Mitos 1: Minat yang Sama Mempertahankan Pernikahan

      “Saya suka sekali nonton TV, dulu waktu RCTI sedang jaya-jayanya saya melahap semuanya. McGyver, The Flash, Knight Rider, Star Trek, Quantum Leap adalah beberapa film favorit saya. Setelah besar aku ketemu dengan Lily. Ia juga ternyata suka nonton TV terutama science fiction (persis seperti apa yang saya suka!) kami saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Pada awal-awal pernikahan kami, hari-hari kami diisi dengan nonton bersama sambil berangkulan manja. Namun setelah beberapa tahun, ia berubah. Ia menjadi suka sekali dengan drama Korea. Drama korea penuh dengan pria metroseksual, sama sekali tidak kusukai! Kami hampir ribut karena rebutan nonton TV. Akhirnya saya nonton di tablet saya dan ia pun nonton di tabletnya. Ia nonton di kamar sedang saya di ruang tamu. Kami berhenti berbicara….”

Familiar dengan kisah di atas? Mungkin minat Anda dan pasangan bukan nonton TV, tetapi traveling, kuliner, blogging, programming, atau sejumlah minat dan hobi keren lainnya. Tetapi ceritanya bisa jadi mirip. Kegembiraan karena menemukan belahan jiwa yang memiliki minat yang sama kok ternyata belum tentu terus bertahan. Hal ini terjadi karena meskipun minat yang sama membantu membangun hubungan secara natural, tetapi hal ini TIDAK cukup.

Baca juga: Bagaimana Aku Tahu Dia Suka Padaku?

Ada 3 masalah yang mungkin timbul dari minat yang sama dengan pasangan, yaitu:

A. Minat sama, tapi cara melakukannya berbeda

hobi travelling
ilustrasi: freepik.com

“Gw suka traveling. Kalau bisa pergi ke tempat-tempat eksotis itu rasanya bebas dan gw bisa refleksi diri. ” demikian kata Kevin, pecinta travelling yang sering pergi backpacker ke manca negara.

Tapi istrinya, Susi “Gw juga suka travelling, tapi masak ke mana-mana harus backpacker? Ada waktunya juga dong untuk bersenang-senang, gak repot-repot cari kendaraanlah, jalan jauhlah… tapi menikmati layanan exclusive di hotel dan mendapatkan makanan yang paling enak di tempat wisata… toh duit gw punya kok”

Hal seperti ini kadang terjadi, di mana kedua insan yang jatuh cinta punya minat yang sama, tetapi ternyata prinsip yang mendasarinya berbeda. Sehingga cara melakukannya pun beda. Tempat tujuan wisatanya (atau tempat mengerjakan kegemaran yang lain) bisa beda. Preferensi kegiatannya bisa beda. Contoh pada kisah ilustrasi sebelumnya, Lily dan suaminya mempunyai minat sama-sama nonton, tapi yang satu suka nonton action, science fiction, sedangkan Lily sukanya drama romantis.

Sewaktu pacaran mungkin keduanya mau mengalah demi cinta. Tetapi pada waktu kedua pribadi yang unik itu menikah, kondisinya sudah berbeda. Waktu pacaran, kekasih kita mungkin belum menyentuh tempat “safe haven” kita, tempat kenyamanan kita, atau kalau Superman itu punya fortress of solitude. Kita masih punya tempat dan waktu sendiri karena pasangan kita belum tinggal satu rumah, satu kamar, satu ranjang dengan kita.

