Mengatasi Ketakutan untuk Menikah

takut menikah

Pernikahan memang tidak mudah. Dinamika dalam relasi dan konflik membuat kita terkadang melihat pernikahan seperti jebakan Betmen yang membuat jera bukan hanya para pelaku pernikahan, tetapi juga para muda-mudi yang sedang membayangkan masa depan mereka dengan (calon) pasangan mereka.

Baca juga: 7 Lesson Learned dari Pernikahan-Pernikahan yang Gagal

Setidaknya ada 3 hal yang membuat seseorang merasa takut untuk menikah:

  1. Karena orang-orang yang dekat dengan kita gagal dengan pernikahannya
  2. Karena berita-berita perselingkuhan dan perceraian yang setiap hari muncul dalam berita maupun lini media sosial kita
  3. Karena belum tahu caranya untuk memiliki pernikahan yang hebat

Inilah kondisi sebenarnya: sebenarnya pikiran kita sering mempermainkan kita. Ternyata pikiran kita tidak mampu menganalisa seluruh informasi dengan objektif. Contohnya pada poin pertama di atas, kita melihat orang-orang di sekitar kita yang bercerai atau selingkuh dan kita jadi takut dengan pernikahan, seakan-akan belum ada contoh dari orang-orang di lingkaran pertemanan dan keluarga yang memiliki pernikahan yang baik.

Nah, kali ini coba tenang dan mulai berpikir sebaliknya. Adakah orang-orang di sekitar Anda yang memiliki pernikahan yang baik? Menemukan mereka mungkin tidak terlalu mudah karena pernikahan yang buruk kabarnya ke mana-mana, sedangkan pernikahan yang baik justru cenderung adem ayem saja.

Demikian juga poin kedua, berita-berita tentang seleb yang rukun, adem ayem tidak menarik dan tidak punya nilai jual, tetapi berita perselingkuhan, konflik dan perceraian itu selalu laris dilahap netizen.

Jadi, cobalah untuk menyeimbangkan berita-berita negatif tentang pernikahan dengan cerita-cerita mengenai pernikahan yang baik. Banyak bergaul dengan pasangan-pasangan yang sudah menikah puluhan tahun dan tetap bersama, juga akan sangat membantu untuk belajar dari mereka dan mulai melihat bahwa pernikahan tidak seburuk itu.

Pertama kali saya mengendarai motor, saya merasa takut. Seorang kawan saya meninggal dunia saat mengendarai motor karena mencoba menyusul angkot di tanjakan. Tidak ada yang mengajari saya dengan baik hanya ada orang-orang yang menyuruh saya mencoba menaikinya, toh saya sudah mahir membawa sepeda di jalan raya. Teman-teman saya pun sudah bertahun-tahun membawa motor tanpa kecelakaan sekalipun.

Karena kebutuhan hidup, maka saya pun memberanikan diri dan mencoba. Pertama kali lancar, tapi berikutnya saya menabrak pagar jembatan. Saya pun terluka dan stang motor kakak saya bengkok. Dapat dikatakan saya nekat karena belum bisa bawa bebek sudah langsung bawa motor dengan gigi. Dan saya langsung membawanya di jalan raya, bukan belajar di parkiran terlebih dulu. Setelah kecelakaan kecil itu, untuk beberapa saat saya berhenti latihan mengendarai motor. Saya tidak benar-benar jera mengendarai motor karena beberapa bulan setelah itu pun saya membeli motor bebek dan mengendarainya setiap hari. Tetapi jelas saya tidak punya niatan sedikit pun untuk mencoba lagi mengendarai motor bergigi.

Berbeda pada saat saya belajar mengendarai mobil, saya ikut sekolah mengemudi 20 sesi dan kemudian dilanjutkan dengan les privat dari ayah saya yang setiap hari selama 1 jam mendampingi saya berkendara di kota, melalui tanjakan dan kemacetan jalan. Maka setelah saya mendapatkan SIM mobil saya, saya sudah tidak takut lagi mengendarai mobil.

Demikian juga mengenai pernikahan. Kita takut bukan hanya karena belum melihat contoh-contoh pernikahan yang indah, tetapi kita tidak tahu seluk-beluk pernikahan. Kita buta akan kehidupan setelah menikah itu seperti apa. Kita tahu sedikit sekali tentang bagaimana kita dan pasangan dapat membangun pernikahan yang hebat. Seringkali kalau ada pengetahuan itu pun diperoleh dari meme atau informasi di sosial media yang diragukan kebenarannya.

Semua dari kita membutuhkan pendidikan tentang pernikahan yang memadai. Pendidikan pernikahan melalui pendekatan agama memang sangat baik, namun perlu diperlengkapi dengan pendekatan sains tentang hal-hal apa yang membangun suatu pernikahan yang hebat. Karena pendidikan agama kuat dalam prinsip-prinsip rumah tangga (what and why), tapi sains memberikan informasi yang kaya tentang tekniknya (how).

Tidak jarang ketakutan dan keraguan itu muncul saat kita mulai merencanakan untuk berkomitmen dalam pernikahan. Kalau ini terjadi, jangan ragu untuk melakukan konseling pranikah dengan profesional yang berpengalaman. Konseling dapat menolong Anda mengambil keputusan yang tepat dan akan sangat menolong dalam pernikahan Anda kelak.

Singkatnya, banyaklah bergaul dengan para senior yang memiliki pernikahan yang baik, carilah informasi yang tepat tentang love and relationship dari sumber yang dapat dipercaya, dan ikutlah kelas/pendidikan pernikahan yang memadai, dengan demikian kami mendoakan Anda agar turut dapat merasakan pernikahan yang bahagia bersama orang yang Anda cintai.

 

NB: Hubungi kami dengan kontak di bawah ini untuk informasi mengenai kelas pernikahan atau bimbingan pra-nikah yang tepat untuk Anda.

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Bagaimana pendapat Anda?