Apakah Flirting Termasuk Selingkuh?

flirting

“Kamu selingkuh!” ujar Karina sambil menangis.

“Nggak!” Benny mengelak, “Aku nggak tidur sama dia kok, baru WA-an doang,”

Banyak orang berpikir kalau apa yang sudah dilakukannya belum termasuk selingkuh karena tidak melibatkan hubungan intim (atau lebih spesifiknya sexual intercourse). Namun apakah benar demikian?

Baca juga: Pertanyaan yang Harus Ditanyakan kepada Pasangan yang Selingkuh

Mengutip perkataan Dr. John & Julie Gottman, definisi selingkuh adalah: kedekatan yang rahasia secara fisik atau emosional dengan orang lain selain pasangan. Definisi ini sangatlah tepat karena menjelaskan bahwa tidaklah diperlukan hubungan seksual untuk dapat dikategorikan sebagai perselingkuhan. Perselingkuhan itu adalah suatu spektrum, bukan semata-mata hitam atau putih, ada berbagai jenis dan tingkatan perselingkuhan.

Berdasarkan tingkatannya, saya mengidentifikasi setidaknya ada 6 jenis perselingkuhan yang tercakup dalam 2 golongan besar: emotional affairs (perselingkuhan emosi) dan physical affairs (perselingkuhan fisik), detailnya sebagai berikut:

  • Emotional Affairs: Perselingkuhan yang masih tahap perasaan, belum ada tindakan fisik yang menunjukkan adanya hubungan pacaran.
    • Flirting (merayu): pelaku menggunakan kata-kata atau tindakan yang mencoba merayu dan menggoda. Tindakan ini seringkali merupakan upaya iseng-iseng berhadiah, yang kalau ditanggapi positif, bisa dilanjutkan ke tingkat yang lebih dalam lagi.
    • Affair in the heart (teman curhat): ini jenis persahabatan dengan lawan jenis yang rahasia dan lebih dalam daripada persahabatan dengan pasangan hidup sendiri. Biasanya pelaku dan targetnya sudah saling curcol dan curhat, nyaman satu dengan yang lain, lebih nyaman bahkan daripada pasangan sendiri. Pada tahap ini pelaku ada kemungkinan sudah jatuh cinta dengan teman curhatnya, atau targetnya yang sudah jatuh cinta dengan sang peselingkuh. Seringkali bagi pasangan-pasangan yang setia kejadian ini tidak disengaja, dan jika sudah menyukai teman curhatnya, ia berusaha menyangkalinya. Hal ini sebenarnya baik dan tepat jika ditindaklanjuti dengan menghentikan upaya-upaya natural untuk mendekati teman curhatnya ini. Namun biasanya tidak mudah untuk dilakukan karena sudah terlanjur sayang. Diperlukan komitmen dan tekad yang kuat untuk menghentikan affair in the heart ini.
  • Physical Affairs: Perselingkuhan yang sudah melibatkan adanya aktivitas fisik yang menunjukkan hubungan kekasih, antara pelaku (peselingkuh) dan target (selingkuhan)
    • Dating: Berkencan, pergi berdua, atau kencan-kencan ganda (untuk menutupi hubungan gelap mereka). Walau dilakukan berulang kali tetapi sentuhan fisik mereka belum sampai melakukan hubungan intim.
    • One night stand: Sudah melakukan hubungan badan, walaupun hanya semalam. One night stand dapat terjadi dengan orang yang baru dikenal ataupun orang yang sudah dikenal. Kadang terbawa oleh mabuk alkohol, tetapi mungkin juga karena tembok moral pelaku yang runtuh dan mengijinkan hal itu terjadi. Namun pelaku one night stand tidak terlibat secara emosi dengan pasangan seksual semalamnya itu. Kalau terjadi berulang-ulang, maka sang pelaku sudah masuk dalam kategori serial cheater.
    • Falling in love (emotional bonding): Kategori ini sudah termasuk perselingkuhan yang cukup mendalam. Pelaku sudah jatuh cinta dengan selingkuhan dan melakukan hubungan intim berulang-ulang dengan pasangannya. Tidak jarang juga sudah melibatkan banyak uang yang diberikan kepada selingkuhan, termasuk misalnya apartemen/tempat tinggal.
    • Serial cheater: Tipe ini adalah orang-orang yang baik terlibat secara emosi ataupun tidak, tetapi sudah sering melakukan hubungan intim dengan banyak orang walau statusnya sudah menikah. Penikmat PSK, dan playboy-playboy Don Juan masuk dalam kategori ini. Tidak aneh kalau pelaku jenis ini seringkali adalah orang-orang yang narsistik atau bahkan psikopat/sosiopat.

