Master of One atau Jack of All Trades?

poster film the master

Banyak orang yang menyarankan kita untuk menjadi “master of one” (spesialisasi dalam satu bidang) daripada “jack of all trades” (menguasai banyak bidang tapi tidak ada yang ahli). Logikanya adalah kalau kita menguasai banyak hal, sedikit waktu yang bisa dikerahkan untuk menggali kemampuan kita itu, dan karena tidak fokus maka kita tidak bisa menjadi benar-benar ahli dalam bidang apa pun.

Baca juga: 10 Hal yang Bisa Membuat Anda Gagal di Masa Mendatang

Logika ini tidak salah, apalagi penulis Malcolm Gladwell dalam buku “Outliers” menjelaskan bahwa dibutuhkan waktu 10.000 jam untuk menjadi orang yang (ter)hebat dalam satu bidang, dan kira-kira itu tercapai dalam 10 tahun pengalaman.

Namun sebelum kita benar-benar mengamini pernyataan tersebut dan mulai mengambil action plan berdasarkan prinsip spesialisasi tersebut, kita perlu bertanya 3 hal:

  1. Apakah spesialisasi bidang yang akan kita pilih untuk mengerahkan 10.000 jam tersebut merupakan bidang yang tepat bagi kita?
  2. Apakah cukup dengan menguasai satu bidang saja?
  3. Apakah memang benar perlu menjadi sehebat itu (10.000 jam)? Atau sehebat apa yang kita butuhkan untuk sukses?

 

Coba, Loba, Timba

Coba pikirkan pertanyaan pertama. Jika Anda salah mengambil bidang, maka akibatnya 10.000 jam telah dikeluarkan tetapi bukan mustahil Anda masih menggigit jari Anda! Atau jangan-jangan Anda tidak bisa mencapai 10.000 jam tersebut karena kehabisan motivasi untuk mencapainya.

Karena itu bagi Anda anak-anak muda, mungkin belum waktunya Anda benar-benar menjadi master of one. Seringkali Tuhan tidak memberikan kepada Anda satu talenta tunggal tetapi serangkaian kemampuan yang dapat Anda kembangkan. Di sini Anda perlu melakukan coba dan loba sebelum Anda benar-benar menimbanya dan menjadikan bidang tersebut spesialisasi utama Anda.

Sebelum Anda memilih satu spesialisasi untuk Anda tekuni, Anda perlu mencoba berbagai macam keahlian yang menguji apakah:

  • Skill atau bidang ini mudah bagi saya
  • Skill atau bidang ini menyenangkan waktu mengerjakannya
  • Saya memang unggul dalam mengerjakan skill atau bidang tersebut

 

Tidak ada di dunia ini yang bisa meramalkan apakah Anda akan unggul dalam suatu bidang sebelum Anda benar-benar terjun ke dalamnya. Test bakat/minat memang dapat sangat membantu tapi mereka baru efektif jika Anda sudah mencoba berbagai macam kegiatan yang setidaknya mewakili keahlian-keahlian itu.

Waktu Anda mencoba, Anda tidak bisa hanya mencoba satu jenis keahlian saja, tapi Anda harus mencoba saloba-lobana (sebanyak-banyaknya – bahasa Sunda) yang mampu Anda tekuni. Semasa Anda muda, mungkin Anda perlu mencoba olah raga, hiking, wall climbing, berorganisasi, memimpin rapat, presentasi proposal, ikut serta dalam lomba debat, menggambar, memasak, menjahit, mempunyai blog Anda sendiri, melakukan riset sederhana, menjual barang, menjadi volunteer di sekolah/tempat ibadah, otak-atik alat elektronik, dsb dsb, sebelum Anda “klik” dengan apa yang Anda rasa itu adalah talenta dan passion Anda. Dari sini barulah Anda menimba dalam-dalam ilmu tersebut.

Hal ini berlaku bagi Anda orang tua yang sedang membantu mengarahkan anak-anaknya.

 

Satu Mana Cukup?

Jaman now beda dengan jaman dulu. Saat ini tidak ada satu profesi pun yang hanya membutuhkan satu macam skill untuk bisa berhasil. Mau berhasil jadi programmer? Anda tetap perlu presentation skill dan leadership skill saat Anda karir Anda mulai naik menjadi supervisor/manajer. Anda butuh kemampuan analisis yang tinggi dan kreatifitas, bukan hanya sekedar pintar dalam salah satu bahasa pemrograman.

Mau berhasil jadi dosen? Anda perlu kemampuan mengajar, riset dan kemampuan bahasa Inggris yang baik. Mau sukses jualan? Anda perlu skill negosiasi, presentasi dan ujung-ujungnya pada saat ini adalah digital marketing dan personal branding.

