5 Pelajaran dari Kasus Video Mesum ABG Sekolah Internasional Jakarta

anak ABG BBS mesum

Pagi ini saya terbangun oleh sebuah pesan Whatsapp. Seorang ibu yang memiliki anak remaja mengatakan, “Speechless nonton video mesum anak ABG 13 tahun dari sekolah internasional yang terkenal di Jakarta sedang memberikan BJ pada pacarnya. Apa yang harus diajarkan kepada anak saya?  Jangan pacaran? Seks itu dosa? bawa kondom? atau ajarin kalau pacaran jangan mau divideo?

Saya belum melihat video itu, dan berharap tidak perlu menontonnya. Saya bersimpati pada keluarga yang fotonya tertangkap dalam video tersebut. Namun kesalahan memang tidak terhindarkan dapat terjadi pada siapa saja. Tinggal apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian ini.

Baca juga: Begini Caranya Kita Tahu Game Ini Baik Atau Tidak Buat Anak Kita!

1. Bagi Pria Perekam dan Penyebar Video Mesum

Dari sudut pandang pacar si anak ABG tersebut, walau tidak kelihatan, ia dan yang menyebarkan video itu sudah berada di ujung tanduk. Karena hukum Indonesia memandang pornografi dan pornoaksi termasuk yang menyebarkannya sebagai suatu kejahatan pidana. Semoga Tuhan menolong Anda melalui saat-saat sulit menjelang dan membuat Anda bertobat untuk menjadi orang yang soleh, siapa pun Anda.

2. Bagi Para Wanita Muda ABG

Bagi Anda, para wanita muda, ABG, yang sangat berharga di mata Tuhan dan di mata orang tua Anda, saya mencoba memahami bahwa Anda sudah memiliki gejolak cinta romantis dengan lawan jenis, dan juga Anda mengalami tekanan sosial dari pergaulan dan teman-teman Anda. Tetapi Anda yang masih berada di bawah usia 18 tahun, adalah sangat disayangkan untuk mengikatkan diri pada seseorang yang Anda sebut pacar, dalam usia yang masih terlalu dini.

Masalahnya adalah, Anda yang masih di bawah usia 18 tahun, masih memerlukan pertemanan dan persahabatan yang luas (luas bukan berarti pergaulan bebas ya). Anda masih belum bertemu dengan begitu banyak tipe manusia dengan segala kualitas, karakter, kebaikan, keburukan dan kegilaan yang dimiliki masing-masing. Pilihan Anda juga masih sangat terbatas, belum terlalu banyak. Pacaran usia dini akan menjadikan diri Anda dan pacar Anda ekslusif dan menghambat jaringan pertemanan dan persahabatan Anda tersebut.

berteman seluas mungkin

Dalam usaha Anda bergaul seluas mungkin, Anda akan menemukan bahwa tidak semua teman Anda baik. Sebagian dari teman Anda dapat menarik Anda dalam lubang yang Anda akan sesali di kemudian hari. Sebagian lagi akan menyakiti Anda, yang lain akan menghentikan Anda meraih mimpi dan cita-cita Anda.

Perhatikan rambu-rambu agama dan dari orang tua untuk membedakan, mana teman-teman Anda yang akan melukai Anda dan mana yang membantu Anda untuk sukses dan bahagia.

3. Bagi Para Orang Tua Anak ABG

Bagi para ibu yang bekerja full time, pulanglah, anakmu membutuhkanmu! (Baca: Haruskah Aku Resign dan Menjadi Ibu Rumah Tangga (Full Time Mom)?) Banyak anak-anak kekurangan perhatian dari orang tuanya, dan mereka melakukan hal-hal yang nakal, memalukan bahkan kriminal untuk mendapatkan perhatian orang tuanya.

Bagi para ayah, mulailah memprioritaskan keluargamu! (Baca: Mitos 4: Success First, Family Can Wait)  Tahukah Anda bahwa anak gadis membutuhkan figur Anda sebagai model laki-laki yang ideal baginya? Tanpa kehadiran ayah, anak perempuan kehilangan figur dan akan mencarinya dari orang lain. Dan orang lain itu belum tentu lebih baik dari Anda (seringkali lebih brengsek).

Sedihnya, sebuah survei di Inggris menemukan bahwa rata-rata orang tua yang bekerja hanya meluangkan waktu sekitar 19 menit sehari saja untuk anak-anak mereka.

4. Pendidikan agama dan seks adalah dari keluarga

Mungkin masih ada orang tua yang berpikir untuk menyerahkan pendidikan agama dan pendidikan seks kepada sekolah maupun gereja/pesantren/vihara/tempat ibadah lain sepenuhnya. Pertanyaannya, bagaimana pendidikan agama maksimal 2-3 jam seminggu dapat mengatasi desakan dan bombardir informasi dari lingkungan, TV maupun dari internet 24/7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu?). Anak-anak itu membutuhkan orang tua mereka, yang mereka hormati untuk yang pertama-tama membangun dasar iman mereka, dan membangun dasar pengertian yang benar akan seksualitas.

Belajar agama dari orang tua

Karena itu seorang ayah dan seorang ibu haruslah yang terlebih dahulu memiliki moralitas dan iman yang baik untuk menjadi teladan bagi anak-anak. Tanpa hal ini, mustahil menuntut moralitas dan keimanan yang tinggi dari anak-anak kita.

5. Forgiveness

Terakhir, hentikan menyalahkan anak atau saling menyalahkan antara suami dan istri tentang anak-anak ABG yang berkelakuan buruk. Kita harus mengakui bahwa keluarga kita tidak IMMUNE. Sebaik apa pun orang tua mengajarkan anaknya tentang moralitas, tentang iman, dosa, kebenaran dan pendidikan seksual, tetap saja keluarga kita tidak bulletproof akan kejadian mesum seperti ini.

Terkadang anak khilaf atau mencoba-coba, atau memang merasa kurang diperhatikan. Maka berikanlah pengampunan. Terimalah anak kita apa adanya, walau sesakit apa pun hati kita karena hal itu. Ingatlah bahwa Tuhan juga sering kita sakiti saat kita memilih untuk bertindak seenak udel kita, saat kita pun melakukan kesalahan-kesalahan di mata-Nya.

Anak kita perlu dipulihkan, dan keluarga perlu bersatu, saling mendukung dan saling melindungi untuk menghadapi aib dan kesulitan yang akan muncul setelah hal itu terjadi.

Semoga Tuhan menyertai keluarga kita selalu sehingga dihindarkan dari kejadian serupa. Amin.

Saya Deny Hen, Salam Pembelajar.

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Founder Pembelajar Hidup, Life Coach - Marriage Coach di Jakarta. Pembicara seminar di berbagai kota di Indonesia, di antaranya menjadi narasumber talkshow di stasiun TV BeritaSatu dan Tabloid Nova.
Bagikan:
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

Anda pun dapat bertanya kepada kami seputar masalah cinta/relasi/pasutri dan parenting! Isilah form berikut ini:

  1. Kami tidak akan pernah memberikan data pribadi Anda kepada pihak ketiga lain.
  2. Keputusan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan Anda sepenuhnya berada pada Pembelajar Hidup. Kami mengambil keputusan berdasarkan relevansi, kesesuaian pada misi kami serta pada kompetensi kami.
  3. Mengingat kesibukan kami, kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan Anda dengan segera.

Seminar Resolusi 2019

Bagaimana pendapat Anda?