5 Tantangan Menikahi Wanita yang Jauh Lebih Tua

wanita jauh lebih tua

Setelah kemarin saya membahas tentang 4 pertimbangan dalam menikahan pria yang jauh lebih tua (seperti Lee Dong Wok dan Bae Suzy), sekarang bagaimana kalau sebaliknya? Wanita yang jauh lebih tua, apa saja tantangannya?

Baca juga: Baper Lihat Quotes Tentang Cinta di Hari Valentine

Saya menemukan ada 5 tantangan menikahi istri yang jauh lebih tua yaitu:

  1. Pembicaraan negatif dari keluarga dan teman
  2. Perbedaan fase hidup yang memicu konflik
  3. Tantangan wanita yang lebih dominan
  4. Kecantikan fisik yang lebih cepat pudar
  5. Masalah seks (salah satu penyebab utama pertengkaran rumah tangga)

 gosip pasangan beda usia jauh

Pembicaraan Negatif dari Keluarga dan Teman

Sama seperti bila menikahi pria yang jauh lebih tua, semakin jauh perbedaan usia suami dan istri akan semakin menjadi pergunjingan di lingkungan keluarga dan teman. Terutama karena istri yang lebih tua daripada suami itu bukan sesuatu hal yang biasa ditemui sehari-hari, dan kelihatan freak atau menabrak norma (sekalipun norma yang mana juga kalau ditanya masyarakat tidak bisa menunjukkan). Saya sendiri pernah jatuh cinta dengan wanita yang lebih tua 3 tahun, dan itu sudah membuat heboh kakak-kakak saya sampai mereka menasehati saya dengan macam-macam petuah.

Di sini saya tidak berusaha melarang siapa pun untuk berpacaran dan berkeluarga dengan siapa pun yang lebih tua (jauh), namun pasangan BUH (Beda Usia Jauh) harus siap dengan pergunjingan-pergunjingan tersebut.

Bicara tentang gunjing-menggunjing, tentu saja kesalahan bukan pada orang yang digunjingkan, tetapi pada orang yang menggunjingkan. Maka ada pepatah mengatakan, “Anjing menggonggong kafilah berlalu”. Jadi kalau memang Anda berdua tulus saling mencintai dan bukan ketertarikan yang palsu “ada udang di balik batu” maka why not? “Biarkan saja dan sebodo dengan pendapat orang lain, yang menjalankannya saya kok, bukan dia”

Bagaimana pun Anda berdua tidak bisa hidup tanpa orang lain, maka resiko pergunjingan ini harus dihadapi dan disikapi dengan bijaksana.

 

Perbedaan Fase Hidup yang Memicu Konflik

Suatu penelitian menyatakan bahwa semakin besar perbedaan usia pasangan, maka semakin besar pula kemungkinan untuk bercerai.

  • Perbedaan usia  20 tahun antara suami dan istri, memiliki kemungkinan 95% untuk bercerai
  • Perbedaan usia 10 tahun, kemungkinan 40% bercerai
  • Perbedaan usia 5 tahun, resiko perceraian hanya 15% saja

Apa penyebabnya?

Menurut teori psikologi perkembangan Erik Erikson, manusia mengalami 8 tahap perkembangan yang masing-masing tahap memiliki pergumulannya tersendiri, yaitu:

psikologi perkembangan

  1. 0 – 18 bulan, Infancy
  2. 18 bulan – 3 tahun, Early Childhood
  3. 3 – 5 tahun, Preschooler
  4. 6 – 12 tahun, School Age
  5. 12 – 18 tahun, Adolescent
  6. 19 – 35 tahun, Young Adult
  7. 36 – 65 tahun, Middle Age Adult
  8. 65 – Meninggal, Late Adult/Maturity

Perbedaan usia yang jauh memiliki kemungkinan besar suami dan istri menjalani tahapan yang berbeda. Contohnya Julianne Moore dan Bart Freundlich. Pada saat mereka menikah tahun 2003, Moore berusia 43 tahun dan Freundlich 33. Moore berada pada tahap Middle Age Adult yang sedang mengalami pergumulan untuk berkontribusi kepada dunia, sedangkan Freundlich masih di Young Adult, tahap pencarian keintiman dan cinta.

Perbedaan ini merupakan potensi permasalahan dalam hubungan cinta. Semakin jauh umurnya, semakin kentara perbedaan perkembangan psikologis keduanya.

Selain itu secara natural wanita secara psikologis bertumbuh lebih cepat daripada pria, jadi kalau wanita lebih tua, membutuhkan usaha yang lebih kuat dari kedua belah pihak untuk saling mengerti satu sama lain dan beradaptasi. Terlebih lagi banyak pria cenderung masih memiliki sisi kanak-kanak sekalipun sudah dewasa. Untuk pria-pria seperti ini yang serius menjalin hubungan dengan wanita yang lebih dewasa sebaiknya belajar untuk bertumbuh lebih cepat dan mengambil tanggung jawab, sehingga dapat mengimbangi pertumbuhan psikologis dari pasangannya.

Pasangan BUH dapat berhasil, apabila mereka mampu mengembangkan persahabatan, tabungan cinta, dan menjalani visi bersama. Ini berarti menyadari perbedaan psikologis yang ada karena umur tadi, dan menghargainya sebagai kondisi, dan kenyataan yang dimiliki oleh pasangan masing-masing.

 

 

Tantangan Wanita yang Lebih Dominan

Sebagai orang Asia, kita lebih mendengarkan dan menghormati yang lebih tua, maka ada kecenderungan juga bagi wanita yang lebih tua untuk mendominasi dan memimpin pasangannya yang lebih muda. Hal ini merupakan potensi konflik dalam rumah tangga karena secara natural pria mempunyai harga diri yang membuat dirinya enggan untuk didominasi wanita.