Waktu menikah, kita tidak sendiri lagi, termasuk tempat pribadi kita (kamar) dan waktu kita pun semua menjadi sharing, alias saling berbagi. Sedangkan hal-hal yang menjadi minat seseorang itu justru seringkali menuntut “kesempurnaan” dalam cara melakukannya. Itu sudah seperti “ritual” yang harus dijalankan bagi seseorang. Kevin misalnya dalam kisah di atas menuntut travelling itu harus backpacker. Karena justru itu indahnya travelling. Tapi bagi Susi lain, dia travelling sebagai pemuasan diri setelah lelah letih bekerja keras di kantor setiap harinya. Kalau sudah seperti ini, minat menjadi potensi pertengkaran, bukan lagi menjadi pemersatu dan pembangun hubungan.

ilustrasi: freepik.com

B. Minat sama, tapi minat bisa berubah

Umur orang tua kita bertambah, dari waktu kita kecil mereka terlihat begitu bugar dan kuat, pandai dan hebat. Tetapi waktu kita dewasa kita menemukan orang tua kita semakin lemah, sakit-sakitan dan mulai pelupa. Seringkali kita melupakan bahwa istri/suami kita, dan bahkan kita sendiri sedang mengalami perubahan yang sama.

Hobi dan minat kita juga termasuk ke dalam perubahan itu. Waktu kita menikah, kondisi mulai berbeda, dan saat anak pertama kita lahir, situasi rumah jadi berubah. Tiba-tiba kita pindah dari fase “suami-istri” menjadi “orang tua”. Banyak adaptasi yang harus dilakukan. Dan kita maupun pasangan kita mengalami perubahan pemikiran, motivasi, termasuk keinginan dan juga minat kita.

Kita jelas membutuhkan sesuatu yang lain selain HOBI untuk bisa mempertahankan keharmonisan rumah tangga dan kelanggengan keluarga kita. Kita butuh “skill” dalam menjalin hubungan sebagai suami dan istri.

C. Minat sama, tapi kurang ‘skill’ untuk hubungan suami-istri

Ternyata tidak cukup hanya minat yang sama, hobi yang sama ataupun kegemaran yang sama. Kita harus mempelajari skil-skil yang dibutuhkan agar pernikahan kita berjalan smooth. Memang mempunyai kegemaran/hobi yang sama dengan pasangan dapat membantu karena memberikan kesempatan bagi pasangan untuk bisa berinteraksi, diskusi dan bersahabat dengan pasangan, namun masih diperlukan berbagai hal yang lain untuk pernikahan yang sehat.

Baca juga: Apakah Dia Benar-Benar Mencintai Saya?

Tidak ada pernikahan yang bisa auto-pilot. Pada prinsipnya rumah tangga bahagia itu merupakan hal yang bisa dimiliki oleh semua orang yang menikah, tetapi untuk mencapai hal tersebut butuh perjuangan dan kita harus mau (terutama para pria) merendahkan diri dan belajar cara menjalin hubungan dengan istri/suami dengan baik. Kita perlu belajar cara bicara yang menyenangkan, cara berantem yang elegan, dan cara bercinta yang memabukkan.

Itulah salah satu tujuan saya mendirikan Pembelajar Hidup. Kami ingin membantu para pasangan untuk meningkatkan hubungan mereka melalui online life learning (beneran loh: ONLINE! jadi tidak mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari Anda) juga melalui Marriage coaching.

 

Maka hubungan Carl Fredricksen dan Ellie dalam film “UP” memang sangat indah dan mengharukan, tetapi mereka memiliki lebih dari sekedar minat yang sama sehingga mampu bertahan, sampai jauh setelah maut memisahkan mereka.

 

Kembali ke 5 Mitos Pernikahan yang Penting untuk Anda Ketahui.

The following two tabs change content below.
mm

Deny Hen

Seorang Pembelajar Hidup, Professional Life Coach, dosen, dan penulis, yang berkesempatan mengecap pendidikan dari Dr. James Dobson School of Marriage & Family
Bagikan:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Anda pun dapat bertanya kepada kami seputar masalah cinta/relasi/pasutri dan parenting! Isilah form berikut ini:

  1. Kami tidak akan pernah memberikan data pribadi Anda kepada pihak ketiga lain.
  2. Keputusan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan Anda sepenuhnya berada pada Pembelajar Hidup. Kami mengambil keputusan berdasarkan relevansi, kesesuaian pada misi kami serta pada kompetensi kami.
  3. Mengingat kesibukan kami, kami mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan Anda dengan segera.

seminar online how not to be an instant parent

Bagaimana pendapat Anda?