4 Alasan Utama Perceraian di Indonesia

alasan perceraian

Apakah alasan utama penyebab perceraian di Indonesia? Data dari Merdeka.com pada tahun 2016 dapat kita lihat di bawah ini:

Alasan utama perceraian di indonesia

4 alasan utama pasangan di Indonesia bercerai adalah:

  1. Hubungan sudah tidak harmonis
  2. Tidak ada tanggung jawab
  3. Kehadiran pihak ketiga (perselingkuhan)
  4. Persoalan ekonomi

 

Baca juga: Belajar dari Kasus Perceraian Ahok – Vero, Inilah 4 Tanda Kiamat Pernikahan yang Harus Diwaspadai

Data ini membantah pendapat bahwa masalah uang/ekonomi adalah penyebab no 1 perceraian di Indonesia, setidaknya berdasarkan survey Merdeka.com tahun 2016 di atas.

Ada 3 hal yang yang menarik sehubungan 4 alasan utama di atas:

1. Tidak benar bahwa selingkuh adalah penyebab utama perceraian. Pada umumnya bibit perceraian sudah terjadi bahkan jauh sebelum perselingkuhan di mulai. Hubungan yang menjadi dingin, loveless marriage yang biasanya muncul berbarengan dengan sexless marriage, adalah salah satu penyebab utama perselingkuhan.

Perlu diketahui bahwa setiap kita, pria maupun wanita memiliki kebutuhan emosional. Pada umumnya pria membutuhkan hubungan intim, sedangkan wanita membutuhkan kasih sayang. Kegagalan memenuhi 2 kebutuhan utama ini berpotensi besar mengakibatkan perselingkuhan.

Ini bukan berarti membenarkan atau mencari dalih atas kesalahan yang dilakukan. Selingkuh tetap salah apapun juga alasannya. Namun banyak perselingkuhan bisa dicegah kalau kedua pihak mau berjuang dan memprioritaskan pernikahan mereka, lebih daripada pekerjaan bahkan keluarga besar mereka.

uang alasan perceraian

2. Masalah uang merupakan penyebab no 1 pertengkaran keluarga (menurut penelitian di Australia) , tidak peduli apakah rumah tangga itu miskin atau crazy rich. Ini tepat seperti becandaan sesepuh saya:

  • Orang miskin berantem soal “Besok apa kita makan?”
  • Orang menengah berantem soal “Besok makan apa?”
  • Orang kaya berantem soal “Besok makan siapa?”

3. Karena masalah keharmonisan rumah tangga adalah penyebab utama perceraian di Indonesia, sudah saatnyalah kita mulai aware dan memperhatikan pernikahan kita sendiri.

Itulah sebabnya kami di pembelajarhidup.com selalu mengajak calon pasutri dan pasutri yang sudah nikah untuk ikut kelas pernikahan kami, karena pendidikan pernikahan di Indonesia masih sangat kurang, sedangkan jumlah perceraian meningkat secara signifikan setiap tahun (15x lipat melebihi peningkatan jumlah pernikahan).

Masalahnya biasanya kita menunggu masalah tidak dapat kita atasi lagi baru datang mencari bantuan. Sayangnya seringkali sudah terlambat. Namanya cinta, kalau apinya sudah padam sulit sekali untuk dinyalakan kembali (walau bukan berarti tidak bisa).

Investasi di sekolah pernikahan itu seperti asuransi, karena membantu mencegah problem dalam rumah tangga menjadi terlalu sulit untuk diatasi di kemudian hari.

Kapan kesempatan terbaik untuk mengikuti sekolah pernikahan? Jawabannya adalah saat ini, saat cinta masih menggebu-gebu, sebelum api cinta padam, selama masih ada semangat dan harapan untuk memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia.

Semoga kita tidak hanya berwacana dan berdiskusi tentang penyebab perceraian, tetapi juga aktif preventif mencegah bibit perceraian hadir dalam pernikahan kita.

Note: keterangan mengenai sekolah pernikahan dapat dibaca di sini: Marriage Academy

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Founder Pembelajar Hidup, Life Coach - Marriage Coach di Jakarta. Pembicara seminar di berbagai kota di Indonesia, di antaranya menjadi narasumber talkshow di stasiun TV BeritaSatu dan Tabloid Nova.
Bagikan:
  • 8
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares

Anda pun dapat bertanya kepada kami seputar masalah cinta/relasi/pasutri dan parenting! Isilah form berikut ini:

  1. Kami tidak akan pernah memberikan data pribadi Anda kepada pihak ketiga lain.
  2. Keputusan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan Anda sepenuhnya berada pada Pembelajar Hidup. Kami mengambil keputusan berdasarkan relevansi, kesesuaian pada misi kami serta pada kompetensi kami.
  3. Mengingat kesibukan kami, kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan Anda dengan segera.

Bagaimana pendapat Anda?