Kehilangan Kepercayaan pada Suami, Apa yang Harus Dilakukan?

Sedihnya diselingkuhi

Saya adalah tipikal cemburu dan curiga dengan suami saya, dan dia tidak mau dilakukan itu. Karena saya trauma sebelumnya dia sudah pernah selingkuh saat saya hamil, ditambah lagi karena hamil dan melahirkan berat badan saya belum turun banyak (saya baru 6 bulan melahirkan) saya sangat minder sama suami saya, yang ada dipikiran saya antara takut selingkuh lagi, suami saya jijik dengan saya dan menyebabkan rumah tangga saya ribut terus membahas hal yg sama, saya pun jadi marah-marah terus sama suami saya padahal dia sudah mencoba lebih baik, tiap minggu pun kami selalu jalan-jalan keluar bertiga dengan anak.

Apakah yg saya alami ini sindrom krisis percaya diri atau baby blues post partum?

Dan bagaimana mengubah cara pikir saya yg selalu curiga dan ketakukan seperti ini?

 

Titiek Saputra (bukan nama sebenarnya)

Catatan: pertanyaan ini adalah pertanyaan yang diajukan pada KULWAP: “5 Tips Ampuh Mengubah Krisis Menjadi Kebahagiaan dlm Pernikahan” yang diselenggarakan berkat kerjasama YPKA (Yayasan Pusat Kemandirian Anak) dengan Pembelajar Hidup, diikuti 152 peserta dari seluruh Indonesia.

 

Baca juga: Self-Coaching Mengambil Keputusan dalam Dilema Rumah Tangga

JAWAB: 

Diselingkuhi adalah peristiwa traumatik yang besar, dan seringkali meninggalkan bekas luka yang mendalam dalam jiwa seseorang. Diselingkuhi berarti dikhianati oleh orang yang paling dipercaya dalam hidup kita, itu gambarannya seperti kasus kejadian bianglala di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

Trust, atau “Saya percaya kamu” mengandung arti suatu kerelaan saya untuk menjadi rentan terhadap kamu berdasarkan harapan positif tentang tindakan dan niat dari dirimu.

Orang-orang yang naik bianglala sudah membiarkan diri mereka menjadi rentan untuk jatuh, dengan suatu harapan bahwa wahana yang mereka naiki adalah aman dan tidak akan ada sesuatu bahaya yang akan terjadi. Tetapi waktu wahana itu ternyata menjadi berbahaya, hilanglah sudah kepercayaan kita yang sudah menaruh harapan tadi. Dan akibatnya dapat ditebak bagi yang sudah naik bianglala terbalik di Yogyakarta tersebut: trauma naik bianglala lagi, sekalipun itu bukan di tempat yang sama.

Demikian juga yang terjadi dengan orang yang dikhianati oleh pasangannya. Trauma itu sangat besar sampai bisa membuat orang yang diselingkuhi pada waktu-waktu yang tidak dapat diduga berteriak-teriak histeris, bahkan mengancam pasangannya. Padahal kalau tidak kumat ia bersikap sangat manis pada pasangannya.

Bagaimana membangun trust yang sudah runtuh akibat perselingkuhan? Tidak ada jalan lain selain komitmen, transparansi, dan waktu.

  1. Pihak yang mengkhianati harus berkomitmen untuk meninggalkan selingkuhannya selama-lamanya dan berkomitmen untuk setiap hari menunjukkan kasih sayang yang tulus dan asli pada pasangannya
  2. Pihak yang mengkhianati perlu menjalani kehidupan yang jujur dan terbuka setiap saat pada pasangannya. Jujur dan terbuka khususnya dalam 2 hal: penggunaan waktu dan penggunaan uang.
  3. Pelan-pelan jika pihak yang mengkhianati konsisten melakukan hal-hal di atas, maka waktu akan menyembuhkan luka yang telah ditimbulkan perselingkuhan tersebut.

 

NB: ini bukan berarti penderita trauma tidak perlu menemui bantuan psikolog atau psikiater. Dalam kasus-kasus trauma berat, yang ditandai dengan insomia, mimpi buruk, melakukan tindakan yang merugikan seperti minum-minuman keras, gangguan terhadap kegiatan sehari-hari selama minimal 30 hari, penderita tetap memerlukan bantuan tenaga profesional khusus.

 

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Founder Pembelajar Hidup, Life Coach - Marriage Coach di Jakarta. Pembicara seminar di berbagai kota di Indonesia, di antaranya menjadi narasumber talkshow di stasiun TV BeritaSatu dan Tabloid Nova.
Bagikan:
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Anda pun dapat bertanya kepada kami seputar masalah cinta/relasi/pasutri dan parenting! Isilah form berikut ini:

  1. Kami tidak akan pernah memberikan data pribadi Anda kepada pihak ketiga lain.
  2. Keputusan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan Anda sepenuhnya berada pada Pembelajar Hidup. Kami mengambil keputusan berdasarkan relevansi, kesesuaian pada misi kami serta pada kompetensi kami.
  3. Mengingat kesibukan kami, kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan Anda dengan segera.

Bagaimana pendapat Anda?