Pria juga diberikan Tuhan perlengkapan secara fisik dan psikologis untuk menjadi kepala keluarga, yaitu berperan sebagai pelindung dan decision maker dalam keluarga. Hal ini penting karena adanya data yang menyebutkan bahwa 2/3 dari pria homoseksual merasa ibunya lebih dominan dari bapaknya.  Suatu penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara ibu yang dominan dengan pola homoseksual pada anak. Jadi apabila memang ingin menikahi wanita yang lebih tua, dibutuhkan kerendahhatian dari sang wanita yang jauh lebih tua untuk menundukkan diri pada pimpinan sang suami.

 

Kecantikan Fisik yang Lebih Cepat Pudar

Wanita lebih cepat tua daripada pria. Umur kecantikan wanita sangat terbatas, dan kecantikan wanita lebih cepat pudar setelah melahirkan anak. Kecantikan wanita berangsur-angsur akan semakin sirna di atas usia 35, tetapi sebaliknya banyak pria yang semakin memikat hati wanita di usia mapan 40.

Jadi misalnya istri lebih tua 5 tahun dari suami, saat suami berusia 40 dan terlihat sangat gagah, maka sang istri sudah berusia 45 dan akan terlihat jauh lebih tua dari sang suami. Tentu saja pandangan orang lain tidak semestinya menjadi halangan bagi kedua insan yang memang tulus saling mencintai, tetapi keduanya perlu bersiap dan menguatkan tekad sehingga bisa menghadapi permasalahan ini di kemudian hari.

Sang suami harus bisa menerima kalau si istri sangat cepat menjadi tua mengingat usianya yang lebih tua. Sang istri juga perlu merawat diri supaya lebih “awet muda” untuk pasangannya.

menjaga kecantikan

Masalah Seks

Gairah seksual pria dapat terus menyala sampai tua, bahkan sampai ajal menjemput. Sedangkan gairah seksual wanita ada batasnya. Setelah menopause, gairah seksual wanita akan semakin menurun sebagai akibat dari rendahnya hormon estrogen dalam tubuh. Menopause juga dapat mengakibatkan kekeringan pada (maaf) vagina wanita.

Sehubungan dengan hal tersebut, banyak wanita emoh melakukan hubungan intim setelah menopause (rata-rata usia 45-55 tahun). Kita berandai-andai begini: pria umur 30 menikah dengan wanita usia 27 (lebih muda 3 tahun), maka si pria dapat menikmati hubungan seksual dengan istrinya selama 18-28 tahun, sampai usia istrinya kira-kira antara 45-55 tahun. Namun bila si pria berusia 30 tahun menikah dengan istri yang berumur 40 tahun misalnya, maka dia hanya dapat menikmati hubungan intim selama 5 s/d 15 tahun saja. Ini juga dapat merupakan potensi konflik dalam pernikahan anda kelak. Terlebih lagi di usia 40 tahun, merupakan usia puber kedua bagi pria dan wanita. Apabila saat sang suami berada pada usia puber tersebut sang istri sudah menopause, godaan untuk mencari WIL sedang kuat-kuatnya, tapi istri tidak bisa melayani suaminya lagi, tentu ini benar-benar ujian bagi keluarga tersebut.

Beruntung saat ini sudah ditemukan pelumas (lubricant) untuk hubungan intim. Pelumas yang sudah tersedia di apotik/toko obat ini seharusnya dapat membantu pasangan yang ingin melakukan hubungan seksual namun sang istri sudah menopause.

wanita jauh lebih tua

Kesimpulannya, memang menikahi wanita yang lebih tua merupakan tantangan yang tidak mudah, namun bukan berarti tidak ada kesempatan atau tidak boleh. Saya yakin banyak pasangan yang istrinya lebih tua namun berhasil mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga mereka dengan baik.

Perlu ditambahkan bahwa semakin jauh perbedaan umur di antara mereka semakin berat tantangan yang dihadapi, maka saya pribadi menyarankan idealnya usia istri sebaiknya tidak lebih dari 5 tahun lebih tua dari suami. Di atas beda umur tersebut, potensi konflik internal rumah tangga dan juga tekanan sosial dapat menjadi begitu sulit untuk dihadapi. Selain itu, kedua belah pihak perlu benar-benar menguji dirinya sendiri dan pasangannya apakah itu benar-benar cinta, ataukah itu merupakan suatu kebutuhan dicintai oleh ibu (atau anak) nya sendiri (cinta dalam hubungan keluarga, bukan dalam hubungan suami-istri). Atau yang terburuknya adalah saling memanfaatkan, bukan cinta.

 

Saya Deny Hen, salam pembelajar!

 

Baca juga: 4 Tantangan Menikahi Pria yang Jauh Lebih Tua (seperti Bae Suzy dengan Lee Dong Wok)

 

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Founder Pembelajar Hidup, Life Coach - Marriage Coach di Jakarta. Pembicara seminar di berbagai kota di Indonesia, termasuk menjadi narasumber talkshow di stasiun TV BeritaSatu dan Tabloid Nova.
Bagikan:
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares

Anda pun dapat bertanya kepada kami seputar masalah cinta/relasi/pasutri dan parenting! Isilah form berikut ini:

  1. Kami tidak akan pernah memberikan data pribadi Anda kepada pihak ketiga lain.
  2. Keputusan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan Anda sepenuhnya berada pada Pembelajar Hidup. Kami mengambil keputusan berdasarkan relevansi, kesesuaian pada misi kami serta pada kompetensi kami.
  3. Mengingat kesibukan kami, kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan Anda dengan segera.

10 checklist persiapan diri untuk menikah

Bagaimana pendapat Anda?