5 Hal yang Sering Disangka Konseling Pernikahan (Padahal Bukan!)

konseling pernikahan bukan wasit

“Coach Deny, silakan beri kami masukan tentang pernikahan kami. Gak apa-apa Coach Deny mau salahin saya atau salahin istri, kami sudah sepakat akan menerima apa pun yang Coach Deny katakan!” demikian kata salah seorang klien kami. Dia tidak hanya satu-satunya, bahkan sebenarnya cukup banyak yang mengatakan hal tersebut kepada saya saat konseling pernikahan.

Saya rasa saya perlu meluruskan hal ini, karena memberikan masukan apalagi menjadi wasit dalam pertengkaran suami-istri jelas bukanlah konseling. Melakukan hal tersebut bahkan bisa menjadi blunder yang bisa membahayakan pernikahan itu sendiri. Tapi bukan hanya kedua hal itu saja, sepanjang pengalaman saya memberikan konseling pernikahan kepada banyak pasutri, kelima hal di bawah ini yang sering disangka konseling pernikahan, padahal bukan: (di akhir artikel saya akan menjelaskan seperti apa konseling pernikahan yang terbukti secara ilmiah dan dalam pengalaman saya sudah menolong banyak pasangan)

1. Memberi Nasehat Pernikahan

Konseling pernikahan tidaklah sama dengan memberi nasehat-nasehat pernikahan. Jikalau memang demikian, maka tidaklah perlu seorang konselor belajar ilmu konseling (dan coaching), cukup belajar ilmu pernikahan saja. Justru inilah yang jadi masalah karena banyak orang yang hanya belajar A-Z tentang pernikahan dan relasi, lalu menganggap dirinya sudah bisa menjadi konselor atau konsultan pernikahan. Hasilnya banyak pasutri yang datang kepada mereka ujung-ujungnya bertengkar lebih hebat dan bukan menjadi lebih baik.

Baca juga: Menghadapi Kemunduran dan Therapy Hangover dalam Konseling Pernikahan

Konselor pernikahan perlu banyak sekali belajar dan praktek konseling (atau coaching), di mana semua orang baik istrinya maupun suaminya diterima, tidak ada yang dihakimi atau disalahkan sehingga pemulihan hubungan bisa mulai terjadi. Ini bukan siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi bagaimana mereka belajar memahami satu sama lain.

2. Menjadi Juri dalam Konflik Pasutri

Suami berantem melawan istri, mereka sama-sama merasa benar, karena itu butuh juri atau wasit yang bisa memberi tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Itu pikiran mereka. Tapi untuk apa sebenarnya? Apakah dengan mengatakan bahwa istrilah yang benar (anggaplah memang benar demikian) akan membuat kondisi menjadi lebih baik? Atau kalau mengatakan bahwa suamilah yang benar akan membuat istri tidak lagi menekan suaminya?

Yang mereka butuhkan bukanlah menentukan siapa yang benar, siapa yang harusnya menjadi decision maker, atau siapa yang harus tunduk dan nurut. Tapi kalau kebahagiaan dan kedamaian yang sebenarnya dicari, mereka butuh untuk belajar bicara dengan tidak agresif dan memperlakukan pasangannya sebagaimana seorang yang dikasihi, bukan sebagaimana seorang musuh yang dibenci.

Hal ini berlaku juga dalam kasus-kasus perselingkuhan. Konseling pernikahan yang benar tidaklah menghakimi pelaku, tetapi mendengarkan secara penuh tanpa judgement baik dari pihak korban, maupun pihak pelaku.

3. Tempat Curhat Supaya Pasangan Tenang

Curhat memang sangat berguna dan menolong seseorang meregulasi emosi dan menenangkannya. Tapi tentu tidak hanya ini fungsi dari konseling pernikahan. Karena pertanyaannya, setelah curhat dan mengadu masalahnya, lalu apa solusinya? Bagaimana menyelesaikan masalah tersebut?

Konsultan/konselor yang tidak menguasai teknik konseling pasangan akan langsung jatuh pada memberikan nasehat dan langkah-langkah To-Do. Kadang hal ini bisa membantu, tapi seringkali juga tidak. Kenapa ini tidak efektif? Karena masalahnya adalah relasi yang buruk, bukan masalah performance, bukan pula masalah dengan diri sendiri.

