Dr. John Gottman, pakar pernikahan, berulang kali menekankan bahwa perselingkuhan merupakan hasil dari diskoneksi yang terjadi secara bertahap dalam sebuah pernikahan. Beliau mengatakan bahwa masalah dalam pernikahan mengakibatkan perselingkuhan, bukan sebaliknya. Namun bukan berarti tidak ada perselingkuhan yang mungkin terjadi dalam sebuah keluarga yang bahagia. Dan hal seperti ini berulang kali saya temukan dalam ruang konseling.
Baca juga: Mitos 5: Affair Adalah Penyebab Perceraian
Apa penyebab perselingkuhan dalam keluarga bahagia?
Secara sederhana, ada 2 penyebab perselingkuhan:
- Hubungan yang kurang harmonis
- Tidak menjaga batasan dengan lawan jenis
Memang ada sebab-sebab lainnya seperti revenge affair, yaitu selingkuh untuk membalas dendam pasangannya yang selingkuh, tetapi tentu ini tidak relevan dengan tema kita dalam artikel ini.
Yang sering saya temukan adalah bagi korban perselingkuhan, kondisi pernikahan mereka baik-baik saja, tetapi ternyata tidak bagi pasangannya. Pasangannya memendam kekesalan, menghindar agar tidak terjadi konflik, tetapi kekesalan itu bertumpuk-tumpuk dengan berjalannya waktu. Pada saat kondisi memburuk, seseorang yang lain memberikan perhatian dan pelaku merasa dicintai. Ia merasa hidup kembali. Jatuhlah ia ke dalam perselingkuhan. Kasus seperti ini cukup banyak terjadi, sedihnya korban baru memahami apa yang terjadi di ruang konseling.
Namun tidak jarang pernikahan yang mana suami dan istri sama-sama benar-benar bahagia juga ternyata jatuh ke jurang perselingkuhan. Ini sering disebabkan karena batasan-batasan hubungan dengan lawan jenis yang dilanggar terus-menerus.
Mengapa tidak menjaga batasan dengan lawan jenis?
Kita harus melihat apa yang ada di balik kegagalan seseorang menjaga batasan dengan lawan jenis (di luar sebab pernikahan yang buruk tentu saja). Setidaknya ada 5 penyebab kenapa dia ogah jaga batasan:
- Toleransi grey zone
- Sensation seeker
- Trauma masa kecil
- Tingkat religiusitas/moralitas yang rendah
- Lingkungan dan kesempatan
Pertama, sikap yang menoleransi wilayah abu-abu (grey zone). Maksudnya, pandangan yang menormalisasi atau toleran terhadap aktivitas microcheat seperti flirting, panggilan sayang, berulang kali merespon story, menyembunyikan chat dan berteman dekat dengan lawan jenis. Sikap toleran seperti ini mendorong seseorang untuk memberikan sinyal “I’m available” dalam arti yang nakal. Hal ini akan membuka celah perselingkuhan lebar-lebar.
Kedua, pencari sensasi kesenangan (sensation seeker). Sensation seeker adalah seseorang yang memiliki keinginan yang tinggi untuk merasakan kehebohan, resiko atau sensasi baru tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Tipe orang seperti ini biasanya mudah bosan, seringkali merasa hidup itu datar tanpa adanya kemeriahan yang baru. Karena itu mereka membuka batasan-batasan mereka karena mengharapkan kehidupan yang menyenangkan melalui hubungan-hubungan yang baru, termasuk hubungan intim dengan orang baru. Mereka merasa kenikmatan mengejar dan mendapatkan hati dari lawan jenis yang bukan pasangannya.
Ketiga, masa kecil yang mendapatkan kekerasan, baik itu seksual, fisik, atau pengabaian (sering disebut kekerasan pasif). Banyak orang yang menderita pada masa kecil mereka merasa frustasi dalam hubungan pernikahan mereka. Pernikahan mereka ternyata tidak seindah yang mereka harapkan dan mereka akhirnya mencari jalan pintas untuk merasa dikasihi dan dicintai. Terkadang luka-luka masa lalu itu membuat mereka mencari harga diri mereka dengan mendapatkan kekaguman dan cinta dari orang lain selain pasangan mereka. Walau mereka merasa dicintai oleh pasangan mereka, tidak jarang mereka rentan dan lebih mudah jatuh saat ada orang lain yang memberikan perhatian lebih atau saat mereka mendapatkan puja-puji dari lawan jenis lain yang menarik.
Ketiga penyebab tersebut tidak pernah berjalan sendirian. Mereka merupakan kerentanan yang bisa berujung pada perselingkuhan, tetapi bisa juga tidak. Penyebab keempat dan kelima yang seringkali membuat kerentanan itu berujung pada malapetaka.
Keempat, tingkat religiusitas/moralitas yang rendah. Manusia memang punya kemampuan untuk mencintai lebih dari satu orang dalam satu waktu yang sama. Ini berlaku pada pria maupun wanita. Satu-satunya yang membedakan kita dengan binatang adalah kita memiliki benteng moral/agama. Apakah semua pemuka agama berarti akan immune terhadap perselingkuhan? Sejarah membuktikan TIDAK. Ada faktor-faktor lain yang bisa menimbulkan kerentanan tadi. Selain itu pada prinsipnya banyak orang yang terlihat rohani dan bermoral, tetapi sedikit yang benar-benar memiliki tingkat religius yang tinggi. Mereka yang bukan hanya beriman, tetapi benar-benar menjalankan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari, dalam pengambilan keputusan. Mereka bersedia berkorban dan do extra mile untuk melakukan hal yang benar sesuai ajaran agama mereka, dan mereka yang benar-benar berupaya untuk mempelajari iman mereka dengan baik serta mengintegrasikannya dalam hidup mereka.
Kelima, adanya lingkungan yang mendukung atau malah mendorong perselingkuhan dan adanya kesempatan untuk selingkuh. Lingkungan yang memungkinkan adanya interaksi dengan lawan jenis yang privat dan panjang, seperti dinas luar kota, rekan kerja lawan jenis yang melibatkan diskusi intens bahkan sering termasuk di luar jam kerja. Bisa juga lingkungan yang menormalisasi hubungan-hubungan terlarang dengan lawan jenis lain.
Bagaimana pun perselingkuhan membawa luka dalam keluarga, akhirnya seringkali buruk dan menjadi malapetaka. Tetapi selalu ada kesempatan jika pelaku benar-benar bersedia bertobat, bertanggung jawab dan menebus kesalahannya kepada pasangannya.
