Apa Pentingnya Pria Duluan Nembak Wanita?

diam-diam menyukai pria

Seorang wanita, sebut saja namanya Rita, pernah mengirim email kepada kami, katanya “bagaimana sih caranya mengejar pria yang pemalu?”

Waktu membaca pertanyaan Rita, saya sedikit tersenyum, namun menghargai keterusterangan dia.

Terbayang dalam pikiran saya, si gadis sedang menyukai seorang pria. Sialnya, si pria ternyata agak malu-malu kucing. Ya sedikit lebih baiklah dari pada malu-maluin 😀 Tapi celakanya, karena pemalu, kalaupun sang pria tertarik pada Rita, ia tetap tidak melakukan pendekatan apa pun kepada Rita. Tidak tahu sudah berapa lama perasaan itu dipendam Rita, apakah harus menunggu seumur hidup? (lebay.com) Hati Rita mungkin sudah lama ingin meledak dan menyatakan cinta pada si pria, ya tapi kan sulit, karena Rita wanita. Atau jangan-jangan memang benar si pria tidak tertarik pada Rita.

Nah dalam situasi seperti ini, pertanyaan jadi muncul; bagaimana ya sebagai wanita, apakah boleh melakukan inisiatif duluan?

Sebagai informasi, banyak pria justru melakukan pendekatan karena sinyal-sinyal dari si wanita. Jadi, kalau sang gadis memberikan perhatian, helpful, ramah, itu bisa jadi pesona yang luar biasa sekalipun apabila tidak memiliki wajah dan body artis. Hanya saja kalau sampai ketahuan atau terlalu menyolok sebelum waktunya, sang pria bisa ilfil alias ilang feeling. Katanya sih, pedekate wanita harus jinak-jinak merpati. Jadi mencoba menunjukkan perhatian yang lebih, tetapi jangan jual murah. Biarkan sang pria menduga-duga arti perhatian tersebut dan diharapkan akhirnya si pria datang menghampiri kemudian mengejar si gadis.

Saya bukanlah ahli dalam memikat gadis. Lagipula saya ditolak dulu 5x sebelum akhirnya saya berhasil memikat hati gadis pujaan saya. Tapi ada hal penting yang perlu dibagikan di sini, yaitu: Wanita sebaiknya TIDAK menyatakan cinta duluan kepada si pria.

Wanita sebaiknya TIDAK menyatakan cinta duluan kepada si pria.

WHY?

Untuk menjawab ini, kita perlu back to basic principles about marriage. Pria dan wanita sederajat tapi tidak memiliki role/peran yang sama dalam pernikahan. Tugas pria adalah sebagai kepala keluarga dan juga pelindung keluarga. Pelindung di sini punya arti melindungi dari ancaman-ancaman secara fisik dan juga melindungi keamanan secara finansial keluarga.

Untuk dapat memimpin keluarga dengan baik, seorang pria membutuhkan harga diri. Harga diri ini dimiliki kalau si pria merasa bahwa dirinyalah yang berinisiatif membentuk keluarga tersebut. Ini berarti dimulai dari inisiatif untuk pria duluan mengejar wanita, dan kemudia ia duluan yang  ‘nembak’ wanita yang kelak akan menjadi istrinya itu.

Bayangkan kalau sang pria tidak diberikan kesempatan untuk memperjuangkan seseorang yang nanti menjadi istrinya itu. Sedikit perjuangan, sedikit pula hal yang akan dilakukan untuk mempertahankan. Uang yang diperoleh secara gampang, akan dengan mudah difoya-foyakan, tetapi uang yang diperoleh dengan susah payah akan ditabung, diinvestasikan, digunakan dengan bijaksana.

Begitu pula dengan hubungan antara suami dan istri. Pria yang punya tanggung jawab memimpin dan melindungi wanita, harus duluan mengejar dan duluan juga menyatakan cinta. Pria perlu merasa berhasil menaklukan hati wanita, dan dia perlu berani berjuang untuk mendapatkan hati wanita yang diinginkannya dan berani menyatakannya kepada si wanita, juga kepada khalayak umum, sekalipun punya resiko ditolak, sekalipun punya resiko dipermalukan, sekalipun punya resiko dikalahkan oleh pesaingnya. Hal ini diperlukan kelak dalam pernikahan di mana seorang suami harus punya keberanian melindungi keluarganya. Ia harus merasa bahwa orang yang telah susah-susah dikejarnya harus dilindungi baik-baik.

Pernikahan kelak tidaklah mudah, karena itu harus dipersiapkan sejak pertama menjalin hubungan.

Bagaimana pendapat Anda?