Bagaimana Cara Menenangkan Pasangan yang Marah saat Bertengkar

menenangkan pasangan

Kesalahan besar yang sering dilakukan saat pasangan marah dalam bertengkar adalah berusaha menenangkan dengan mengatakan “Tenang…. Tenang…” Justru di sinilah konflik memanas. Kenapa? Karena yang sedang marah merasa emosinya diabaikan, keluh kesahnya tidak didengarkan.

Tidak ada manusia yang marah tanpa alasan (kecuali memang mengalami gangguan psikologis yah), jadi bukan respon marahnya yang digarisbawahi, tapi apa yang ada di balik itu.

Baca juga: 7 Langkah Memulai Kembali Komunikasi dengan Pasangan

Berikan Validasi

Karena itu hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencoba memahami perasaannya. Kalau Anda tidak memahami kenapa pasangan Anda marah, bertanyalah. Jangan tanya “Kenapa kamu marah?” Tapi gunakan kata tanya apa, “Apa yang bikin kamu marah?” Kata kenapa bisa terasa memojokkan dan menyalahkan tapi kalau apa lebih netral karena sedang mencari tahu apa yang menyebabkan, bukan menyalahkan.

Setelah Anda memahaminya, berikan validasi “Aku bisa memahami kenapa kamu marah”. Atau lebih baik lagi kalau kita mengulang perasaannya dan kenapa dia merasa demikian “Aku mengerti kamu marah karena aku lupa mengunci pintu rumah pagi tadi” Ini namanya validasi.

Validasi itu memahami pasangan, dan ini tidak ada kaitannya dengan Anda setuju atau tidak setuju dengan pernyataannya. Anda hanya memahami bahwa itu bisa membuat seseorang marah kalau mengalami hal tersebut.

Validasi itu seperti pelukan hangat di saat seseorang merasa gundah dan tidak nyaman. Dan dari berbagai riset, validasi adalah kekuatan besar untuk menenangkan badai.

Mengakui Kontribusi

Daripada bersikap defensif, lebih baik mengakui kontribusi Anda dalam masalah tersebut. Bersikap defensif akan membuat pertengkaran memanas, tapi mengakui kontribusi menguatkan validasi. Karena waktu pasangan menyampaikan kekesalannya, walaupun belum tentu benar semuanya, pasti ada setidaknya sedikit kebenaran di dalamnya. Misalnya, waktu pasangan marah dengan: “Kamu tidak pernah luangkan waktu untuk ngobrol!” Kita tidak mengatakan, “Siapa bilang? Setiap Sabtu kita ngobrol kok!”, tapi lebih baik mengakui kontribusi yang benar-benar kita lakukan, “Iya sorry akhir-akhir ini aku terlalu sibuk sehingga kita gak sempet ngobrol yah”

Time out

Terkadang sekalipun kita sudah memberikan validasi, mengakui kontribusi kita, tapi pasangan masih ngambek dan tidak berhenti menyerang kita. Itu artinya dia sudah masuk ke mode flooding. Flooding adalah istilah psikologis yang artinya otak kita sedang dibajak oleh emosi kita, dan kita diprogram otak untuk melakukan hanya salah satu dari 3 mode ini yaitu: fight, flight, freeze. Atau tempur, kabur dan kujur.

Kalau pasangan terus menyerang artinya dia ada di mode fight-tempur. Dia akan terus menyerang Anda sampai ia menang, tidak peduli apapun argumen Anda, Anda akan selalu salah. Tidak jarang Anda juga terpancing flooding juga, entah pakai mode tempur juga atau mode kabur atau kujur (kaku membeku, artinya tidak meresponi pasangan).

Otak kita tidak bisa kita lawan, mode flooding menunjukkan kalau seseorang sudah merasa terancam atau tidak aman. Percakapan sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Maka berikan tanda berikut, dengan kata-kata, “Sepertinya kita sudah flooding ya, nanti kita bicarain lagi (sebutkan kapan)”

Waktu untuk menyelesaikan flooding hanya boleh dalam rentang waktu minimal 20 menit break sampai 1 hari. 20 menit adalah waktu di mana otak bisa cool down dan 1 hari adalah batas waktu supaya Anda tidak mengabaikan masalah tersebut dan membiarkan masalah menggunung di kemudian hari.

Itulah 3 hal yang dapat dilakukan untuk menenangkan pasangan yang marah saat berantem. Silakan dicoba: validasi, akui kontribusi dan time out.

Salam pembelajar.

Bagaimana pendapat Anda?