Bahkan kalaupun kadangkala membantu, pemberian solusi seperti itu hanya akan membuat klien tergantung kepada konselor setiap ia menghadapi problem. Klien tidak diajari cara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, malah harus selalu datang kepada konselor. Ini bukanlah tujuan dari konseling.

Sayangnya beberapa kali saya temukan suami-suami yang mencoba memberikan istri-istri mereka konseling semata-mata agar pasangannya ini tenang. Tetapi sekali lagi masalahnya bukanlah terletak pada dirinya sendiri, tetapi pada hubungannya dengan suaminya. Tanpa kehadiran sang suami untuk memberi kebutuhan emosional istrinya, kondisinya tidak akan bisa berubah, malah akan semakin memburuk dengan berjalannya waktu.

4. Tempat Mengadu Masalah Pasangan (Supaya Pasangan Berubah)

“Coach Deny, tolong dong kasih tahu suami saya! Saya sudah nyerah, dia tidak mau mendengarkan saya!” demikian katanya. Kalau saya bertanya tentang apa tujuan dari konseling, mereka mengatakan, “Saya ingin suami saya berubah!”

Jadi mereka mengeluh tentang pasangan mereka dan ingin konselor menegur dan menyalahkan pasangannya supaya pasangannya berubah. Sayangnya konseling bukanlah tempat yang ajaib di mana dengan datang ke konselor maka siapa pun bisa berubah. Saya rasa perubahan sikap apapun pada manusia selalu merupakan campur tangan Tuhan Sang Pencipta. Tapi tugas konseling adalah menjembatani komunikasi sehingga keduanya mulai saling memahami, dan akhirnya membantu relasi mereka berubah. Jadi bukanlah perubahan secara langsung dan instan.

Yang cukup menyenangkan bagi saya adalah tatkala mereka selain mengatakan ingin pasangannya berubah, mereka juga mengatakan, “Ya, pasti saya juga harus berubah sih, nggak cuma suami/istri saya saja! Saya juga banyak salahnya!”

5. Supaya Pasangan Tidak Memutuskan Bercerai

Kadang kondisi salah satu pihak sudah demikian frustasi karena pasangannya memutuskan untuk berpisah. Konseling sering dipandang sebagai cara untuk membuat pasangannya stay dan mengurungkan niatnya untuk bercerai.

Sayangnya konseling  yang efektif tidak pernah punya agenda untuk menentukan apakah keduanya sebaiknya bercerai atau melanjutkan hubungan. Keputusan tersebut harus diambil oleh pasangan yang datang konseling, bukan oleh konselor.  Konselor mungkin memberikan insight mengenai resiko dan benefit dari suatu keputusan. Konselor mungkin juga membantu klien untuk melihat hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat karena terlanjur emosi atau kurang objektif dalam menilai sesuatu. Tetapi sekali lagi keputusan selalu ada di tangan klien masing-masing. Kalau sebelum klien datang konseling sebenarnya sudah mengambil keputusan, mereka cenderung resisten dengan apa pun yang akan dikatakan oleh konselor.

 

Yang Adalah Konseling Pernikahan

Jadi, apa yang benar-benar adalah konseling pernikahan? Konseling pernikahan yang terbukti efektif secara ilmiah dan dalam pengalaman kami adalah konseling pernikahan yang:

  1. Memberikan edukasi mengenai relasi pernikahan yang sehat
  2. Melatih pasangan agar mampu bertengkar dengan cara yang sehat, dan menyelesaikan masalahnya berdua, tanpa orang lain
  3. Melatih pasangan agar mampu menjadi tempat curhat bagi pasangannya
  4. Menjembatani percakapan agar bisa saling memahami yang memungkinkan perubahan
  5. Menjembatani percakapan sehingga luka dan kepahitan yang pernah terjadi, disembuhkan oleh pelakunya sendiri (pasangannya sendiri).
  6. Membantu pasangan melihat kondisi mereka dengan lebih objektif agar dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai hubungan mereka
  7. Menjembatani pemulihan rasa percaya yang sudah rusak karena perselingkuhan, tanpa menghakimi maupun manipulasi, tetapi dengan penebusan dan penyesalan pelaku.

 

Kontak kami melalui Whatsapp di bawah ini, konselor kami siap menolong Anda dengan konseling pernikahan yang terbukti efektif secara ilmiah.

Bagaimana pendapat Anda?