Buku “The 5 Love Languages”, merupakan buku yang menjadi eye opener bagi banyak pasangan. Buku itu menyadarkan kita bahwa kita seringkali mengasihi pasangan dengan cara yang salah. Sinyal kasih sayang kita tidak diterima oleh pasangan kita. Sejak Gary Chapman mempublikasikan buku itu, banyak relasi yang menjadi lebih baik. Dan sejak itu pula banyak riset yang dilakukan yang membahas dampak lima bahasa cinta dalam relasi pasutri. Namun kenyataannya tidak sedikit pula yang merasakan relasi mereka tidak berubah bahkan setelah mereka berdua membaca dan mencoba menerapkan buku tersebut. Apa yang salah?
Baca juga: 4 Hal Penting Tentang Bahasa Kasih yang Tidak Banyak Orang Tahu
Harus Diminta
Alasan pertama kenapa 5 bahasa cinta kehilangan tajinya adalah karena harus diminta. Pada umumnya para istri yang mengeluhkan hal ini. Suami-suami yang kurang pandai dalam hal bercinta, tidak memahami atau kurang sigap dalam memberikan bahasa kasih yang dibutuhkan oleh istri mereka. Istri-istri mulai meminta secara langsung tindakan menunjukkan rasa sayang itu pada saat ia membutuhkannya. Masalahnya, kalau ia menyampaikan saat ia membutuhkannya, ia akan menyampaikan kebutuhannya itu dengan cara yang agresif karena sudah kesal.
“Peluk aku dong yang, masa istrinya tidak dipeluk?”
“Liat tuh, suaminya bawain belanjaan istrinya. Ini berat-berat gini kok elo biarin gw yang bawa?!”
“Valentinan di rumah aja kita mah. Dia mana kepikir mau ajak dinner romantis?
Yang terjadi adalah walaupun para suami berupaya memenuhi tuntutan istri mereka, the magic is already gone. Istri tidak akan merasa suaminya mencintainya. Ia akan merasa suaminya tidak peduli, karena hanya akan lakukan itu kalau diminta. Hasilnya adalah istri-istri yang frustasi. “Aku kan sudah menyampaikan apa yang aku butuhkan. Dia tidak perlu menduga-duga, tapi kok dia tidak lakukan?”
Kunci penyelesaian masalah ini adalah: Katakanlah bahasa cinta yang Anda butuhkan, saat kondisi damai dan menyenangkan. Bukan saat Anda benar-benar membutuhkannya. Dan katakanlah dengan respek, tanpa menuntut atau menyalahkan.
Contoh:
- “Aku suka loh kalau kamu kadang suka peluk aku waktu aku di dapur.”
- “Sesekali kalau aku belanja, boleh nggak kamu bawain belanjaan aku? Tanganku suka sakit kalau bawa yang berat-berat.”
- Aku pengen banget kamu ajak aku romantic dinner. Minimal pas Valentine atau Anniversary. Boleh yah?
Suami yang Seperti Robot
Ada juga suami-suami yang sudah coba melakukan 5 bahasa kasih versi istrinya, tapi istrinya merasa plain banget. Ia tetap tidak merasa disayang oleh suaminya. “Dia tuh kayak robot, yang diminta sih dilakuin, tapi cuman template doang”. Biasanya ini terjadi jika cara menunjukkan kasih sayang yang:
- Hanya berdasarkan daftar tindakan yang diinginkan pasangan, tidak lebih dari itu. Daftar tindakan tersebut seringkali tidak mengandung tindakan yang merupakan hasil inisiatif sendiri, hanya yang diminta saja.
- Tidak disertai dengan bahasa tubuh yang memadai. Ingatlah bahwa manusia berkomunikasi tidak melalui kata-katanya saja, tetapi juga dengan intonasi, nada suara, dan bahasa tubuh. Mata, ekspresi wajah, gerakan tangan menunjukkan apa yang sebenarnya ada di benak pembicara. Dan manusia punya kemampuan untuk membedakan mana bahasa tubuh yang menunjukkan cinta mana yang tidak. Mengatakan “Aku sayang banget sama kamu” sambil menyilangkan tangan, dan mata melihat ke arah lain tentu tidak dirasa benar sayang. Atau permintaan maaf “ya sorilah”, dengan cepat tanpa melihat wajah pasangannya tentu tidak pernah dianggap sebagai permintaan maaf yang tulus. Ini hanya seperti anak kecil yang dipaksa minta maaf setelah memukul temannya.
Dalam banyak kasus, masalah utamanya adalah para pria yang tidak terlatih hidup dengan emosi, atau istilah psikologisnya memiliki masalah meta emosi. Mereka berpikir bahwa emosi itu hanyalah problem sehingga tidak boleh dipakai. Emosi itu harus diabaikan. Jangan cengeng katanya. Pria tidak boleh menangis.
