5 Tips jadikan SMART Target Anda tetap Smart

smart target

Memiliki target yang SMART adalah salah satu hal penting yang membantu Anda tetap fokus. Fokus sendiri adalah salah satu dari 4 unsur ketangguhan dalam rumusan Tangguh = Energy x %Focus x Skills x Support. SMART target memastikan efisiensi yang tinggi dari pemanfaatan energi tangguh Anda, termasuk untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi Anda. Tapi tatkala SMART target Anda menjadi tidak smart, apa yang harus dilakukan?

Baca juga: Bring Your Own Lunch (BYOL) Workshop: TANGGUH

Sekilas Mengenai SMART Target

SMART target tradisional merupakan singkatan dari Specific, Measurable, Achievable, Realistic and Time-bound.

  • Spesifik: Target/gol yang ingin kita capai haruslah didefinisikan dengan jelas dan mendetail, tidak general.
  • Terukur: Target tersebut haruslah dapat diukur, ada parameternya dan punya target dalam bentuk angka. Kalaupun targetnya kualitatif, kita perlu membuat kuantifikasinya sehingga dapat terukur.
  • Dapat dicapai: Target yang ditetapkan haruslah sesuatu yang dapat dicapai. Target tersebut bukan hanya semata-mata target yang turun dari langit, tetapi sesuatu yang mempunyai cara untuk dapat diraih. Ini bukan hanya wacana, tetapi sesuatu yang doable.
  • Realistis: Target tersebut haruslah realistis. Realistis di sini berarti ada sumber daya yang tersedia yang mana dengan cara dan langkah tertentu dapat mencapai target yang diinginkan. Dalam hal ini menargetkan mampu menghasilkan 2 M dalam 1 tahun dengan modal hanya 10 juta Rupiah misalnya, bukanlah sesuatu yang realistis.
  • Tengat waktu: Target yang baik harus memiliki jangka waktu. Contoh di atas bisa menjadi realistis, menghasilkan 2 M dengan modal 10 juta Rupiah, jika targetnya 100 tahun misalnya. Terlalu lama? Ya, benar itulah sebabnya kita harus mencantumkan jangka waktu untuk target tersebut.

 

Saat SMART Target Menjadi Tidak Smart

SMART target ini adalah tools yang sangat powerful untuk membantu kita fokus. Namun ternyata dalam penerapannya, ada jebakan-jebakan yang bisa membuat target SMART kita menjadi tidak smart lagi. Yaitu jika:

  1. Target tersebut tidak signifikan
  2. Target tersebut berada di zona aman

 

Dalam buku Smarter, Faster, Better, Charles Duhigg memberikan suatu contoh target yang tidak signifikan. General Electric suatu saat pernah menemukan bahwa divisi peralatan nuklir mereka memiliki performa yang tidak memuaskan. Mengira masalahnya ada pada tujuan yang tidak SMART, para eksekutif perusahaan kemudian memeriksa SMART target mereka. Mereka menemukan bahwa seluruh tujuan telah terdefinisikan dengan baik, rinci, tajam dan realistis, yaitu telah memenuhi seluruh kriteria SMART.

Namun karena laba yang terus merosot akhirnya tim konsultan datang mengunjungi pabrik peralatan nuklir tersebut. Salah seorang eksekutif di sana menjelaskan tujuan SMART mereka adalah mencegah para pemrotes anti-nuklir mengganggu pekerja yang memasuki pabrik. Hal ini terjadi karena para pemrotes itu dirasakan mengganggu motivasi kerja karyawan. Untuk melaksanakan tujuan SMART ini, mereka membangun pagar sepanjang 15 m dan tinggi 2,7 m (spesifik dan terukur) yang harus diselesaikan (time-bound) pada bulan Februari. Tujuan lainnya adalah mencegah pencurian yang dilakukan karyawan. Untuk itu, maka semua karyawan mengalami pemeriksaan setiap kali mereka masuk dan keluar pabrik. Semua kriteria SMART memang benar terpenuhi.

Masalahnya adalah mereka menghabiskan waktu begitu banyak untuk melakukan banyak target SMART remeh, sasaran jangka pendek yang tidak terlalu penting di bandingkan dengan tujuan utama sebuah pabrik peralatan nuklir. Para karyawan mengeluhkan tentang birokrasi yang sangat merepotkan yang akhirnya mengganggu kinerja mereka secara keseluruhan. Pemeriksaan karyawan untuk in-out pabrik telah mengakibatkan karyawan menjadi pulang lebih awal agar tetap dapat tiba di rumah pada waktu yang sepantasnya.

Divisi tersebut terjebak pada tujuan-tujuan SMART yang tidak signifikan dan tidak terlalu relevan terhadap visi utama jangka panjang sebuah pabrik peralatan nuklir. Akhirnya kinerja perusahaan secara keseluruhan menjadi korban.

Target Berada di Zona Aman

Kadang-kadang, demi tetap mendapatkan bonus, manajer-manajer menetapkan sasaran/target yang dapat dicapai dan realistis. Namun target tersebut tidak memberikan peningkatan pada karyawan maupun perusahaan. Sasaran yang dicapai memang meningkat dari tahun lalu, tetapi tidak signifikan dan memberikan terobosan. Bahkan terkadang “walau tutup mata pun target tersebut pasti dapat tercapai”. Inilah target yang berada di zona aman.

Zona aman memang terasa nyaman bagi karyawan, namun buruk bagi pengembangan diri dan perusahaan. Suatu target berada di zona aman jika target itu tidak membuat kita harus melakukan sesuatu yang berbeda dengan sebelumnya.

 

Kedua jebakan SMART target itulah yang menyebabkan saya lebih suka singkatan SMART yang adalah: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound. Karena adanya kata relevan, mengingatkan saya untuk terus memiliki target yang relevan dengan visi jangka panjang kita, dan menghilangkan kata “realistis” dari dalamnya, karena terkadang kita perlu mem-push diri kita dari realitas sehingga kita menemukan realitas baru mengenai hal-hal yang mampu kita capai, yang tidak terpikirkan sebelumnya.

5 Tips Supaya SMART Target Anda Tetap Smart

Maka inilah 5 tips yang dapat dilakukan agar SMART target Anda tetap smart:

  1. Miliki visi/tujuan jangka panjang yang mendasari SMART target.
  2. SMART target yang dibuat haruslah merupakan penjabaran detail step-by-step dari visi dan tujuan jangka panjang tersebut.
  3. Jabarkan SMART target menjadi workplan yang memungkinkan terobosan tahunan tersebut dapat dicapai.
  4. Komunikasikan visi dan SMART target Anda secara berkala, baik untuk diri Anda sendiri maupun untuk tim Anda (jika ini merupakan target perusahaan).
  5. Evaluasilah SMART target Anda apakah tetap relevan dan tidak berada dalam zona aman. Lakukan evaluasi tiap tahun, jangan ragu untuk melakukan revisi jika hal itu dibutuhkan.
The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Bagaimana pendapat Anda?