Anda membutuhkan multi talent untuk bisa memenangkan persaingan. Ini adalah salah satu saran saya yang sangat penting bagi para anak muda (baca selengkapnya di 10 Nasehat Penting untuk Millenials Indonesia di Era 4.0)

Terutama pada masa sekarang, Anda setidaknya perlu menguasai:

  1. Marketing (karena Anda harus pandai memasarkan diri Anda)
  2. IT (ingat bahwa kita memasuki era Revolusi Industri 4.0)
  3. Public speaking (agar dapat mempresentasikan ide-ide Anda dengan baik)
  4. Finansial dan instrumen investasi (tentu saja Anda tidak bisa hanya menyimpan uang di tabungan, bukan?)
  5. Coaching (karena menjadi pemimpin masa kini bukan lagi main telunjuk, tetapi kolaborasi dan pengembangan potensi bawahan)
  6. Desain graphic/video editting (untuk menunjang promosi ide-ide maupun diri Anda)

 

Tatkala Anda hanya terfokus pada satu keahlian saja dan tidak mempelajari keahlian lainnya, Anda akan dikalahkan melalui kelemahan-kelemahan Anda.

Sedikit catatan di sini, saya jadi ingat film Kungfu Hustle yang legend itu. Diceritakan tentang Stephen Chow yang memerankan seorang jago silat di era awal kemerdekaan Tiongkok. Awalnya sebuah rusun kumuh jauh di pinggir kota diganggu oleh kawanan bandit cap 2 kapak. Keseluruhan kawanan bandit tersebut harus bertekuk lutut di bawah kepahlawanan 3 jagoan silat dari rusun tersebut. Ketiganya merupakan jagoan hebat dengan jurus-jurus ternama di dunia persilatan. Namun pemimpin geng kapak yang sama sekali tidak bisa kungfu tidak menyerah, dia cukup menyewa jasa pembunuh terhebat di masa itu. Benar saja, semua pesilat tangguh di rusun itu rontok di tangan pembunuh terhebat #1 tersebut. Akhirnya Stephen Chow yang bertransformasi menjadi pesilat terhebat tampil mengalahkan seluruh geng kapak plus sang pembunuh terhebat dan dunia pun kembali aman dan damai.

Film itu sangat menarik bagi saya bukan hanya karena kelucuan yang super di film itu, tapi juga memberi kita pelajaran penting, bahwa Anda harus menguasai berbagai hal untuk memenangkan persaingan, kecuali kalau Anda adalah orang yang terhebat dalam bidang tersebut.

Hal ini membawa kita ke pertanyaan yang ketiga.

 

Yang Terhebat yang Sukses?

Jawabannya adalah YA, tentu saja, bukankah itu kesimpulan yang dapat dipelajari dari kisah Kungfu Hustle?

Tetapi jelas, itu bukan satu-satunya cara untuk sukses. Waktu Anda memikirkan tokoh-tokoh teknologi ternama masa kini, apakah tokoh-tokoh tersebut adalah yang paling hebat, setidaknya dalam perusahaan mereka?

Saya sangat yakin bahwa Bill Gates, Steve Jobs dan Larry Page bukanlah programmer terhebat di perusahaan mereka, setidaknya tidak saat ini. Kalau kita membaca sejarah, kita membaca tentang orang-orang hebat, individual-individual luar biasa yang berhasil menemukan rahasia alam dan teknologi yang mengubah dunia: Newton, Edison, Pasteur, Mendell, Wright bersaudara, dll, namun di masa sekarang pencapaian itu lebih banyak dilakukan secara tim.

Bill Gates dengan Microsoft hanya dapat semaju ini dengan kemampuan marketingnya dan kejeliannya dalam melihat kesempatan bisnis. Jobs terkenal karena visinya yang luar biasa dan kemampuan public speaking yang memukau yang akhirnya membawa Apple kepada kejayaannya.

 

Jadi bagaimana, kembali lagi ke pertanyaan: apakah sebaiknya menjadi “master of one” atau “jack of all traders”? Maka jawaban saya adalah: Anda perlu menemukan dulu visi hidup Anda (melalui penjajakan 4P: Proficiency, Passion, Personality dan Path) sebelum Anda menentukan apa skill utama yang menjadi fokus Anda menimba untuk menjadi yang terhebat, dan menyeimbangkannya dengan skill-skill tambahan yang mendukung Anda untuk mencapai visi Anda tersebut.

 

Notes: artikel ini sudah ditayangkan juga di Quora: Apakah kamu memilih menjadi “master of one” atau “jack of all trades”? Mengapa?

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagaimana pendapat Anda?