Apakah Konseling Pernikahan Efektif? 6 Fakta tentang Konseling Pernikahan

Masalah dalam pernikahan bukanlah sesuatu yang asing bagi semua orang yang sudah menikah. Tentunya tidak semua orang membutuhkan pihak ketiga dalam mengatasi masalah pernikahan, tetapi bila Anda menginginkan solusi yang lebih cepat dan tepat, seringkali konseling pernikahan menjadi pilihan yang tepat.

Namun bagaimana keefektifan konseling pernikahan? 6 fakta ini perlu Anda ketahui sebelum pergi ke seorang psikolog/konselor.

1. Statistik menuntukkan tingkat kepuasan klien yang tinggi

Menurut riset dari American Association of Marriage and Family Therapists, pasangan yang telah menghadiri sesi terapi menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi. 98% responden menyatakan mereka mendapatkan terapi yang sangat baik dan 97% mengatakan mereka mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan. 93% responden juga mengatakan mendapatkan peralatan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah.

Baca juga: 5 Solusi Jika Suami Menolak Ikut Konseling Pernikahan

2. Konseling berdua lebih murah daripada konseling seorang diri

Datang mencari bantuan berdua selalu lebih baik daripada seorang diri. Pergi ke konselor bersama pasangan dapat dengan cepat menemukan sumber masalah dan mencari solusi bersama, sehingga jumlah sesi yang dibutuhkan akan menjadi lebih sedikit dan lebih cepat. Ini berarti Anda dapat menyimpan uang Anda untuk kebutuhan lainnya.

Namun demikian, sebagian besar pasangan yang bermasalah merasa kesulitan jika harus membawa pasangan mereka ikut konseling. Seringkali suami yang menolak untuk ikut konseling (walau tidak jarang juga istri yang menolak. Silakan baca artikel: 5 Solusi Jika Suami Menolak Ikut Konseling Pernikahan).

Bagi Anda yang mengalami hal seperti ini, tetap jauh lebih baik jika Anda yang sudah merasa membutuhkan pertolongan untuk segera datang pada konselor / marriage coach seorang diri, daripada mendiamkan masalah, yang mana pada waktunya akan membuat bom waktu pertengkaran hebat itu akan meledak sewaktu-waktu dan resiko perceraian sudah di ambang pintu.

ilustrasi pertengkaran suami istri

3. Konseling pernikahan terkadang tidak efektif

25% pasangan yang mengikuti terapi pernikahan mengalami hubungan yang lebih buruk dalam kurun waktu 2 tahun setelah selesai terapi, sedangkan 38% pasangan ternyata tetap bercerai dalam waktu 4 tahun setelah terapi pernikahan selesai (Barrett, et al., 2011). Masalahnya selain psikolog/konselor yang tidak diperlengkapi secara khusus dalam masalah rumah tangga, juga terkadang salah satu pihak sudah memutuskan bahkan sebelum datang ke konselor.

 

4. Konseling pernikahan dapat menuntun pada perceraian

Dalam banyak konseling pernikahan, prinsip agama seringkali tidak relevan, karena yang menjadi tujuan adalah kebahagiaan individu, baik suami maupun istri. Karena itu dalam konseling pernikahan, bisa jadi individu justru menemukan bahwa kebahagiaan akan diperoleh dari perceraian. Bahwa mereka saat ini berada dalam relasi yang beracun (toxic relationship) sehingga konselor/psikolog memberi dukungan untuk mereka berpisah.

Dalam suatu konseling pernikahan yang menghadapi perselingkuhan, seorang klien disarankan oleh seorang psikolog, “Silakan Anda mempertimbangkan apakah akan menceraikan istri dan menikahi selingkuhan, atau putuskan selingkuhan dan kembali kepada istri. Tetapi Anda harus memutuskan, jangan digantungkan!” Suatu saran yang justru malah dapat memberikan konklusi yang tidak diinginkan oleh istrinya.

Fakta ini yang mengakibatkan konseling pernikahan belum tentu berhasil mempertahankan pernikahan, malahan bisa menuntun pada perceraian. Namun demikian masih banyak psikolog/konselor yang punya semangat utamanya adalah mempertahankan pernikahan. Mereka akan selalu berusaha mempertahankan pernikahan dengan pengecualian adalah kalau salah satu pasangan tidak mau menghentikan perselingkuhan atau melakukan KDRT jenis karakterologikal.

Prof. Julie Gottman sendiri mengatakan bahwa dalam banyak kasus, konselor yang menerapkan konseling individu yang terpisah (bukan konseling pasangan bersama-sama) dalam menyelesaikan masalah pernikahan justru seringkali menyebabkan perceraian.

5. Semakin cepat datang konseling, semakin efektif

Time is money” kata businessman, tetapi waktu juga berarti keefektifan konseling. Semakin cepat pasangan datang kepada konselor, semakin cepat pula masalahnya dapat ditangani sebelum menjadi terlalu kompleks dan menjadi seperti kanker yang sudah menjalar kemana-mana.

Bahkan sekarang sudah mulai umum premarital counseling, atau seperti yang dimiliki Pembelajar Hidup: premarital coaching, sesi coaching, bimbingan maupun konsultasi bagi calon pengantin yang akan menikah, sebagai tindakan preventif untuk menyelesaikan potensi masalah-masalah yang bisa timbul dalam pernikahan kelak.

6. Titel dan gelar belum tentu menjamin efektifitas sesi konseling pernikahan

Riset dari Consumers Reports menunjukkan bahwa banyaknya edukasi yang telah dikenyam oleh seorang konselor/psikolog tidaklah berkaitan dengan efektifitas sesi konseling. Survei tersebut menunjukkan bahwa para responden yang berjumlah total 4000 orang merasa tidak ada perbedaan antara menemui psikolog, psikiater atau pun pekerja sosial. Hal ini dapat dimaklumi karena banyak dari para profesional tersebut tidak mendapatkan pendidikan khusus mengenai pernikahan.

 

Bagikan:
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares

Bagaimana pendapat Anda?