untuk wanita), atau lebih berkarisma. Intinya kita cemburu kalau merasa lawan jenis itu lebih menarik daripada diri kita atau kalau pasangan kita menunjukkan ketertarikan padanya.

Seringkali cemburu terjadi karena adanya perbedaan tingkat komitmen antara kita dengan pasangan kita. Dalam sebuah pernikahan, komitmen itu seharusnya termasuk tidak menjalin hubungan yang dekat dengan lawan jenis lain selain pasangan kita. (baca juga: Pria dan Wanita Bersahabat tanpa Jatuh Cinta, Mungkinkah?)

Rasa cemburu merupakan respon alami dan wajar dari seorang manusia yang mengharapkan pasangannya adalah eksklusif hanya untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya sendiri, karena pernikahan monogami memberikan kesempatan yang lebih besar untuk kualitas pernikahan yang lebih baik, dan keluarga yang lebih berkualitas. Cemburu merupakan alarm yang mengingatkan kita untuk berjuang dan bersaing untuk mempertahankan hubungan berarti yang kita miliki.

Ada beberapa respon dari rasa cemburu yang mungkin kita lakukan, di antaranya:

  1. Menghindar/menyangkal
  2. Menanyakan perihal lawan jenis potensial tersebut kepada pasangan (baik secara asertif atau secara agresif)
  3. Menunjukkan ketidaksukaan tentang peristiwa tersebut, misalnya dengan cemberut, diam, membanting pintu dll.
  4. Mengancam pasangan/lawan jenis potensial
  5. Stalking/cyberstalking lawan jenis potensial
  6. Membatasi pasangan
  7. Mencoba memperbaiki hubungan dengan pasangan
  8. Mencoba membuat pasangan merasa bersalah

 

Cemburu dapat menjadi hal yang positif jika pasangan yang dicemburui menyadari bahwa orang yang dicintainya sedang cemburu kemudian berupaya untuk menghentikan perilaku yang menyebabkan kecemburuan tersebut dan berupaya memperbaiki hubungan mereka. Karena ini menunjukkan komitmen dan penghormatan pada perasaan pasangan.

Rasa cemburu menjadi cemburu yang tidak sehat kalau rasa cemburu:

  1. Tanpa ada kontribusi aktif yang menunjukkan seseorang tertarik pada orang lain selain pasangannya
  2. Tidak memiliki fakta nyata yang memadai
  3. Menyebabkan perilaku berlebihan yang mengganggu atau merugikan

 

Cemburu Tanpa Bukti

Kalau kita sendiri menyaksikan pasangan kita menggoda orang lain, menunjukkan perhatian khusus kepada orang lain atau mempunyai saksi yang dapat dipercaya dan meyakinkan bahwa pasangan kita pergi dengan lawan jenis yang lain tentu ini termasuk cemburu yang sangat wajar dan sangat sehat. Tetapi cemburu menjadi tidak sehat jika seseorang cemburu tanpa adanya fakta nyata bahwa pasangannya berkontribusi secara aktif menunjukkan ketertarikan kepada orang lain.

Kadang seseorang cemburu hanya karena ada teman yang menggodai pasangan kita. Maksud hati ingin bercanda  atau sekedar memeriahkan suasana, tapi sang teman yang melakukan tidak menyadari konsekuensinya bagi pasangannya. Dalam hal ini pikiran kita tidak menyesatkan kita, hanya saja mungkin kita kurang bijak menyingkapi hal-hal penting yang seharusnya perlu dikonfirmasi dan diteliti kebenarannya terlebih dahulu. Tetapi kadang pikiran kitalah yang sedang berpikir tidak rasional. Maka waktu kita merasa cemburu tentang pasangan kita, cobalah memeriksa hal-hal ini:

  1. Apa fakta yang mendukung pikiran tersebut?
  2. Apa fakta dan bukti yang membantah pikiran ini?
  3. Apakah kita pikiran kita sedang terdistorsi?

 

Beberapa distorsi dalam pikiran antara lain:

  1. All or nothing: memikirkan sesuatu pasti 100% baik atau 100% buruk, tidak ada yang berada di tengah-tengahnya
  2. Labeling: melabeli pasangan dengan cap yang buruk hanya berdasarkan 1 atau 2 kesalahan yang pernah dilakukan
  3. Emotional reasoning: menganggap perasaan kita sebagai bukti kebenaran yg objektif
  4. Magnification/minimization: membesar-besarkan bukti yang ada atau mengecilkan fakta yang justru sebenarnya menunjukkan pasangan kita adalah orang  yang setia.
  5. Fortune telling: Meyakini sesuatu pasti terulang berdasarkan apa yang pernah terjadi sebelumnya
  6. Mind reading: mengasumsikan mengetahui apa yang dipikirkan orang lain tanpa bertanya dan memastikannya terlebih dahulu

 

Tapi tatkala pikiran kita sangat meyakini pasangan kita selingkuh, padahal sangat sedikit bukti nyata yang memadai, bahkan lebih banyak fakta yang melawan keyakinan tersebut, ditambah lagi perilaku obsesif yang menyertainya seperti stalking/cyberstalking, interogasi, terus-menerus mengetes pasangan, terus-menerus memeriksa ponsel/email pasangan, maka cemburu buta itu bisa jadi merupakan gangguan othello syndrome.

 

Perilaku Tidak Sehat Waktu Cemburu

Bahkan tanpa othello syndrome, cemburu juga menjadi tidak sehat kalau kita meresponi cemburu itu dengan agresif, misalnya:

  1. Menanyakan perihal lawan jenis potensial tersebut kepada pasangan secara agresif
  2. Menunjukkan kemarahan tanpa mengkomunikasikan perasaan Anda kepada pasangan, misalnya dengan membanting pintu, berteriak, diam, dll.
  3. Mengancam pasangan dengan agresif
  4. Mengkontak lawan jenis potensial tersebut dan mengintimidasinya

 

Respon-respon ini tidak menyelesaikan masalah yang ada bahkan bisa menimbulkan sakit hati dan kerusakan yang serius dalam hubungan kita dengan pasangan.

Maka daripada merugikan, lebih baik rasa cemburu itu bukan dipendam, bukan juga diekspresikan secara agresif, tetapi secara asertif yaitu dengan membicarakan perasaan sakit hati, kecewa, takut dalam cemburu itu kepada pasangan kita dalam percakapan yang sehat.

Percakapan yang sehat dapat dilakukan dengan metode PASANGAN, seperti pada video di bawah ini:

Akhir kata, ingatlah selalu bahwa:

Asumsi, adalah rayap dalam sebuah relasi

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?