 

Dari penjelasan tentang tingkatan selingkuh di atas, kita ketahui sekarang bahwa flirting, sudah termasuk dalam kategori perselingkuhan. Untuk mengujinya, cobalah untuk bertanya hal ini kepada pihak yang melakukan flirting:

  1. Apakah flirting itu dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan pasangan, atau bahkan tanpa diketahui orang lain?
  2. Apakah pelaku tidak merasa masalah jika perilakunya diketahui oleh pasangannya?

 

Jawaban yang jujur terhadap pertanyaan-pertanyaan ini membantu untuk melihat apakah ada unsur rahasia dalam flirting yang dilakukan. Akan tetapi, bahkan kalau yang melakukan tidak merasa perlu merahasiakan sikap “ramah”-nya kepada lawan jenis selain pasangannya, masih ada satu pertanyaan lagi yang harus ditanyakan kepada pasangan:

Apakah pasangannya tidak merasa terluka jika mengetahui pasangan flirting kepada lawan jenis?

Banyak pasangan-pasangan yang saya bantu dalam masalah pernikahan, justru seringkali pasangan sudah merasa sangat terluka walaupun perselingkuhannya belum sampai kemana-mana, baru sekedar curhat, baru sekedar sayang-sayangan di WA, baru sekedar flirting.

Pada suami/istri yang pasangannya melakukan flirting tersebut, mereka pun menderita trauma, yang seringkali berwujud insomnia, flash back, ketidakstabilan emosi dan bahkan kesulitan konsentrasi dalam bekerja. Gejala yang sama persis bagi penderita trauma akibat perselingkuhan. Dan ini meyakinkan kita bahwa flirting sekalipun terlihat hanya pelanggaran kecil, ternyata bisa sangat melukai pasangannya.

 

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Para istri yang telah terluka, kadang mendapatkan pukulan lebih berat karena sang suami ogah mencari pertolongan profesional. Jawaban klasik para suami seperti ini adalah, “Masalah kecil aja kok butuh konseling?”

Tapi kenyataannya sang istri yang telah terluka terus mengalami penderitaan setiap hari yang disebabkan oleh memori buruk akibat perilaku suaminya. Lantas sang suami meminta istrinya pergi konseling ke psikolog/konselor, tapi mereka sendiri tidak bersedia ikut. Mereka takut kalau psikolog/konselor akan menghakimi kesalahan mereka. Fakta mengerikannya adalah mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang membawa pernikahan mereka ke pintu perceraian.

Benar bahwa istri-istri itu butuh konseling, tetapi tidak bisa sendirian. Walau secara psikologis bisa saja hal itu dilakukan, tetapi konseling individual akan membuat istri-istri yang sudah terluka itu tidak lagi merasa membutuhkan suami-suami mereka. Karena mereka sudah mendapatkan kebutuhan emosi mereka dari konselor mereka. Orang yang paling mampu menenangkan istri-istri mereka sesungguhnya adalah diri mereka sendiri sebagai suami. Merekalah yang perlu menebus dan kembali memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional istri-istri mereka. Seorang konselor pernikahan akan membantu pasangan agar bisa berfungsi kembali sebagai suami dan istri sebagaimana mestinya, bukan mengalihkan kebutuhan akan perhatian dan telinga kepada diri konselor.

Daripada mengobati lebih baik mencegah, karena itu, hindari merayu dan cobalah untuk membatasi hubungan dengan lawan jenis setelah menikah. Pengorbanan yang layak dan pantas bagi suami/istri Anda, dengan imbalan ketenangan dan kesuksesan dalam hidup Anda.

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?