Sebagian dari mereka merasa emosi itu hanyalah luxury (barang mewah). Biasanya mereka yang hidup sangat susah waktu dibesarkan, tidak ada waktu untuk berduka, tidak ada waktu untuk menangis, masalah hidup yang sulit bertubi-tubi ini harus diatasi, sehingga mereka mengabaikan emosi duka dan negatif itu untuk bertahan hidup.
Sebagian lagi tidak pernah diapresiasi dan dipuji oleh orang tua mereka, saat mereka mengalami hal yang baik, orang tua menegur mereka untuk tidak sombong, tidak boleh merayakan keberhasilan itu dan terus berjuang menjadi lebih baik lagi. Mereka bertumbuh dengan mematikan perasaan bangga, seakan-akan menikmati kebahagiaan itu sesuatu yang berdosa.
Dalam banyak kasus seperti ini, konseling akan sangat membantu untuk mengobati hati para suami yang dingin dan masalah meta emosi ini. Konseling pasangan terlebih lagi akan menolong pasutri untuk saling memahami dan berempati dengan apa yang terjadi pada waktu pasangan mereka kecil. Sesi-sesi pengungkapan itu begitu berharga, priceless bagi konselor walau menguras air mata (kadang termasuk air mata konselor juga).
Kepahitan yang Mendalam
Ada banyak pasutri juga yang sudah begitu lama merasa sendirian, tidak lagi mendapatkan ungkapan kasih sayang dari pasangan mereka. Kadang kekecewaan dan rasa kesepian itu begitu menyiksa sehingga membangun kepahitan atau kebencian pada pasangan mereka. Sistem rasa suka dan kagum mereka hampir padam. Termasuk juga pada pasangan-pasangan yang pernah melukai suami/istri mereka begitu mendalam sehingga mereka benci dan pahit sekali dengan pasangannya. Misalnya karena perselingkuhan, atau karena merasa bertahun-tahun dihina dan direndahkan, merasa pasangan lebih membela orang tua atau keluarganya sendiri daripada pasangan, dan lain-lain.
Dalam kasus-kasus seperti ini, hinaan (salah satu dari 4 tanda bahaya pernikahan) biasanya sudah muncul dan terus terjadi. 93% pasangan yang menggunakan hinaan dalam komunikasi, apalagi terus-menerus, akan berpisah dengan pasangannya dalam 6 tahun (studi di US). Masalahnya hinaan itu selalu akan membuahkan lingkaran setan di mana pasangannya akan kesulitan untuk bereaksi dengan tepat. Hampir mustahil untuk memberikan kebutuhan kasih-sayang pasangan kalau ia terus-menerus dihina. Itulah sebabnya upaya-upaya menunjukkan kasih sayang dengan 5 bahasa cinta biasanya terus-menerus gagal. Dan semakin gagal menunjukkan kasih sayang, pasangannya akan semakin meradang dan semakin menghina dan membenci pasangannya. Hal ini menyebabkan pasangannya semakin gagal lagi menunjukkan kasih sayang. Siklus negativitas terjadi.
Langkah pertama untuk menghentikan siklus negativitas dalam pernikahan ini adalah: Menghentikan kritik, judgement dan hinaan itu dengan segala cara. Buang jauh-jauh cara ini karena Anda pun tidak akan mendapatkan apa yang Anda inginkan dengan cara itu. Kemudian biasakanlah apresiasi verbal kepada pasangan, sekalipun itu hal yang kecil yang berhasil dilakukan oleh pasangan Anda. Lebih baik memuji saat pasangan Anda berhasil menunjukkan kasih sayang (sekalipun hanya sedikit), dan stop menghakimi kegagalannya dalam bahasa kasih.
Luka yang pernah terjadi di masa lalu juga harus diproses dan rekonsiliasi. Dalam banyak kasus memang membutuhkan konselor pernikahan untuk menengahi Anda yang mencoba rekonsiliasi luka masa lalu dengan pasangan. Konselor akan menengahi, menuntun dan melatih Anda berdua untuk akhirnya bisa melakukan sendiri jika terjadi lagi hal-hal yang menyakitkan dalam pernikahan Anda.
Ternyata tidak semudah itu yah menjalankan 5 bahasa cinta. Tetapi dengan niat yang tulus untuk terus mencintai pasangan Anda, sekalipun ia sudah mengecewakan Anda, pada akhirnya Anda bisa menikmati hubungan yang indah bersama pasangan. Cobalah tips-tips di atas, dan kalau gagal tidak perlu kuatir, masih ada konselor kami yang siap menolong pernikahan Anda. Hubungi kami kapan saja di WA kami di bawah ini.
Marriage counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
