Pelajaran Penting Tentang Pernikahan dari Kisah Ramayana

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengajak keluarga untuk mengunjungi Museum Wayang yang berada di wilayah Kota Tua Jakarta Utara. Museum ini memiliki koleksi lebih dari 4000 wayang dari beraneka bentuk dan bahan, dari Indonesia maupun dari manca negara.

Salah satu kisah pewayangan yang tentunya sudah sangat akrab di telinga kita di Indonesia adalah kisah cinta Rama dan Shinta dalam Ramayana.

Baca juga: 4 Pertanyaan Powerful Bagi Anda yang Diganggu Mantan Pacar yang Sudah Menikah

Dalam kisah Ramayana, diceritakan mengenai bagaimana Sri Rama dengan bantuan kera sakti Hanoman akhirnya bisa kembali merebut istrinya yaitu Dewi Shinta dari tangan Raksasa jahat Rahwana dari kerajaan Alengka.

Masalah muncul dalam kisah cinta tersebut saat Sri Rama tidak mampu membebaskan Shinta dengan cepat, bahkan konon membutuhkan waktu 12 tahun bagi Rama untuk bisa bertemu kembali dengan Shinta dengan mengalahkan Rahwana.

12 tahun dalam penawanan, Rama tidak yakin lagi akan kesucian Dewi Shinta. “12 tahun berada dalam genggaman Rahwana, jangan-jangan Shinta sudah dijamah oleh si raksasa jahat itu”, demikian pikir Rama. Maka Shinta pun harus membuktikan kesucian dirinya dengan melompat ke dalam api pengujian yang disebut dengan Agni Pariksha.

Para dewata tertegun dengan ketulusan dan kesucian diri Dewi Shinta sehingga mereka melindungi tubuh Shinta sehingga nyala api sama sekali tidak membakar kulit cantiknya.

Pelajaran dari Kisah Ramayana

Belum cukup kejadian ajaib itu untuk meyakinkan sang Rama, maka Shinta pun sambil berlinang air mata membuktikan kesucian dirinya dengan menyerahkan dirinya kepada sang bumi. “Kalau tubuhku pernah dijamah Rahwana, bumi pertiwi tidak akan menerima tubuhku yang kotor” demikian ujar Shinta sebelum tubuhnya perlahan-lahan masuk ke dalam bumi.

 

Kisah cinta Rama dan Shinta seharusnya bisa menjadi kisah cinta yang sempurna dengan ending yang cantik, kalau pasutri Rama dan sinta ini mempunyai 1 bahan yang sangat krusial dalam Great Marriage. Bahan ini merupakan dasar dari komitmen antara suami dan istri. Bahan tersebut bernama TRUST.

Trust dalam hubungan suami istri adalah suatu keyakinan yang kokoh bahwa pasangan kita:

  1. Tidak akan menghianati kita
  2. Akan selalu memilih untuk mencintai kita
  3. Akan selalu mengutamakan hubungan kita

Trust melindungi kita dari kerugian materi, dari perasaan insecurity, serta dari kejadian-kejadian yang mengenaskan seperti pada kisah Rama dan Shinta tadi.

3 cara sederhana dalam membangun trust dalam pernikahan:

  1. Be Trusthworthy. Jadilah seseorang yang bisa dipercaya. Tanyalah pada pasangan Anda, dalam hal apa saya sudah menjadi tidak dipercaya? Perbaiki hal-hal itu, lakukan perubahan
  2. Be Transparent. Katakanlah dengan jujur apa-apa yang terjadi. Berikan HP Anda pada pasangan. Jadikan rahasia itu menjadi hal yang tabu dalam hubungan Anda.
  3. Berikan kesempatan pasangan untuk menjadi trusthworthy & transparent.

 

Saya Deny Hen, Salam Pembelajar

 

 

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Founder Pembelajar Hidup, Life Coach - Marriage Coach di Jakarta, telah 11 tahun melayani konsultasi Love & Relationship dan menjadi pembicara seminar di berbagai kota di Indonesia termasuk di berbagai gereja dan vihara.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Anda pun dapat bertanya kepada kami seputar masalah cinta/relasi/pasutri dan parenting! Isilah form berikut ini:

  1. Kami tidak akan pernah memberikan data pribadi Anda kepada pihak ketiga lain.
  2. Keputusan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan Anda sepenuhnya berada pada Pembelajar Hidup. Kami mengambil keputusan berdasarkan relevansi, kesesuaian pada misi kami serta pada kompetensi kami.
  3. Mengingat kesibukan kami, kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan Anda dengan segera.

cek hubungan pasangan

Bagaimana pendapat Anda?