Mana yang Lebih Baik: Memisahkan atau Menyatukan Penghasilan Suami-Istri?

konflik masalah uang pada rumah tangga

Pertanyaan tentang manajemen keuangan bagi pasutri ini sering muncul dalam berbagai seminar pasutri yang saya pimpin. Saya sendiri pun selalu membahas hal ini dalam seminar-seminar mengenai konflik manajemen pasutri (misalnya ini: “MISS BEO” Sumber Konflik Suami Istri)

Ini termasuk pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena baik menyatukan baik memisahkan keduanya punya akibat negatif yang harus diperhatikan, bahkan sebelum Anda menikah.

Baca juga: 7 Masalah Pernikahan yang Berasal dari Diri Sendiri (1)

Anda perlu tahu bahwa menurut suatu riset, uang adalah sebab utama pria dan wanita bertengkar. Ini terjadi baik pada orang miskin maupun pada orang kaya, sama saja, ini seperti joke yang mengatakan bahwa:

Pasutri miskin berantem tentang “Besok apa makan”

Pasutri kelas menengah berantem tentang “Besok makan apa?”

Pasutri kaya berantem tentang “Besok makan siapa?”

Ini hanya joke ya, bukan saya mau merendahkan orang kaya. Joke ini cuma ingin menyatakan betapa mau miskin mau kaya sama saja pasti ada masalahnya.

Demikian juga masalah menyatukan atau memisahkan gaji suami dan istri. Banyak orang yang ingin memisahkan gaji suami dan istri, bahkan perjanjian pisah harta karena ingin:

  1. Supaya jika suatu saat usaha suami bermasalah, maka harta/gaji istri yang sudah dipisahkan itu aman.
  2. Jika suatu saat suami macem-macem (alias selingkuh) maka istri tidak perlu kuatir untuk menceraikan karena hartanya dipisah, ia tidak bergantung pada suaminya untuk kebutuhan sehari-harinya.

Nomor satu di atas, masalahnya lebih kepada mengurangi resiko di kemudian hari. Tetapi nomor dua, sesungguhnya akar masalahnya terletak pada TRUST. Sang istri atau orang yang berpengaruh baginya mungkin sudah pernah mengalami dikhianati, sehingga mereka ingin mencegah hal itu terjadi dengan memisahkan harta dan gajinya.

Tetapi justru itu masalahnya. Kepercayaan dalam hubungan suami dan istri tidak bisa tidak sebenarnya haruslah kepercayaan yang penuh baru hubungan itu bisa berjalan dengan baik. Uang adalah salah satu batu ujian yang penting yang bisa menunjukkan apakah pasangan ini bisa saling percaya atau tidak.

Selain itu pemisahan gaji juga bisa menjadi potensi konflik yang sulit terpecahkan. Contohnya: Biasanya ada pembagian tanggung jawab membayar tagihan tiap bulan, misalnya gaji ayah untuk kontrak rumah dan bayar listrik, internet, dll sedangkan gaji ibu untuk uang sekolah anak. Masalahnya apakah ini adil? Apakah keadilan itu adalah pembagian tanggung jawab 50:50, ataukah keadilan itu proporsional berdasarkan gaji? jadi misal gaji suami 10 juta sedangkan gaji istri hanya 5 juta, maka perbandingan tanggung jawabnya juga kira-kira 2:1? Ternyata tidak sesederhana itu bukan?

Kalau dalam kondisi hubungan rumah tangga yang baik-baik saja, memang pembagian tanggung jawab biasanya tidak jadi masalah, tetapi begitu ada problem, misalnya katakanlah ada kecemburuan atau kecurigaan salah satu pihak dekat dengan orang ketiga (bahkan walaupun kecurigaan itu tidak beralasan), maka masalah uang selalu akan dikaitkan dan diungkit-ungkit.

Juga jika salah satu pihak memberi kepada keluarga besar (sedangkan yang lain tidak) misalnya, atau dipandang menghamburkan uang, maka pemisahan keuangan selalu akan menjadi problem besar di rumah tangga.

Memisahkan gaji di satu pihak benar mengurangi resiko, terlebih lagi jika ternyata salah satu dari pasangan (dan memang biasanya pria, walau tidak selalu) berkhianat, atau memang predator yang hanya ingin memanfaatkan pasangannya. Tetapi harga yang harus dibayar cukup mahal, karena pemisahan gaji merupakan salah satu bahan bakar konflik yang sering terjadi dalam pernikahan.

Maka beberapa pemikiran yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh para pasutri (atau calon pasutri):

  1. Jangan menikah dengan orang yang tidak bisa Anda percaya. Menikahlah dengan orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Anda dan Anda pun sukarela menyerahkan diri Anda sepenuhnya padanya. Maka setelah menikah, Anda bisa menggabungkan penghasilan Anda dan menghilangkan potensi konflik karena masalah uang.
  2. Pikirkan opsi untuk memisahkan keuangan sebagai sementara, sampai Anda dan pasangan bisa saling percaya sepenuhnya. Tetapi kalau Anda berdua tidak pernah sampai bisa saling percaya sepenuhnya satu dengan yang lain, lebih baik segera mencari bantuan profesional, karena tiang yang menopang rumah tangga Anda terancam.
  3. Bagi Anda yang karena satu dan lain hal tetap memutuskan untuk memisahkan penghasilan, Anda berdua tetap harus punya prinsip transparansi satu sama lain dalam pemasukan dan pengeluaran, serta mendiskusikan dengan teliti dan seksama akan pengeluaran keluarga dan pembagian tanggung jawab masing-masing.

 

Semoga cukup membantu

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Marriage coach & counselor, life coach, founder Pembelajar Hidup, penulis buku, narasumber berbagai media online, cetak dan TV.
Bagikan:
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Bagaimana pendapat Anda?