10 Pertanyaan Self-Coaching dalam Mengambil Keputusan Beresiko

Mengambil keputusan beresiko

Apa bedanya berani dengan nekat? Pertanyaan ini sering saya tanyakan kepada mahasiswa-mahasiswa saya ketika belajar tentang risk management. Bukan hanya mahasiswa, banyak orang dewasa juga masih kesulitan membedakan antara berani dengan nekat. Yang lain tidak berani sama sekali mengambil resiko dan selalu bermain aman. Tapi kenyataannya orang-orang yang luar biasa selalu berani mengambil resiko karena tanpa keluar dari zona nyaman, tanpa keluar dari zona aman, seseorang tidak benar-benar belajar. Dan selalu belajar adalah salah satu ciri orang tangguh. Lantas apa yang membedakan seseorang yang nekat dengan seseorang tangguh yang berani mengambil resiko?

Baca juga: Mengapa Kita Sering Mengambil Keputusan yang Salah dalam Hidup?

Jawabannya adalah terletak pada resikonya itu sendiri. Seseorang yang nekat adalah jika ia tidak mengukur resikonya, ia tidak mempersiapkan backup plan jikalau resiko itu terjadi. Sedangkan seorang yang berani mengambil resiko adalah seseorang yang penuh perhitungan, tapi tidak terpenjara oleh perhitungannya sendiri. Ia berani mengambil keputusan-keputusan yang bersiko, dan bersiap menghadapi resiko-resikonya. Bahkan sesungguhnya tidak ada keputusan yang tidak memiliki resiko sama sekali.

Seringkali kita hanya menghitung resiko buruk yang mungkin terjadi, tetapi kita tidak menghitung kerugian atas kesempatan yang hilang (lost opportunity cost) sebagai akibat tidak dilakukannya suatu keputusan.

Self-Coaching untuk Pengambilan Keputusan Beresiko

Bagaimana caranya kita mengukur resiko jikalau kita diperhadapkan dalam keputusan-keputusan yang beresiko? Berikut ini adalah sejumlah pertanyaan yang dapat ditanyakan kepada diri Anda sendiri sebagai self-coaching apabila Anda berada dalam situasi tersebut:

  1. Apakah resiko-resiko yang Anda hadapi jika mengambil keputusan tersebut? Beberapa resiko dapat dihitung dengan uang, tetapi tidak semuanya. Cobalah membuat daftar mengenai resiko-resiko tersebut.
  2. Apakah keuntungan/manfaat yang bisa Anda peroleh jika menjalankan keputusan tersebut? Dalam mempertimbangan suatu keputusan yang beresiko, tentu kita harus mempertimbangkan apakah manfaatnya mengalahkan resiko/potensi kerugiannya?
  3. Bagaimana keputusan ini membantu saya mencapai tujuan saya? Pertanyaan ini sangat penting karena menajamkan pemikiran kita tentang hal-hal apa yang memang penting (atau tidak penting) untuk dilakukan, dan apakah resiko tersebut benar-benar dibutuhkan untuk mencapai tujuan/gol yang Anda inginkan?
  4. Apa saja pilihan-pilihan yang saya punya? Kadangkala kita memikirkan keputusan yang beresiko ini karena seakan-akan kita hanya memiliki dua pilihan: lakukan atau tidak lakukan. Tetapi seringkali kita punya opsi lebih dari sekedar melakukan atau tidak melakukan. Mungkin masih ada hal lain yang bisa menjadi alternatif solusi yang bisa membantu kita mencapai tujuan kita dengan lebih baik.
  5. Apa hal terbaik (best-case scenario) yang akan terjadi jikalau keputusan itu dijalankan?
  6. Apa hal terburuk (worst-case scenario) yang mungkin terjadi jikalau keputusan itu dijalankan? Pertanyaan nomor 5 dan 6 membantu kita melihat lebih jauh tentang harapan, manfaat dan juga dampak terburuk yang mungkin terjadi kalau keputusan itu kita jalankan. Lagi-lagi kita mendapat masukan tambahan tentang keuntungan dibandingkan dengan harga yang harus dibayar.
  7. Seberapa buruk worst-case scenario itu jika terjadi? Secara khusus cobalah kalkulasi harga mahal yang harus Anda bayar jika kemungkinan terburuk itu terjadi. Dan cobalah untuk mempersiapkan diri menghadapi hal terburuk tersebut (lihat pertanyaan ke 8 dan 9)
  8. Bagaimana caranya meminimalisir resiko-resiko yang mungkin terjadi? Sesungguhnya tidak ada keputusan yang benar-benar tidak memiliki resiko, hanya saja resiko itu terlalu kecil kemungkinan untuk terjadinya, atau resikonya terlalu kecil dampaknya sehingga kita bisa abaikan. Namun untuk resiko-resiko besar yang mungkin terjadi kita perlu upayakan agar dapat diminimalisir. Artinya bisa dengan mengurangi kemungkinan terjadinya resiko tersebut, atau bisa juga dengan mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh resiko tersebut. Anda dapat menggunakan prinsip Pareto (80/20) untuk memilah mana resiko yang perlu diminimalisir mana yang dapat diabaikan (paling tidak untuk sementara).
  9. Apa yang perlu saya persiapkan sebagai backup plan jika resiko-resiko itu terjadi? Apa saja rencana cadangan Anda jika resiko terjadi, dan apa yang perlu dipersiapkan. Seberapa besar upaya yang perlu dilakukan untuk mempersiapkan hal tersebut? Umumnya setiap upaya mitigasi resiko membutuhkan biaya, dan biaya tersebut perlu diperhitungkan ke dalam perbandingan keuntungan/biaya untuk pertimbangan Anda.
  10. Seberapa penting keputusan ini akan berpengaruh dalam 5 tahun ke depan? Pikirkan apa dampak keputusan ini dalam hidup Anda secara jangka panjang. Apakah sepadan resikonya?

 

Dalam mengelola resiko-resiko sebagai dampak dari keputusan Anda tersebut, membuat Tabel Resiko sangat membantu. Tabel resiko adalah tabel yang mendaftarkan seluruh resiko yang Anda catat dan dilengkapi dengan kolom-kolom sebagai berikut:

  • Nama resiko
  • Peringkat
  • Penjelasan
  • Penyebab
  • Pemicu
  • Respon potensial (termasuk backup plan B dan C Anda)
  • Probabilitas (Anda dapat menggunakan pendekatan kategori RENDAH (1), MENENGAH(2) dan TINGGI(3))
  • Dampak (Anda dapat menggunakan pendekatan kategori RENDAH(1), MENENGAH(2) dan TINGGI(3))

 

Dengan demikian Anda dapat memiliki gambaran lengkap dan memberikan awareness yang Anda butuhkan untuk memutuskan apakah suatu keputusan itu benar-benar akan dijalankan atau tidak.

Semoga self-coaching dan tools sederhana ini dapat membantu. Saya Deny Hen, salam pembelajar!

promo e-book menemukan passion anda
The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?