3 Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak ala Neuroscience

meningkatkan motivasi belajar anak

Pembelajaran tatap muka di sekolah sudah dimulai, sekalipun masih terbatas. Hal ini memberikan harapan bahwa sekolah akan kembali normal seperti sedia kala. Namun kondisi uji coba ini masih belum tahu akan berapa lama lagi. Padahal PJJ seringkali menyulitkan orang tua dan banyak anak yang kehilangan motivasi belajar. Artikel ini akan menjabarkan 3 cara yang dapat Bunda/Ayah lakukan untuk meningkatkan motivasi belajar anak menurut Neuroscience.

Baca juga: Kuasai TIPS untuk Mengelola Stres Akibat Pandemi Covid-19

Menurut Edward D. Leci dan Richard M. Ryan, motivasi dapat dibagi atas motivasi dari luar (ekstrinsik) dan motivasi dari dalam (intrinsik). Saat manusia memiliki motivasi internal, ia mempunyai inisiatif yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan tertentu tanpa harus mengalami paksaan dari luar. Neuroscience menemukan bahwa saat kita termotivasi secara intrinsik, aktivitas dopamine di otak akan meningkat sehingga meningkatkan perasaan puas.

Neuroscience masa kini telah menemukan ada tiga hal yang mendorong seseorang memiliki motivasi internal, yaitu M.A.P.:

  • Mastery
  • Autonomy
  • Purpose

 

Mastery (Merasa Mampu)

Seseorang akan merasa termotivasi melakukan sesuatu jika dia merasa mampu melakukan hal tersebut. Seorang chef yang ahli lebih termotivasi masak daripada seorang wanita yang baru belajar masak di dapur. Seorang programmer veteran selalu punya motivasi lebih daripada seorang programmer pemula. Manusia selalu merasa nyaman dengan apa yang dia kuasai dan tidak nyaman dengan sesuatu yang tidak dikuasai atau tidak diketahuinya.

Karena itu untuk meningkatkan motivasi anak belajar, bantulah anak untuk menguasai pembelajaran sekolah. Ini berarti membantu anak bukan hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga menguasai cara belajar baru, baik secara teknologi (Zoom, Google Meet, Classroom, dll), maupun metode belajar untuk menguasai materi pelajaran.

Ini juga berarti menghilangkan atau setidaknya mengurangi gangguan-gangguan yang timbul di rumah yang bisa mengganggu proses PJJ. Siapkan tempat khusus, gadget khusus, termasuk headset, kamera dan alat-alat lain yang membuat dia merasa nyaman. Lebih baik lagi kalau anak dapat merasa seperti seorang pilot yang mahir dalam mengoperasikan alat-alat tersebut.

 

Autonomy (Otonomi)

PJJ itu memang bikin stres, apalagi kalau terus dipantau oleh orang tua sepanjang pelajaran berlangsung. Semakin anak kehilangan otonominya, semakin sulit ia memiliki motivasi internal untuk belajar. Penelitian terhadap 124 anak yang dilakukan oleh Universitas Padjajaran Bandung menguatkan teori tersebut. Mereka menemukan bahwa kontrol dari orang tua terhadap anak justru tidak memberikan pengaruh terhadap motivasi anak, tetapi otonomi memberikan dampak positif.

Maka sebagai orang tua, cobalah untuk memberikan otonomi yang tepat kepada anak. Tentu si anak tetap harus belajar, tetap harus di depan kamera, tetapi berikan otonomi untuk mengatur meja belajarnya sendiri, termasuk mengatur kapan ingin belajar apa, dan PR mana yang ingin dikerjakan terlebih dahulu. Anak yang sudah lebih besar dapat memiliki tanggung jawab atas jadwal hariannya sendiri. Kapan ia harus belajar, kapan bermain game, kapan bersosial media dan kapan mengerjakan tugas-tugas rumah.

Ada tiga pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada diri orang tua sendiri untuk memberikan ide otonomi anak:

  • Dalam hal apa anak-anak memiliki kendali?
  • Bagaimana mereka bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah mereka dengan cara mereka sendiri?
  • Apa yang dapat membantu mereka merasa bahwa mereka mengerjakan tugas/sekolah itu untuk diri mereka sendiri?

 

Purpose (Makna)

Manusia adalah mahluk yang punya makna. Ia tidak memiliki motivasi untuk mengerjakan apa pun jika ia merasa apa yang dikerjakannya tidak punya makna. Banyak sekali anak-anak yang kehilangan motivasinya untuk sekolah karena ia kehilangan arti untuk apa mereka sekolah. Mereka tidak memahami dan tidak mampu mengkoneksikan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan mereka sehari-hari atau pekerjaan mereka kelak (untuk para mahasiswa).

Yayoi Kusama (92 tahun) adalah seorang Jepang yang mengalami gangguan kejiwaan berat dalam hidupnya. 41 tahun dari hidupnya dihabiskan di rumah sakit jiwa dan kerap kali ingin bunuh diri. Namun ia berhasil bertahan hidup hingga saat ini menjadi salah seorang artis yang paling ternama dari Jepang dengan karya seni polkadotnya.

Yayoi Kusama, Museum Macan
Hasil karya Yayoi Kusama, gambar dari Museum Macan

Ia sering mengatakan, “If it were not for art, I would have killed myself a long time ago.” Ia menemukan makna dalam seni, itu yang membuat termotivasi untuk tetap hidup.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberikan makna/purpose dari sekolah anak-anak:

  1. Bantulah mereka untuk menemukan koneksi apa yang mereka pelajari dengan kehidupan mereka.
  2. Pengetahuan atau keahlian apa yang mereka bisa dapatkan kalau mereka berhasil menguasai pembelajaran tersebut? Hal apa yang menarik bagi mereka?
  3. Apa cita-cita dan mimpi mereka? Bagaimana belajar bisa membantu mereka meraih mimpi-mimpi mereka?
  4. Jika dalam PJJ mereka menghasilkan sesuatu, pajanglah hasil karya mereka sehingga mereka bisa menikmatinya dan memiliki rasa puas.

 

Pembelajaran Jarak Jauh masih belum dapat dihilangkan sepenuhnya, dan mungkin akan ada sepanjang hidup manusia ke depan, tetapi hal itu tidak harus menjadi momok yang membuat stress ayah dan bunda.

Jalan-jalan di Karimun,

melihat-lihat pasir dan batu.

Pelan-pelan membaca ya Bun,

Semoga artikel ini dapat membantu.

Salam pembelajar!

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?